Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 314
(1-357)
Setelah memahami sejumlah hal di atas, cermati nurani untuk melihat bagaimana ia menjadi petunjuk yang terdapat dalam setiap diri manusia di mana ia menetapkan tauhid. Juga agar engkau bisa menyaksikan bahwa kalau kalbu manusia menebarkan kehidupan ke seluruh sisi jasmani, inti kehidupan di dalamnya—yaitu makrifatullah—menyebarkan kehidupan ke seluruh harapan dan kecenderungan manusia yang demikian bercabang dalam potensinya yang tak terbatas. Masing-masing sesuai dengan kondisinya. Rasa senang dan gembira mengalir di dalamnya yang kemudian ditambah oleh nilai ilusi. Bahkan, ia membuatnya lapang dan terang. Inilah keterpautan.
Makrifat ilahi itu sendiri merupakan titik kebersandaran manusia di hadapan berbagai dinamika kehidupan, sejumlah musibah, dan ujian yang menimpanya. Pasalnya, jika manusia tidak meyakini Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana yang semua urusannya merupakan sebuah keteraturan dan penuh hikmah, ia menisbatkan berbagai urusan dan kejadian kepada unsur kebetulan serta condong kepada kekuatan remeh yang dimiliknya yang tak mampu menghadapi musibah sedikitpun. Lantaran cemas dan takut kepada berbagai ujian yang mengitarinya ia pasti akan jatuh dan akan merasa sangat sakit di mana hal itu akan membuatnya ingat terhadap siksa jahannam. Hal ini tidak sesuai dengan kesempurnaan ruh manusia yang mulia sebab membuatnya jatuh kepada kehinaan di mana ia bertentangan dengan sistem yang rapi yang tegak di seluruh alam. Dengan kata lain, dua hal di atas: titik keterpautan dan kebersandaran merupakan dua hal penting bagi ruh manusia. Sang Pencipta Yang Mahamulia menyebarkan cahaya makrifat-Nya serta menghembuskannya dalam nurani setiap manhusia dari dua jendela tersebut. Betapapun akal menutup mata, penglihatan nurani senantiasa terbuka.
Demikianlah. Kesaksian keempat petunjuk agung dan kuat di atas menegaskan bahwa sebagaimana Sang Pencipta merupakan Zat yang wajib ada, azali, esa, tunggal, berkehendak, mendengar, melihat, berbicara, hidup, berdiri sendiri, Dia juga memiliki seluruh sifat mulia dan indah. Pasalnya, limpahan kesempurnaan yang terdapat pada makhluk terambil dari bayangan manifestasi kesempurnaan Penciptanya yang agung. Sudah pasti pada diri Sang pencipta terdapat kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan yang jauh lebih tinggi dengan tingkatan tak terhingga dibandingkan kebaikan, kesempurnaan, dan keindahan yang terdapat pada keseluruhan entitas. Selanjutnya, Sang Pencipta bersih dari segala kekurangan karena kekurangan hanya berasal dari miskinnya potensi esensi materi. Allah bersih dari semua yang bersifat materi dan jauh dari sifat-sifat yang melekat pada makhluk.
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar dan Maha melihat.[1]
Mahasuci Zat yang tersembunyi lantaran sangat jelas.
Mahasuci Zat yang samar lantaran tidak ada kebalikan-Nya.
Mahasuci Zat yang terhijab oleh sebab lantaran kemuliaan-Nya.
Muncul sebuah pertanyaan, “Bagaimana menurutmu paham wihdatul wujud (pantheisme)?”
--------------------------------
[1] Q.S. asy-Syuûrâ: 11.
Makrifat ilahi itu sendiri merupakan titik kebersandaran manusia di hadapan berbagai dinamika kehidupan, sejumlah musibah, dan ujian yang menimpanya. Pasalnya, jika manusia tidak meyakini Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana yang semua urusannya merupakan sebuah keteraturan dan penuh hikmah, ia menisbatkan berbagai urusan dan kejadian kepada unsur kebetulan serta condong kepada kekuatan remeh yang dimiliknya yang tak mampu menghadapi musibah sedikitpun. Lantaran cemas dan takut kepada berbagai ujian yang mengitarinya ia pasti akan jatuh dan akan merasa sangat sakit di mana hal itu akan membuatnya ingat terhadap siksa jahannam. Hal ini tidak sesuai dengan kesempurnaan ruh manusia yang mulia sebab membuatnya jatuh kepada kehinaan di mana ia bertentangan dengan sistem yang rapi yang tegak di seluruh alam. Dengan kata lain, dua hal di atas: titik keterpautan dan kebersandaran merupakan dua hal penting bagi ruh manusia. Sang Pencipta Yang Mahamulia menyebarkan cahaya makrifat-Nya serta menghembuskannya dalam nurani setiap manhusia dari dua jendela tersebut. Betapapun akal menutup mata, penglihatan nurani senantiasa terbuka.
Demikianlah. Kesaksian keempat petunjuk agung dan kuat di atas menegaskan bahwa sebagaimana Sang Pencipta merupakan Zat yang wajib ada, azali, esa, tunggal, berkehendak, mendengar, melihat, berbicara, hidup, berdiri sendiri, Dia juga memiliki seluruh sifat mulia dan indah. Pasalnya, limpahan kesempurnaan yang terdapat pada makhluk terambil dari bayangan manifestasi kesempurnaan Penciptanya yang agung. Sudah pasti pada diri Sang pencipta terdapat kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan yang jauh lebih tinggi dengan tingkatan tak terhingga dibandingkan kebaikan, kesempurnaan, dan keindahan yang terdapat pada keseluruhan entitas. Selanjutnya, Sang Pencipta bersih dari segala kekurangan karena kekurangan hanya berasal dari miskinnya potensi esensi materi. Allah bersih dari semua yang bersifat materi dan jauh dari sifat-sifat yang melekat pada makhluk.
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar dan Maha melihat.[1]
Mahasuci Zat yang tersembunyi lantaran sangat jelas.
Mahasuci Zat yang samar lantaran tidak ada kebalikan-Nya.
Mahasuci Zat yang terhijab oleh sebab lantaran kemuliaan-Nya.
Muncul sebuah pertanyaan, “Bagaimana menurutmu paham wihdatul wujud (pantheisme)?”
--------------------------------
[1] Q.S. asy-Syuûrâ: 11.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence