Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 316
(1-357)
Kedua, wihdatul wujud yang dipahami oleh kalangan sufi berisi kesatuan penyaksian sementara bagi pihak lain ia berisi kesatuan makhluk.
Ketiga, jalan para wali merupakan jalan yang penuh cita rasa, sementara jalan pihak lain merupakan jalan rasional.
Keempat, para wali membatasi pandangan mereka pada Allah Swt., kemudian barulah mereka melihat kepada makhluk. Sebaliknya, yang lain membatasi pandangan mereka pertama-tama kepada makhluk.
Kelima, para wali merupakan hamba dan kekasih Allah, sementara para filosof menyembah diri dan hawa nafsu mereka. Dengan demikian perbedaan mereka sangat jauh. Cahaya yang terang sangat berbeda dengan kegelapan yang pekat.
Penerangan:
Andaikan misalnya bola bumi terbentuk dari potongan kaca yang sangat kecil dan berwarna-warni, tentu setiap potongan akan menerima cahaya mentari sesuai dengan susunan, ukuran, warna, dan bentuknya. Limpahan imajinatif tersebut bukanlah mentari itu sendiri serta bukan pula cahayanya.
Andaikan warna-warni bunga yang berkembang dan bermunculan itu dapat bertutur kata di mana ia merupakan manifestasi cahaya mentari dan pantulan tujuh warnanya, tentu setiap warnanya akan berucap, “Mentari tersebut seperti diriku. Atau mentari itu hanya khusus untukku.”
Hayalan yang merupakan jaring para wali merupakan cermin
Yang memantulkan seluruh wajah bersinar di taman Allah.
Hanya saja, jalan peniti kesatuan penyaksian (widatusy syuhud) adalah kebangkitan, pemilahan, dan kesadaran. Sementara, jalan para peniti kesatuan wujud (wihdatul wujud) adalah kondisi fana dan ketidaksadaran. Jalan yang jernih adalah jalan yang dilewati dengan kesadaran dan kemampuan untuk memilah.
Renungkanlah karunia-karunia Allah dan jangan engkau merenungkan zat-Nya. Sebab kalian tidak akan mampu.[1]
Hakikat seseorang tidak mampu dipahami oleh seseorang
Apalagi keadaan Tuhan Yang Maha Tak bermula
Dia yang menciptakan dan menumbuhkan segalanya
Bagaimana mungkin makhluk yang baru dapat menjangkau-Nya[2]
Demikianlah, di sini kami tidak memasukkan bagian kedua dari risalah “titik”—yang secara khusus membahas tentang keabadian ruh. Ia telah dijelaskan secara cukup luas oleh “kata kedua puluh sembilan dan kata kesepuluh “al-hasyr”. Pembaca bisa melihat kepada keduanya. Adapun bagian ketiga yang menjelaskan empat belas pelajaran telah diterbitkan secara terpisah dengan judul “Pengantar Menuju Cahaya”.
[1] Hadits hasan ditakhrij oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Awsath 6456.
[2] Disnibatkan kepada al-Imam Ali r.a. Dîwân al-Imam Ali, hal. 185, Beirut.
Ketiga, jalan para wali merupakan jalan yang penuh cita rasa, sementara jalan pihak lain merupakan jalan rasional.
Keempat, para wali membatasi pandangan mereka pada Allah Swt., kemudian barulah mereka melihat kepada makhluk. Sebaliknya, yang lain membatasi pandangan mereka pertama-tama kepada makhluk.
Kelima, para wali merupakan hamba dan kekasih Allah, sementara para filosof menyembah diri dan hawa nafsu mereka. Dengan demikian perbedaan mereka sangat jauh. Cahaya yang terang sangat berbeda dengan kegelapan yang pekat.
Penerangan:
Andaikan misalnya bola bumi terbentuk dari potongan kaca yang sangat kecil dan berwarna-warni, tentu setiap potongan akan menerima cahaya mentari sesuai dengan susunan, ukuran, warna, dan bentuknya. Limpahan imajinatif tersebut bukanlah mentari itu sendiri serta bukan pula cahayanya.
Andaikan warna-warni bunga yang berkembang dan bermunculan itu dapat bertutur kata di mana ia merupakan manifestasi cahaya mentari dan pantulan tujuh warnanya, tentu setiap warnanya akan berucap, “Mentari tersebut seperti diriku. Atau mentari itu hanya khusus untukku.”
Hayalan yang merupakan jaring para wali merupakan cermin
Yang memantulkan seluruh wajah bersinar di taman Allah.
Hanya saja, jalan peniti kesatuan penyaksian (widatusy syuhud) adalah kebangkitan, pemilahan, dan kesadaran. Sementara, jalan para peniti kesatuan wujud (wihdatul wujud) adalah kondisi fana dan ketidaksadaran. Jalan yang jernih adalah jalan yang dilewati dengan kesadaran dan kemampuan untuk memilah.
Renungkanlah karunia-karunia Allah dan jangan engkau merenungkan zat-Nya. Sebab kalian tidak akan mampu.[1]
Hakikat seseorang tidak mampu dipahami oleh seseorang
Apalagi keadaan Tuhan Yang Maha Tak bermula
Dia yang menciptakan dan menumbuhkan segalanya
Bagaimana mungkin makhluk yang baru dapat menjangkau-Nya[2]
Demikianlah, di sini kami tidak memasukkan bagian kedua dari risalah “titik”—yang secara khusus membahas tentang keabadian ruh. Ia telah dijelaskan secara cukup luas oleh “kata kedua puluh sembilan dan kata kesepuluh “al-hasyr”. Pembaca bisa melihat kepada keduanya. Adapun bagian ketiga yang menjelaskan empat belas pelajaran telah diterbitkan secara terpisah dengan judul “Pengantar Menuju Cahaya”.
Said Nursi.
----------------------------------[1] Hadits hasan ditakhrij oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Awsath 6456.
[2] Disnibatkan kepada al-Imam Ali r.a. Dîwân al-Imam Ali, hal. 185, Beirut.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence