Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 312
(1-357)
Engkau bisa melihat kepada ilmu biologi. Di dalamnya disebutkan bahwa berbagai spesies yang jumlahnya lebih dari dua ratus ribu masing-masing memiliki pangkal tertentu atau nenek moyang terbesar. Hal sama berlaku pada manusia yang memiliki pangkal berupa Nabi Adam as. Setiap bagian dari spesies yang banyak ini ibarat mesin menakjubkan yang mencengangkan akal. Rambu-rambu ilusi dan sebab-sebab alami yang bodoh tidak mungkin menjadi faktor yang menghadirkan rangkaian entitas dan spesies menakjubkan tersebut. Dengan kata lain, setiap entitas dan spesies memperlihatkan bahwa ia langsung bersumber dari kekuasaan ilahi yang penuh hikmah.
Alquran mengingatkan kita dengan berkata, “Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang?”[1] Bahkan, Alquran menjelaskan dalam bentuk yang paling mulia dan sempurna. Di samping menyuruh untuk merenungkan makhluk, ia juga menegaskan dalil ini—dalil adanya perhatian Allah—dalam benak manusia dengan menyebutkan sejumlah manfaat dan nikmat yang diturunkan. Setelah itu, di penutup atau sambungan ayat ia mengembalikan kepada akal. Ia menggugah akal dan menyentuh nurani pada ayat-ayat seperti berikut,
Tidakkah mereka mengetahui...
Tidakkah kalian merenung...
Ambillah pelajaran...
Kedua, dalil penciptaan
Kesimpulannya adalah:
Allah memberikan kepada setiap entitas dan setiap spesies wujud spesifik. Ia merupakan tampat tumbuh jejak-Nya yang khusus dan sumber kesempurnaan-Nya yang sesuai. Pasalnya, tidak ada spesies yang terangkai dari keabadian. Sebab ia termasuk sesuatu yang bersifat mungkin, sementara rangkaian yang dimaksud tidak ada. Hakikat tidaklah berubah; namun tetap. Adapun perubahan jenis bukan merukapan perubahan hakikat. Yang disebut sebagai perubahan bentuk materi tidak lain merupakan sesuatu yang baru muncul. Kemunculan sebagiannya bisa disaksikan secara nyata dan sebagiannya lagi bisa dibuktikan dengan nalar. Berbagai kekuatan dan bentuk dilihat dari wujudnya yang bersifat insidentil tidak membentuk perbedaan substantif pada spesies. Sesuatu yang bersifat insidentil bukanlah substansi. Jadi, sejumlah spesies dan karakter keseluruhan makhluk telah dicipta dari tiada. Sementara, proses berketurunan dalam rantai kehidupan merupakan salah satu untaian kebiasaan. Karena itu sungguh aneh bagaimana akal yang sesat menerima keabadian materi—padahal ia justru menentang paham keazalian secara total. Di sisi lain, akal manusia tidak mampu menangkap keazalian Sang Pencipta Yang Mahaagung yang merupakan sifat utama-Nya. Bagaimana mungkin partikel-partikel yang kecil memiliki kekuatan untuk melawan berbagai perintah ilahi, sementara alam dengan keagungannya tunduk kepada perintah-Nya secara total. Bagaimana mungkin proses penciptaan dan penghadiran yang merupakan karakter qudrat ilahi dinisbatkan kepada sebab yang paling lemah dan hina?!
----------------------------
[1] Q.S. al-Mulk: 3.
Alquran mengingatkan kita dengan berkata, “Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang?”[1] Bahkan, Alquran menjelaskan dalam bentuk yang paling mulia dan sempurna. Di samping menyuruh untuk merenungkan makhluk, ia juga menegaskan dalil ini—dalil adanya perhatian Allah—dalam benak manusia dengan menyebutkan sejumlah manfaat dan nikmat yang diturunkan. Setelah itu, di penutup atau sambungan ayat ia mengembalikan kepada akal. Ia menggugah akal dan menyentuh nurani pada ayat-ayat seperti berikut,
Tidakkah mereka mengetahui...
Tidakkah kalian merenung...
Ambillah pelajaran...
Kedua, dalil penciptaan
Kesimpulannya adalah:
Allah memberikan kepada setiap entitas dan setiap spesies wujud spesifik. Ia merupakan tampat tumbuh jejak-Nya yang khusus dan sumber kesempurnaan-Nya yang sesuai. Pasalnya, tidak ada spesies yang terangkai dari keabadian. Sebab ia termasuk sesuatu yang bersifat mungkin, sementara rangkaian yang dimaksud tidak ada. Hakikat tidaklah berubah; namun tetap. Adapun perubahan jenis bukan merukapan perubahan hakikat. Yang disebut sebagai perubahan bentuk materi tidak lain merupakan sesuatu yang baru muncul. Kemunculan sebagiannya bisa disaksikan secara nyata dan sebagiannya lagi bisa dibuktikan dengan nalar. Berbagai kekuatan dan bentuk dilihat dari wujudnya yang bersifat insidentil tidak membentuk perbedaan substantif pada spesies. Sesuatu yang bersifat insidentil bukanlah substansi. Jadi, sejumlah spesies dan karakter keseluruhan makhluk telah dicipta dari tiada. Sementara, proses berketurunan dalam rantai kehidupan merupakan salah satu untaian kebiasaan. Karena itu sungguh aneh bagaimana akal yang sesat menerima keabadian materi—padahal ia justru menentang paham keazalian secara total. Di sisi lain, akal manusia tidak mampu menangkap keazalian Sang Pencipta Yang Mahaagung yang merupakan sifat utama-Nya. Bagaimana mungkin partikel-partikel yang kecil memiliki kekuatan untuk melawan berbagai perintah ilahi, sementara alam dengan keagungannya tunduk kepada perintah-Nya secara total. Bagaimana mungkin proses penciptaan dan penghadiran yang merupakan karakter qudrat ilahi dinisbatkan kepada sebab yang paling lemah dan hina?!
----------------------------
[1] Q.S. al-Mulk: 3.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence