Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 311
(1-357)
Dahan pohon yang membentang hingga ke alam nyata ini memikul berbagai buah hukum yang tepat dan haq. Sama seperti dahan agung yang membentang ke alam gaib di mana ia kaya dengan buah tauhid dan iman yang segar dan benar.
Apabila petunjuk agung ini terlihat dari seluruh sisinya sudah pasti Zat yang memperlihatkannya sangat percaya dengan hasilnya yang berupa tauhid serta sangat yakin. Pasalnya Dia membangun semua persoalan di atas landasan hasil yang kokoh tadi. Bahkan, ia menjadikannya sebagai batu pertama bagi segala sesuatu yang terdapat di alam wujud. Pondasi kokoh semacam ini tidak mungkin terasa berat dan dibuat-buat. Akan tetapi, ia menjadikan kemukjizatan yang cemerlang atas petunjuk ini tidak lagi membutuhkan pembenaran pihak-pihak lain. Semua informasinya benar, kuat, haq, dan merupakan hakikat.
Ya, enam arah petunjuk yang bersinar ini demikian terang dan mulia. Di atasnya terdapat kemukjizatan yang sangat jelas, di bawahnya terdapat logika dan dalil, di sisi kananya terdapat pengujian akal, di sisi kirinya terdapat pembuktian naluri, di depannya dan yang menjadi tujuannya adalah kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Titik sandarannya adalah wahyu semata. Akankah ilusi berani masuk ke dalam benteng kokoh tersebut?
Terdapat empat landasan untuk bisa naik menuju Arasy kesempurnaan; yaitu makrifatullah. Ia adalah:
Pertama, metode tasawwuf yang berlandaskan penyucian jiwa dan akhlak.
Kedua, metode ulama ahli kalam yang menjadikan sifat makhluk yang “baru” dan “bersifat mungkin” sebagai dasar untuk membuktikan eksistensi Wajibul wujud (Allah).
Meski kedua landasan di atas bersumber dari Alquran, namun manusia telah mengemasnya dalam beragam bentuk. Karena itu, keduanya menjadi metode yang panjang dan memiliki sejumlah persoalan yang tidak bersih dari ilusi dan sejumlah keraguan.
Ketiga, jalan para filosof yang bercampur dengan berbagai keraguan, syubhat, dan ilusi.
Keempat dan inilah yang paling utama, jalan Alquran Al-karim yang memperlihatkannya lewat retorikanya yang menakjubkan dan kefasihannya yang cemerlang sehingga tidak ada jalan lain yang selurus dan seintegral Alquran. Ia merupakan jalan tersingkat menuju Allah, sekaligus terdekat, dan paling komprehensif bagi manusia.
Untuk mencapai arasy landasan ini terdapat empat sarana: ilham, pengajaran, penyucian, dan tadabbur.
Demikianlah, terkait dengan makrifatullah dan dalam menetapkan keesaan-Nya Alquran memiliki dua jalan:
Pertama: bukti perhatian dan tujuan.
Semua ayat Alquran yang menyebutkan berbagai manfaat sesuatu serta menjelaskan hikmahnya merupakan jalinan bukti tersebut serta wujud manifestasi petunjuk ini.
Inti darinya adalah kreasi yang yang demikian cermat dalam satu tatanan yang paling sempurna di alam berikut perhatian terhadap maslahat dan hikmah yang ada. Pasalnya, Tatanan yang bercampur dengan alam berikut perhatian terhadap sejumlah maslahat dan hikmah menunjukkan maksud Pencipta Yang Mahabijak dan hikmah-Nya yang merupakan mukjizat. Ia menafikan anggapan adanya unsur kebetulan dan kerapian yang buta. Pasalnya, kerapian dan kecermatan tak mungkin terwujud tanpa adanya kehendak. Setiap disiplin ilmu alam menjadi saksi yang jujur atas keteraturan tersebut. Ia menjelaskan sejumlah maslahat dan buah yang bermunculan laksana kuntum yang berada di dahan entitas yang pada waktu bersamaan menerangkan berbagai hikmah dan manfaat tersembunyi pada celah-celah perubahan kondisi dan zaman.
No Voice