Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 325
(1-357)
Wahai engkau dan wahai diriku, engkau bisa menjadi hewan yang paling rendah, hina, dan lemah atau menjadi yang paling mulia dan sempurna di antara spesiesnya. Pilihlah sesukamu. Apabila demikian adanya, kenali kelemahan dan kepapahanmu. Ketahuilah bahwa qudrat dan kekuasaanmu dalam berdoa dan menangis berada pada Pemilikmu.
Selanjutnya ciptaan manusia yang kau banggakan berasal dari jejak ilham, kreasi, dan anugerah-Nya agar denganmu terkumpul sejumlah spesies yang berbeda-beda guna memperlihatkan keindahan yang asing, menghadirkan tulisan menakjubkan, menampilkan sejumlah ciptaannya yang beragam, dan membuatnya bisa merasakan tingkatan nikmat-Nya yang berasal dari pencampuran berbagai nikmat lewat rekayasa manusia.
Ketahuilah![1] Wahai yang bingung menerima berbagai riwayat berbeda di sekitar permasalahan seperti al-Mahdi, kedekatan kiamat, dan sejumlah peristiwa masa depan. Apakah engkau menghendaki keimanan yang mantap pada setiap persoalan? Bahkan dalam berbagai persoalan cabang yang bukan termasuk pokok keyakinan, di mana semestinya ia cukup dengan penerimaan biasa tanpa ada penolakan.
Tidakkah engkau mengetahui bahwa sejumlah informasi yang masih abu-abu dalam Alquran di samping membutuhkan takwil juga perlu ditafsirkan?! Jika sebuah riwayat berbeda dengan realitas—menurut pandangan lahiriahmu—bisa jadi ia termasuk israiliyyat, termasuk ucapan para perawi, termasuk kesimpulan pihak yang menyampaikannya, termasuk penyingkapan makna oleh para wali ahli hadits yang butuh penjelasan, atau termasuk informasi yang sudah sama-sama pernah didengar di antara manusia di mana Nabi saw menyebutkannya bukan untuk disampaikan tetapi untuk menyertai tradisi yang ada. Yang harus dilakukan oleh pembaca adalah tidak membatasi pandangan pada sisi lahiriah. Namun, ia harus ditakwil dengan ilustrasi kiasan yang dimaksudkan untuk memberikan petunjuk. Atau, ditafsirkan dengan satu uraian seperti penjelasan orang tidur di saat tidur mengenai apa yang disaksikan oleh orang yang terjaga di saat terjaga. Sebagaimana engkau wahai orang yang terjaga mengungkapkan mimpi orang yang tidur, jika mampu ungkapkan pula wahai yang sedang tidur dalam kelalaian hidup ini apa yang dilihat oleh orang yang sedang terjaga di mana kalbunya tidak tidur sebagai wujud dari firman-Nya, “Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihat dan tidak (pula) melampauinya.”
Kemudian hikmah tidak disebutkannya secara jelas ajal dan kematian seseorang agar ia selalu menantikannya dan bersia-siap untuk akhirat. Inilah mengapa pula kiamat yang merupakan kematian dunia disembunyikan agar seluruh manusia menantikannya.
------------------------------------------
[1] Engkau bisa melihat penjelasan mengenai bahasan ini pada kata kedua puluh empat, dahan ketiga.
Selanjutnya ciptaan manusia yang kau banggakan berasal dari jejak ilham, kreasi, dan anugerah-Nya agar denganmu terkumpul sejumlah spesies yang berbeda-beda guna memperlihatkan keindahan yang asing, menghadirkan tulisan menakjubkan, menampilkan sejumlah ciptaannya yang beragam, dan membuatnya bisa merasakan tingkatan nikmat-Nya yang berasal dari pencampuran berbagai nikmat lewat rekayasa manusia.
Ketahuilah![1] Wahai yang bingung menerima berbagai riwayat berbeda di sekitar permasalahan seperti al-Mahdi, kedekatan kiamat, dan sejumlah peristiwa masa depan. Apakah engkau menghendaki keimanan yang mantap pada setiap persoalan? Bahkan dalam berbagai persoalan cabang yang bukan termasuk pokok keyakinan, di mana semestinya ia cukup dengan penerimaan biasa tanpa ada penolakan.
Tidakkah engkau mengetahui bahwa sejumlah informasi yang masih abu-abu dalam Alquran di samping membutuhkan takwil juga perlu ditafsirkan?! Jika sebuah riwayat berbeda dengan realitas—menurut pandangan lahiriahmu—bisa jadi ia termasuk israiliyyat, termasuk ucapan para perawi, termasuk kesimpulan pihak yang menyampaikannya, termasuk penyingkapan makna oleh para wali ahli hadits yang butuh penjelasan, atau termasuk informasi yang sudah sama-sama pernah didengar di antara manusia di mana Nabi saw menyebutkannya bukan untuk disampaikan tetapi untuk menyertai tradisi yang ada. Yang harus dilakukan oleh pembaca adalah tidak membatasi pandangan pada sisi lahiriah. Namun, ia harus ditakwil dengan ilustrasi kiasan yang dimaksudkan untuk memberikan petunjuk. Atau, ditafsirkan dengan satu uraian seperti penjelasan orang tidur di saat tidur mengenai apa yang disaksikan oleh orang yang terjaga di saat terjaga. Sebagaimana engkau wahai orang yang terjaga mengungkapkan mimpi orang yang tidur, jika mampu ungkapkan pula wahai yang sedang tidur dalam kelalaian hidup ini apa yang dilihat oleh orang yang sedang terjaga di mana kalbunya tidak tidur sebagai wujud dari firman-Nya, “Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihat dan tidak (pula) melampauinya.”
Kemudian hikmah tidak disebutkannya secara jelas ajal dan kematian seseorang agar ia selalu menantikannya dan bersia-siap untuk akhirat. Inilah mengapa pula kiamat yang merupakan kematian dunia disembunyikan agar seluruh manusia menantikannya.
------------------------------------------
[1] Engkau bisa melihat penjelasan mengenai bahasan ini pada kata kedua puluh empat, dahan ketiga.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence