Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 313
(1-357)
Alquran al-Karim mengokohkan dalil ini dalam ayat-ayatnya yang membahas tentang penciptaan. Ia menegaskan bahwa tidak ada yang memberikan pengaruh hakiki kecuali Allah. Sebab tidak bisa memberikan pengaruh hakiki. İa hanyalah hijab di hadapan kemuliaan dan keagungan qudrat-Nya agar akal tidak melihat tangan qudrat tersebut secara langsung lewat penglihatan lahiriahnya. Pasalnya, segala sesuatu memiliki dua sisi:
Pertama, sisi kerajaan. İa seperti sisi cermin yang berwarna. Pada sisi ini, sebab ada untuk memperlihatkan keagungan dan kemuliaan-Nya.
Kedua, sisi alam malakut. Ia seperti sisi cermin yang bening dan transparan. Sisi ini sangat indah karena “sebab” sama sekali tidak memiliki pengaruh. Keesaan-Nya mengharuskan demikian. Karena kehidupan, ruh, cahaya dan alam wujud bersumber dari tangan kekuasaan ilahi tanpa perantara, maka kedua sisi tersebut demikian bening dan indah; entah kerajaan ataupun alam malakut-Nya.

Petunjuk Keempat, Nurani Manusia yang Disebut Fitrah Perasa
Pertama, fitrah tidak berdusta. Pada benih terdapat kecenderungan untuk tumbuh. Ia berkata, “Saya akan tumbuh dan akan berbuah.” Dalam hal ini ia jujur. Pada telur juga terdapat kecenderungan untuk hidup. Ia berkata, “Aku akan menjadi anak.” Maka hal itu terwujud dengan ijin Allah dan ia benar. Ketika kecenderungan membeku dalam tetesan air berkata, “Aku akan menempati satu tempat yang lebih luas,” maka besi yang keras sekalipun tidak mampu mengingkarinya. Bahkan di antara kebenaran ucapannya, ia bisa menembus merusak besi. Kecenderungan tersebut merupakan manifestasi perintah penciptaan yang bersumber dari kehendak ilahi.
Kedua, indera lahiri dan batini manusia tidak terbatas pada lima indera yang dikenal: indera pendengaran, pengecap, penglihatan, dst. Namun, ia memiliki banyak celah yang bersambung kepada alam gaib. Karena itu ada banyak indera pada manusia yang tak diketahui.
Ketiga, sesuatu yang bersifat ilusi tidak bisa menjadi pijakan bagi hakikat lahiriah. Titik kebersandaraan dan keterpautan merupakan dua hakikat penting yang tertanam dalam fitrah dan nurani. Dari sini manusia adalah makhluk yang dimuliakan dan merupakan makhluk pilihan. Kalaulah bukan karena keduanya tentu ia akan turun derajat ke tingkatan yang paling rendah. Sementara, hikmah, keteraturan, dan kesempurnaan yang terdapat di alam menolak kemungkinan tersebut.
Keempat, nurani tidak akan melupakan Sang Pencipta betapapun akal mencampakkan dirinya dan mengabaikan aktivitasnya. Bahkan meski ia mengingkari keberadaannya. Nurani melihat Sang Pencipta seraya merenungkan dan menghadap kepada-Nya. Sementara, intuisi menggerakkannya, ilham selalu meneranginya, dan cinta ilahi terus mendorongnya untuk mengenal Allah. Cinta tersebut bersumber dari limpahan kerinduan yang lahir dari besarnya keinginan yang bersumber dari kecenderungan yang tertanam dalam fitrah. Ketertarikan dan daya tarik yang tertanam dalam fitrah tidak lain berasal dari Penarik hakiki.
No Voice