Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 308
(1-357)
Ya, apa yang mereka sangka sebagai landasan daya tarik, tolak, gerakan, kekuatan, dan sebagainya bagi segala sesuatu merupakan rambu-rambu ilahi yang mencerminkan ketetapan kebiasaan Allah. Rambu tersebut dapat diterima dengan syarat tidak berpindah dari posisinya sebagai kaidah menuju alam yang bekerja, dari sesuatu yang terdapat di pikiran menuju hakikat nyata, dari sesuatu yang bersifat maknawi menuju hakikat yang nampak, serta dari perangkat ukur menuju penentu hakiki.
Ada sebuah pertanyaan: meskipun kesaksian atau syahadat yang ada telah jelas, mengapa sebagian orang masih meyakini keabadian materi serta menganggap gerakan partikel dan sejenisnya sebagai sebuah proses kebetulan?
Jawabannya, hal itu hanya karena diri manusia meyakini hal lain di luar keimanan kepada Allah. Mereka tidak memahami rusaknya konsep pemikiran tersebut dengan satu pandangan artifisial dan bersifat taklid. Dari sinilah kemungkinan di atas muncul. Namun, jika manusia sadar, ia akan mengetahui kalau dirinya berada dalam satu pandangan yang mustahil dan sangat tidak rasional. Kalaupun ia meyakininya, hal itu dilakukan karena lalai terhadap Sang Pencipta. Sungguh sebuah kesesatan yang nyata. Orang yang akalnya tidak memahami keabadian Allah serta bagaimana Dia mencipta segala sesuatu—padahal hal itu merupakan sifat yang harus melekat kepada Tuhan—bagaimana mungkin ia memberikan keabadian dan proses penciptaan segala sesuatu kepada sesuatu yang lemah? Ada satu peristiwa terkenal. Yakni ketika orang-orang ingin melakukan rukyat hilal hari raya tak ada satupun yang bisa melihat. Tiba-tiba ada seorang syeikh tua yang bersumpah bahwa ia telah melihat hilal. Kemudian diketahui bahwa apa yang ia lihat ternyata bukan hilal; tetapi uban cekung yang jatuh dari alisnya. Tentu saja sangat jauh perbedaan antara uban dan hilal. Mana mungkin gerakan partikel bisa membentuk spesies.
Sebagai makhluk mulia secara fitrah, manusia selalu mencari kebenaran. Di tengah-tengah pencariannya kadangkala ia menemukan sesuatu yang salah. Iapun menyembunyikan hal tersebut di dadanya dan ia jaga. Bisa jadi ketika menelusuri hakikat kebenaran tanpa disengaja kesesatan jatuh ke kepalanya. Lalu ia menganggapnya sebagai sebuah kebenaran sehingga dibungkus dengan penutup seperti peci.
Ada sebuah pertanyaan, “Apa itu alam (thobi’ah), hukum, dan kekuatan yang menjadi alat mereka menghibur diri?”
Jawabannya, alam merupakan syariat ilahi terbesar yang menetapkan tatanan yang cermat antara sejumlah perbuatan, unsur, dan organ tubuh makhluk yang disebut dengan dunia nyata. Syariat fitri inilah yang disebut dengan sunnatullah. “Alam” merupakan abtraksi dan intisari dari sejumlah hukum yang berlaku di dunia.
Ada sebuah pertanyaan: meskipun kesaksian atau syahadat yang ada telah jelas, mengapa sebagian orang masih meyakini keabadian materi serta menganggap gerakan partikel dan sejenisnya sebagai sebuah proses kebetulan?
Jawabannya, hal itu hanya karena diri manusia meyakini hal lain di luar keimanan kepada Allah. Mereka tidak memahami rusaknya konsep pemikiran tersebut dengan satu pandangan artifisial dan bersifat taklid. Dari sinilah kemungkinan di atas muncul. Namun, jika manusia sadar, ia akan mengetahui kalau dirinya berada dalam satu pandangan yang mustahil dan sangat tidak rasional. Kalaupun ia meyakininya, hal itu dilakukan karena lalai terhadap Sang Pencipta. Sungguh sebuah kesesatan yang nyata. Orang yang akalnya tidak memahami keabadian Allah serta bagaimana Dia mencipta segala sesuatu—padahal hal itu merupakan sifat yang harus melekat kepada Tuhan—bagaimana mungkin ia memberikan keabadian dan proses penciptaan segala sesuatu kepada sesuatu yang lemah? Ada satu peristiwa terkenal. Yakni ketika orang-orang ingin melakukan rukyat hilal hari raya tak ada satupun yang bisa melihat. Tiba-tiba ada seorang syeikh tua yang bersumpah bahwa ia telah melihat hilal. Kemudian diketahui bahwa apa yang ia lihat ternyata bukan hilal; tetapi uban cekung yang jatuh dari alisnya. Tentu saja sangat jauh perbedaan antara uban dan hilal. Mana mungkin gerakan partikel bisa membentuk spesies.
Sebagai makhluk mulia secara fitrah, manusia selalu mencari kebenaran. Di tengah-tengah pencariannya kadangkala ia menemukan sesuatu yang salah. Iapun menyembunyikan hal tersebut di dadanya dan ia jaga. Bisa jadi ketika menelusuri hakikat kebenaran tanpa disengaja kesesatan jatuh ke kepalanya. Lalu ia menganggapnya sebagai sebuah kebenaran sehingga dibungkus dengan penutup seperti peci.
Ada sebuah pertanyaan, “Apa itu alam (thobi’ah), hukum, dan kekuatan yang menjadi alat mereka menghibur diri?”
Jawabannya, alam merupakan syariat ilahi terbesar yang menetapkan tatanan yang cermat antara sejumlah perbuatan, unsur, dan organ tubuh makhluk yang disebut dengan dunia nyata. Syariat fitri inilah yang disebut dengan sunnatullah. “Alam” merupakan abtraksi dan intisari dari sejumlah hukum yang berlaku di dunia.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence