Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 322
(1-357)
“Dia yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari.”[1] Dia menghias langit dengan sejumlah lentera dan bumi dengan berbagai bunga. Bahkan, di antara ciptaan-Nya yang paling menakjubkan adalah manusia yang materinya berupa tanah kering seperti tembikar di mana ia pecah dan cepat musnah. Nilainya benar-benar kecil. Namun kreasi yang terdapat di dalamnya merupakan sesuatu yang agung yang nilainya jauh lebih tinggi dengan hitungan tak terhingga daripada nilai materinya. Hal itu karena dengan ukiran kreas-Nya manusia merupakan untaian rapi dari halusnya jejak manifestasi nama-nama-Nya yang mulia. Ia merupakan cermin wujud kilau mentari azali dan abadi.
Iman merupakan relasi yang menghubungan manusia dengan Pemiliknya. Sisi relasi tersebut mengarah kepada kreasi sehingga wilayah pandangan tertuju kepada ciptaan dan kreasi yang ada. Dengan iman, nilai manusia demikian naik sampai seharga sorga, lalu kedudukannya sebagai khalifah, dan membuatnya mampu memikul amanah. Adapun kekufuran ia adalah pemutus relasi dan hubungan tersebut. Ketika hubungan telah terputus, kreasi menjadi terhalang dan manifestasinya menjadi tersembunyi. Yang terlihat hanya materi. Cermin pun terbalik dan nilainya jatuh hingga ke jenjang di mana orang kafir ingin dirinya tiada atau berubah menjadi tanah.
Kesimpulannya, manusia ibarat mesin yang terdiri dari jutaan alat timbangan dan neraca pemahaman. Dengannya simpanan kekayaan Tuhan serta permata hazanah-Nya yang tersembunyi ditimbang. Bahkan di lisan saja terdapat sejumlah perangkat pengukur sebanyak jumlah makanan sehingga pemiliknya bisa merasakan aneka macam nikmat Tuhan.
Apabila yang mempergunakan mesin itu adalah orang yang amanah yang memiliki iman tentu ia akan menghasilkan sejumlah buah dan melahirkan sejumlah jejak di sisi Zat yang tidak linglung dan lupa.
Adapun ketika berada di tangan orang kafir ia seperti mesin mahal yang tak ada bandingannya yang dipakai oleh makhluk buas yang tidak mengenalnya. Ia mempergunakannya untuk melayani api hingga terbakar olehnya.
Wahai Zat yang di tangan-Nya tergenggam kerajaan segala sesuatu dan kunci perbendaharaan segala sesuatu, wahai Zat yang memegang ubun-ubun semua makhluk, wahai Zat yang di sisi-Nya terdapat kekayaan segala sesuatu, jangan engkau serahkan kami kepada diri kami. Kasihi kami dan terangi hati kami dengan cahaya iman dan Alquran.
Janji Allah adalah benar. Jangan engkau tertipu oleh kehidupan dunia serta jangan tertipu oleh makhluk penipu (setan).[2]
Ketahuilah[3] wahai yang mabuk, bodoh, lalai, dan sesat. Engkau terjerumus dalam sampah dunia serta ingin menyesatkan manusia dengan menggambarkan sampah tadi sebagai sumber kebahagiaan agar terasa ringan bagimu. Jika engkau bisa membalik empat hakikat berikut, maka berbuatlah sesukamu:
Pertama, kematian. Alih-alih bisa membaliknya, engkau malah menukar kematian yang bagi orang beriman sebagai bentuk perpindahan tempat menjadi peniadaan abadi.
--------------------------
[1] Q.S. al-A’raf: 54.
[2] Q.S. Luqman: 33.
[3] Kata kedelapan menjelaskan persoalan ini dengan perumpamaan yang tepat.
Iman merupakan relasi yang menghubungan manusia dengan Pemiliknya. Sisi relasi tersebut mengarah kepada kreasi sehingga wilayah pandangan tertuju kepada ciptaan dan kreasi yang ada. Dengan iman, nilai manusia demikian naik sampai seharga sorga, lalu kedudukannya sebagai khalifah, dan membuatnya mampu memikul amanah. Adapun kekufuran ia adalah pemutus relasi dan hubungan tersebut. Ketika hubungan telah terputus, kreasi menjadi terhalang dan manifestasinya menjadi tersembunyi. Yang terlihat hanya materi. Cermin pun terbalik dan nilainya jatuh hingga ke jenjang di mana orang kafir ingin dirinya tiada atau berubah menjadi tanah.
Kesimpulannya, manusia ibarat mesin yang terdiri dari jutaan alat timbangan dan neraca pemahaman. Dengannya simpanan kekayaan Tuhan serta permata hazanah-Nya yang tersembunyi ditimbang. Bahkan di lisan saja terdapat sejumlah perangkat pengukur sebanyak jumlah makanan sehingga pemiliknya bisa merasakan aneka macam nikmat Tuhan.
Apabila yang mempergunakan mesin itu adalah orang yang amanah yang memiliki iman tentu ia akan menghasilkan sejumlah buah dan melahirkan sejumlah jejak di sisi Zat yang tidak linglung dan lupa.
Adapun ketika berada di tangan orang kafir ia seperti mesin mahal yang tak ada bandingannya yang dipakai oleh makhluk buas yang tidak mengenalnya. Ia mempergunakannya untuk melayani api hingga terbakar olehnya.
Wahai Zat yang di tangan-Nya tergenggam kerajaan segala sesuatu dan kunci perbendaharaan segala sesuatu, wahai Zat yang memegang ubun-ubun semua makhluk, wahai Zat yang di sisi-Nya terdapat kekayaan segala sesuatu, jangan engkau serahkan kami kepada diri kami. Kasihi kami dan terangi hati kami dengan cahaya iman dan Alquran.
Janji Allah adalah benar. Jangan engkau tertipu oleh kehidupan dunia serta jangan tertipu oleh makhluk penipu (setan).[2]
Ketahuilah[3] wahai yang mabuk, bodoh, lalai, dan sesat. Engkau terjerumus dalam sampah dunia serta ingin menyesatkan manusia dengan menggambarkan sampah tadi sebagai sumber kebahagiaan agar terasa ringan bagimu. Jika engkau bisa membalik empat hakikat berikut, maka berbuatlah sesukamu:
Pertama, kematian. Alih-alih bisa membaliknya, engkau malah menukar kematian yang bagi orang beriman sebagai bentuk perpindahan tempat menjadi peniadaan abadi.
--------------------------
[1] Q.S. al-A’raf: 54.
[2] Q.S. Luqman: 33.
[3] Kata kedelapan menjelaskan persoalan ini dengan perumpamaan yang tepat.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence