Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 323
(1-357)
Kedua, ketidakmampuan dalam memenuhi berbagai kebutuhan dan musuh yang tak terhingga. Engkau merubah ketidakberdayaan yang mengantarkan kepada sikap bersandar kepada Zat Yang Mahakuasa menjadi ketidakberdayaan mutlak dalam kondisi sendiri tanpa mau bersandar kepada-Nya.
Ketiga, kefakiran. Engkau merubah kefakiran yang merupakan sarana untuk mengarah kepada hazanah kekayaan Zat Yang Mahakaya di mana kefakiran tadi laksana kartu undangan menjadi kefakiran yang gelap dan menyakitkan di mana ia semakin bertambah dengan semakin banyaknya noda peradaban materialis.
Keempat, kelenyapan. Sebab, lenyapnya kenikmatan merupakan derita. Tidak ada kebaikan dalam kenikmatan yang tak bertahan lama. Engkau merubah kelenyapan yang merupakan sarana untuk sampai kepada kenikmatan abadi jika disertai niat mulia menjadi sebuah kepedihan yang melahirkan derita dan dosa.
Orang yang senantiasa menantikan kematian, yang diliputi oleh ketidakberdayaan, dikuasai oleh kefakiran, dan sedang menempuh perjalanan, sesungguhnya hanya tertipu manakala ia sedang mabuk, sementara kondisi mabuk tersebut tidak abadi. Yang menyebutnya sebagai kebahagiaan hidup pada hakikatnya merupakan penderitaan. Ia menjadi kebahagiaan lahiri dengan syarat menolak atau melupakan kematian secara total, melenyapkan ketidakberdayaan, serta menghilangkan kefakiran.
Semoga Allah menyadarkan kita semua dari tidur kelalaian yang kalian duga sebagai kebangkitan dusta. Semoga Allah mengingatkan kita semua dari kegilaan mutlak yang kalian kira sebagai kecerdasaran cemerlang.
Ketahuilah! Lihat bagaimana Sang Pencipta Yang Mahakuasa memasukkan jutaan alam yang berasal dari berbagai jenis hewan dan tumbuhan ke permukaan bumi. Setiap alam ibarat lautan yang menjadi tetesan air yang siap bertugas. Misalnya tugas semut untuk membersihkan permukaan bumi dari jenazah hewan-hewan kecil. Tetesan tersebut menyelimuti permukaan bumi.
Di samping itu, air, udara, dan tanah terutama es ibarat tetesan yang menjadi lautan karena adanya kesamaan tugas, kesatuan urusan, dan penerimaan perintah yang tunggal. Keempat bagian itu seperti keseluruhan. Ia bisa dirasa, diketahui, dan memiliki tugas.
Berbagai alam yang tak terhingga itu bercampur dan semuanya menyatu. Padahal Sang Pencipta Yang Mahabijak membedakan masing-masing dari yang lain dengan karakteristik dan sifat-sifatnya yang khusus. Dia menampakkan puncak perbedaan tersebut pada puncak percampuran.
Misalnya Dia meletakkan dunia semut atau lalat di antara bagian-bagian alam makhluk hidup dengan proses penghadiran yang khusus lalu mengangkatnya dengan proses kematian yang khusus pula. Seolah-olah permukaan bumi merupakan tanah airnya saja. Kehidupan dan kematiannya yang khusus tidaklah rancu. Hubungan sebuah alam dengan seluruh alam di sekitarnya seperti bagusnya keteraturan pemeliharaan satu makhluk dengan pengurusan satu spesies. Sang Pencipta tidak disibukkan oleh yang satu dari yang lain.
Wahai yang matanya tertutup oleh alam materi dan kalbunya telah terkunci, jika engkau membayangkan alam materi sebagai mesin yang mencetak berarti alam materi tersebut pada setiap bagian tanah harus memiliki percetakan sempurna yang jumlahnya melebihi semua percetakan manusia.
Ketiga, kefakiran. Engkau merubah kefakiran yang merupakan sarana untuk mengarah kepada hazanah kekayaan Zat Yang Mahakaya di mana kefakiran tadi laksana kartu undangan menjadi kefakiran yang gelap dan menyakitkan di mana ia semakin bertambah dengan semakin banyaknya noda peradaban materialis.
Keempat, kelenyapan. Sebab, lenyapnya kenikmatan merupakan derita. Tidak ada kebaikan dalam kenikmatan yang tak bertahan lama. Engkau merubah kelenyapan yang merupakan sarana untuk sampai kepada kenikmatan abadi jika disertai niat mulia menjadi sebuah kepedihan yang melahirkan derita dan dosa.
Orang yang senantiasa menantikan kematian, yang diliputi oleh ketidakberdayaan, dikuasai oleh kefakiran, dan sedang menempuh perjalanan, sesungguhnya hanya tertipu manakala ia sedang mabuk, sementara kondisi mabuk tersebut tidak abadi. Yang menyebutnya sebagai kebahagiaan hidup pada hakikatnya merupakan penderitaan. Ia menjadi kebahagiaan lahiri dengan syarat menolak atau melupakan kematian secara total, melenyapkan ketidakberdayaan, serta menghilangkan kefakiran.
Semoga Allah menyadarkan kita semua dari tidur kelalaian yang kalian duga sebagai kebangkitan dusta. Semoga Allah mengingatkan kita semua dari kegilaan mutlak yang kalian kira sebagai kecerdasaran cemerlang.
Ketahuilah! Lihat bagaimana Sang Pencipta Yang Mahakuasa memasukkan jutaan alam yang berasal dari berbagai jenis hewan dan tumbuhan ke permukaan bumi. Setiap alam ibarat lautan yang menjadi tetesan air yang siap bertugas. Misalnya tugas semut untuk membersihkan permukaan bumi dari jenazah hewan-hewan kecil. Tetesan tersebut menyelimuti permukaan bumi.
Di samping itu, air, udara, dan tanah terutama es ibarat tetesan yang menjadi lautan karena adanya kesamaan tugas, kesatuan urusan, dan penerimaan perintah yang tunggal. Keempat bagian itu seperti keseluruhan. Ia bisa dirasa, diketahui, dan memiliki tugas.
Berbagai alam yang tak terhingga itu bercampur dan semuanya menyatu. Padahal Sang Pencipta Yang Mahabijak membedakan masing-masing dari yang lain dengan karakteristik dan sifat-sifatnya yang khusus. Dia menampakkan puncak perbedaan tersebut pada puncak percampuran.
Misalnya Dia meletakkan dunia semut atau lalat di antara bagian-bagian alam makhluk hidup dengan proses penghadiran yang khusus lalu mengangkatnya dengan proses kematian yang khusus pula. Seolah-olah permukaan bumi merupakan tanah airnya saja. Kehidupan dan kematiannya yang khusus tidaklah rancu. Hubungan sebuah alam dengan seluruh alam di sekitarnya seperti bagusnya keteraturan pemeliharaan satu makhluk dengan pengurusan satu spesies. Sang Pencipta tidak disibukkan oleh yang satu dari yang lain.
Wahai yang matanya tertutup oleh alam materi dan kalbunya telah terkunci, jika engkau membayangkan alam materi sebagai mesin yang mencetak berarti alam materi tersebut pada setiap bagian tanah harus memiliki percetakan sempurna yang jumlahnya melebihi semua percetakan manusia.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence