Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 306
(1-357)
Petunjuk kedua: Kitab Alam

Ya. Huruf-huruf dan titik demi titik dari kitab ini, baik secara terpisah maupun secara kesatuan, setiap lisannya mengucap, “Segala sesuatu bertasbih memuji-Nya.”[1] Ia menerangkan keberadaan Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana. Ketika ia beredar di antara sejumlah kemungkinan yang tak terhingga terkait dengan sifat, zat, kondisi, dan wujudnya, ia masuk ke dalam jalan tertentu, memiliki sifat tertentu, beradaptasi dengan kondisi yang teratur, berjalan sesuai rambu yang digariskan, serta mengarah kepada tujuan yang jelas. Dari sana ia menghasilkan sejumlah hikmah dan kemaslahatan yang mencengangkan akal. Maka, kilau keimanan kepada Allah semakin kuat dalam perangkat halus Rabbani yang mencerminkan model sejumlah alam gaib dalam diri manusia. Bukankah partikel dengan lisannya yang murni menyuarakan tujuan Penciptanya yang esa, sifat-sifat-Nya yang istimewa, berikut berbagai kondisi-Nya. Petunjuk tersebut semakin kuat dengan melihat keberadaan partikel sebagai salah satu bagian dari berbagai konstruksi yang saling menyatu dan dilihat dari sejumlah kemungkinan yang dilaluinya. Pasalnya, pada setiap konstruksi ia memiliki kedudukan khusus, pada setiap kedudukan terdapat hubungan dan keterkaitan tertentu, pada setiap hubungan ia memiliki tugas tertentu, pada setiap posisi ia menjaga keseimbangan yang bersifat umum, dan pada setiap tugas ia menghasilkan berbagai kemaslahatan dan hikmah. Jadi, pada setiap fase, dengan lisannya yang khusus, partikel menyuarakan berbagai bukti wajibnya keberadaan Sang Pencipta yang agung sekaligus memperlihatkan tujuan Penciptanya Yang Maha Bijaksana. Seolah-olah ia sedang membacakan ayat-ayat mulia yang menunjukkan keesaan-Nya. Kondisinya sama seperti parjurit yang memiliki tugas dan keterkaitan khusus dengan setiap regu, kelompok, dan semua tentara. Dengan demikian, berbagai petunjuk yang menunjukkan kepada Allah Swt. jauh lebih banyak dari jumlah partikel alam. Ungkapan yang berbunyi, “Jalan-jalan menuju Allah sebanyak tarikan nafas makhluk,” merupakan hakikat yang benar dan tidak berlebihan. Bahkan itupun mungkin masih kurang.

Muncul sebuah pertanyaan, “Mengapa semua makhluk tidak bisa melihat Sang Pencipta Yang Mahagagung dengan akal mereka?”

Sebagai jawaban, hal itu lantaran keberadaan-Nya yang sangat sempurna dan lantaran ketiadaan lawan:

Perhatikan baris-baris alam
İa adalah pesan untukmu dari Tuhan
----------------------------
[1] Q.S. al-Isrâ: 44.
No Voice