Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 310
(1-357)
Sementara, sebab-sebab alam yang dikemukakan oleh kaum yang sesat demikian beragam. Di samping itu, ia bodoh tak saling mengenal. Lebih dari itu, ia buta di mana yang berada di hadapannya hanyalah proses kebetulan. Maka, “Katakanlah, ‘Allah’, kemudian biarkan mereka bermain-main dalam kesesatannya.”[1]

Kesimpulannya, mukjizat ilahi yang cemerlang dan jelas dalam sebuah keteraturan dan keterpaduan yang tampak dalam kitab alam besar ini—di mana ia merupakan petunjuk tauhid yang kedua—memperlihatkan dengan sangat terang seperti mentari bahwa alam berikut isinya merupakan jejak kekuasaan Allah yang bersifat mutlak, pengetahuan-Nya yang tak terbatas, dan kehendak-Nya yang azali.

Lalu, bagaimana tatanan, keteraturan, dan keterpaduan itu terwujud?

Jawabannya: ilmu-ilmu alam yang menjadi sarana manusia ibarat indera dan mata-mata yang menyingkap segala hal yang tidak diketahui. Dengan penelaahan yang sempurna ia dapat menyingkap tatanan yang ada lewat indera dan mata-mata tersebut. Setiap spesies alam telah diberi pengetahuan khusus atau diberi jalan menuju kepadanya. Karena itu, setiap pengetahuan memperlihatkan keteraturan dan tatanan lewat kaidah-kidah utamanya. Pasalnya, setiap ilmu atau pengetahuan sebenarnya merupakan penjelasan mengenai rambu-rambu dan kaidah yang bersifat integral. Integralitas kaidah tersebut menunjukkan bagusnya tatanan yang ada. Sebab, yang tidak tertata tidak memiliki integralitas. Nah, meski manusia bisa jadi tidak mengetahui semua tatanan yang ada, namun ia bisa menjangkaunya dengan mata-mata pengetahuan tadi. Dari sana ia mengetahui bahwa “manusia terbesar”—yaitu alam—demikian teratur seperti “manusia yang paling kecil”. Segala sesuatu dibangun di atas landasan yang penuh hikmah. Tidak ada yang sia-sia dan percuma.

Petunjuk dan bukti kita ini tidak terbatas pada pilar-pilar dan organ alam. Akan tetapi, ia mencakup seluruh sel dan semua makhluk hidup. Lebih dari itu, ia mencakup seluruh partikel. Semuanya merupakan lisan yang berzikir yang menyuarakan tauhid. Semuanya sama-sama mengucap, “Tiada Tuhan selain Allah.”

Petunjuk Ketiga: Alquran yang Penuh Hikmah

Ketika telingamu menyimak pusat petunjuk yang bertutur ini, engkau akan mendengarnya terus-menerus mengucap, “Tiada Tuhan selain Allah.”

Petunjuk kita ini mencerminkan sebuah pohon besar dengan dahan dan ranting yang bercabang ke mana-mana. Darinya muncul buah kebenaran dan hakikat pada berbagai sisinya dengan sangat lebat dan segar. Tidak seorangpun yang ragu bahwa benih aslinya—tauhid—demikian kuat, benar, dan hidup. Jelas sekali bagaimana benih yang rusak tidak akan menghasilkan buah yang segar setiap waktu.
----------------------------
[1] Q.S. al-An’âm: 91.
No Voice