Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 315
(1-357)
Sebagai jawabannya: ia adalah bentuk ketenggelaman dalam tauhid. Tauhid dzauqi tidak terbatas pada pandangan akal pikiran. Pasalnya, kondisi tenggelam dalam tauhid—setelah tauhid rububiyah dan uluhiyah—mengantarkan kepada kesatuan qudrat-Nya. Dengan kata lain, tidak ada yang memberikan pengaruh terhadap alam kecuali Allah. Hal ini pada tahap selanjutnya mengarah kepada kesatuan kehendak. Ini mengantarkan kepada kesatuan kesaksian, lalu kepada kesatuan wujud (wihdatul wujud). Dari sana yang ada adalah penglihatan terhadap satu wujud dan satu maujud. Ungkapan-ungkapan ulama sufi yang membingungkan tidak bisa menjadi dalil atas aliran ini. Orang yang jiwanya tidak bersih dari pengaruh sebab serta tidak keluar dari wilayahnya ketika berbicara tentang wihdatul wujud bisa melampaui batas. Orang-orang yang berbicara tentangnya membatasi pandangan mereka pada Wajibul wujud (Tuhan) di mana mereka membebaskan diri dari makhluk sehingga yang mereka lihat hanya satu wujud. Ya, melihat hasil di dalam suatu dalil, atau melihat Sang Pencipta yang mulia di dalam entitas alam merupakan sesuatu yang bersifat perasaan. Ia hanya bisa digapai lewat cita rasa yang tinggi. Mengetahui hakikat perjalanan manifestasi ilahi dalam indeks alam, mengalirnya limpahan ilahi dalam alam malakut makhluk, dan penyaksian manifestasi nama serta sifat Tuhan dalam cermin makhluk, pengetahuan tentang semua hakikat itu merupakan persoalan rasa. Hanya saja, lantaran sulit mengungkap dengan kata-kata, penganut madzhab wihadatul wujud mengeskpresikan hakikat ini dengan sifat ketuhanan dan kehidupan yang mengalir pada seluruh makhluk. Ketika para pemikir dan cendekiawan membatasi berbagai hakikat yang bersifat perasaan ini pada standar logika dan rasio, mereka menjadikannya sebagai sumber dari banyak ilusi dan pemikiran batil.
Kemudian paham wihdatul wujud yang dipahami oleh para filosof materialis dan para pemikir yang berakidah lemah dengan paham wihdatul wujud yang dipahami oleh para wali sangat jauh berbeda. Bahkan keduanya sangat bertentangan. Terdapat lima perbedaan antara keduanya. Yaitu:
Pertama, ulama sufi membatasi pandangan mereka pada “Wajibul wujud” dan terus merenungkannya dengan seluruh potensi mereka sehingga mengingkari wujud makhluk dan tidak lagi melihat apa-apa di alam wujud ini kecuali Dia. Sementara, yang lain (kaum filosof materialis dan orang yang lemah iman) mempergunakan seluruh pemikiran dan pandangan mereka pada alam materi sehingga tidak mampu menangkap uluhiyah. Bahkan, mereka memberikan prioritas utama kepada materi hingga menjadikan mereka tidak lagi melihat wujud kecuali berupa materi. Lebih dari itu, mereka terus berada dalam kesesatannya dengan memasukkan uluhiyah ke dalam materi. Bahkan, mereka merasa tidak membutuhkannya karena hanya membatasi pandangan kepada entitas.
Kemudian paham wihdatul wujud yang dipahami oleh para filosof materialis dan para pemikir yang berakidah lemah dengan paham wihdatul wujud yang dipahami oleh para wali sangat jauh berbeda. Bahkan keduanya sangat bertentangan. Terdapat lima perbedaan antara keduanya. Yaitu:
Pertama, ulama sufi membatasi pandangan mereka pada “Wajibul wujud” dan terus merenungkannya dengan seluruh potensi mereka sehingga mengingkari wujud makhluk dan tidak lagi melihat apa-apa di alam wujud ini kecuali Dia. Sementara, yang lain (kaum filosof materialis dan orang yang lemah iman) mempergunakan seluruh pemikiran dan pandangan mereka pada alam materi sehingga tidak mampu menangkap uluhiyah. Bahkan, mereka memberikan prioritas utama kepada materi hingga menjadikan mereka tidak lagi melihat wujud kecuali berupa materi. Lebih dari itu, mereka terus berada dalam kesesatannya dengan memasukkan uluhiyah ke dalam materi. Bahkan, mereka merasa tidak membutuhkannya karena hanya membatasi pandangan kepada entitas.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence