Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 319
(1-357)
Ketahuilah![1] Jika mau engkau bisa mereguk kemukjizatan yang terlimpah ke dalam kalbuku dari Alquran. Perhatikanlah bisikan yang tertuju ke dalam jiwaku dengan kalbu yang menyaksikan:
Wahai Said yang lalai bahkan terhadap diri dan kealpaannya!
Kelalaian, kekufuran, dan pengingkaran tumbuh di atas berbagai kemustahilan yang berantai tanpa batas. Pasalnya, apabila engkau melihat apapun, terutama makhluk hidup, kemudian engkau lalai lantaran tidak menisbatkannya kepada Allah Swt, berarti kemustahilan yang mengherankan ini telah memaksamu untuk menerima beragam tuhan sebanyak bagian-bagian tanah, udara, dan air. Bahkan sebanyak partikel dan susunannya. Lebih itu, sebanyak wujud manifestasi Allah. Andaikan ketiadaan penisbatan bisa dilakukan tentu asumsi keberadaannya tidak mustahil. Pasalnya, jika ia mustahil berarti tidak mungkin terjadi. Padahal, ia tidak hanya sebuah kemustahilan, namun merupakan bentuk kemustahilan yang tak terbatas.
Adanya keharusan akan keberadaan tuhan sebanyak bagian tanah adalah karena engkau mengetahui bahwa bagian tanah manapun yang kau lihat bisa ditempati untuk tumbuhan, pohon, bunga dan buah. Jika engkau menghendaki ’aynul yaqin penuhi potmu ini dengan tanah. Lalu, timbun di dalamnya benih pohon tin sampai tumbuh besar sebagai pohon yang berbuah. Setelah itu, cabutlah dan ganti dengan benih pohon delima. Lalu, ganti dengan benih pohon apel. Selanjutnya dengan pohon yang lain sampai akhirnya engkau bisa mendapatkan semua pohon dan buah. Engkau bisa melihat perbedaan antara masing-masing dalam hal perangkatnya yang tertata dan bentuknya yang seimbang.
Misalnya andaikan mesin ketentuan yang menyatu dalam benih pohon tin laksana pabrik yang membuat gula dari sejumlah tumbuhan, tentu mekanisme qudrat-Nya yang terdapat dalam benih delima seperti mesin yang merangkai sutera. Demikian pula dengan yang lain. Lalu, ganti benih buah dengan benih bunga secara satu persatu hingga engkau bisa mengetahui bagaimana benih mati tadi keluar menjadi sesuatu yang hidup, mengeluarkan bulir dan bunga.
Wahai pemilik pot, jika engkau lalai oleh aliran materialis sudah tentu untuk melestarikan kelalaianmu engkau harus menerima keberadaan pabrik maknawiyah sebanyak pohon dan mesin sebanyak jumlah bunga di potmu tersebut. Kalau rujukannya adalah alam materi berarti pada setiap bagian tanah bahkan pada setiap partikel alam materi itu harus memiliki percetakan yang tak terhingga. Benih dan partikel dari sisi materi dan bentuk serupa. Ia seberat kapas.
-------------------------
[1] Penjelasan tentang hal ini terdapat dalam “Kata Kedua puluh dua” terutama cahaya keempat dan kedelapan. Demikian pula dalam risalah “alam”.
Wahai Said yang lalai bahkan terhadap diri dan kealpaannya!
Kelalaian, kekufuran, dan pengingkaran tumbuh di atas berbagai kemustahilan yang berantai tanpa batas. Pasalnya, apabila engkau melihat apapun, terutama makhluk hidup, kemudian engkau lalai lantaran tidak menisbatkannya kepada Allah Swt, berarti kemustahilan yang mengherankan ini telah memaksamu untuk menerima beragam tuhan sebanyak bagian-bagian tanah, udara, dan air. Bahkan sebanyak partikel dan susunannya. Lebih itu, sebanyak wujud manifestasi Allah. Andaikan ketiadaan penisbatan bisa dilakukan tentu asumsi keberadaannya tidak mustahil. Pasalnya, jika ia mustahil berarti tidak mungkin terjadi. Padahal, ia tidak hanya sebuah kemustahilan, namun merupakan bentuk kemustahilan yang tak terbatas.
Adanya keharusan akan keberadaan tuhan sebanyak bagian tanah adalah karena engkau mengetahui bahwa bagian tanah manapun yang kau lihat bisa ditempati untuk tumbuhan, pohon, bunga dan buah. Jika engkau menghendaki ’aynul yaqin penuhi potmu ini dengan tanah. Lalu, timbun di dalamnya benih pohon tin sampai tumbuh besar sebagai pohon yang berbuah. Setelah itu, cabutlah dan ganti dengan benih pohon delima. Lalu, ganti dengan benih pohon apel. Selanjutnya dengan pohon yang lain sampai akhirnya engkau bisa mendapatkan semua pohon dan buah. Engkau bisa melihat perbedaan antara masing-masing dalam hal perangkatnya yang tertata dan bentuknya yang seimbang.
Misalnya andaikan mesin ketentuan yang menyatu dalam benih pohon tin laksana pabrik yang membuat gula dari sejumlah tumbuhan, tentu mekanisme qudrat-Nya yang terdapat dalam benih delima seperti mesin yang merangkai sutera. Demikian pula dengan yang lain. Lalu, ganti benih buah dengan benih bunga secara satu persatu hingga engkau bisa mengetahui bagaimana benih mati tadi keluar menjadi sesuatu yang hidup, mengeluarkan bulir dan bunga.
Wahai pemilik pot, jika engkau lalai oleh aliran materialis sudah tentu untuk melestarikan kelalaianmu engkau harus menerima keberadaan pabrik maknawiyah sebanyak pohon dan mesin sebanyak jumlah bunga di potmu tersebut. Kalau rujukannya adalah alam materi berarti pada setiap bagian tanah bahkan pada setiap partikel alam materi itu harus memiliki percetakan yang tak terhingga. Benih dan partikel dari sisi materi dan bentuk serupa. Ia seberat kapas.
-------------------------
[1] Penjelasan tentang hal ini terdapat dalam “Kata Kedua puluh dua” terutama cahaya keempat dan kedelapan. Demikian pula dalam risalah “alam”.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence