Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 219
(1-357)
Alquran menyebut berbagai sesuatu yang terdapat di alam untuk dijadikan dalil atas sifat-sifat Sang Pencipta. Semakin jelas ia dalam pemahaman sebagian besar manusia, maka semakin dapat dijadikan sebagai petunjuk. Misalnya,

Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Penciptaan langit dan bumi serta keragaman bahasa dan warna kulit kalian.[1]
Di samping bahwa di balik perbedaan warna tersebut terdapat perbedaan bentuk rupa sebagaimana disebutkan dalam “benih”. Allah juga befirman,
Di dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kekuasaan.[2]
Di samping bahwa di balik permukaan malam dan siang yang terlihat langsung oleh mata terdapat keajaiban lukisan pergerakan bumi pada dirinya sendiri dan bagaimana ia berputar mengelilingi matahari. Lalu Allah befirman,
Kami jadikan gunung sebagai pasak.[3]
Di samping bahwa di balik apa yang terlihat dari gambaran perahu bumi dan kemahnya yang terurai dan terikat oleh pasak terdapat proses stabilisasi kemarahan bumi yang, “nyaris murka lantaran marah,”[4] karena berbagai pelanggaran yang terjadi. Di baliknya juga terdapat proses penenangan murkanya dengan menciptakan gunung sehingga bumi bisa bernafas lewat celah-celahnya dan hanya terguncang oleh gempa. Kalau saja tidak ada gunung pasti ia sudah hancur. Di balik permukaan ini Dia juga menjadikan gunung sebagai tempat perbendaharaan air dan, penyaring udara, pelindung tanah dari luapan laut. Semua faktor ini merupakan pasak kehidupan makhluk.
Dari rahasia ini engkau bisa melihat bagaimana syariat menjadikan rukyat terbit dan terbenamnya bulan sebagai patokan; bukan hisab. Dari sini juga dapat dipahami terwujudnya banyak pengulangan untuk penetapan. Pengulangan yang ada adalah untuk penegasan.
Ketahuilah! Hakikat sejumlah ayat jauh lebih luas daripada imajinasi syair sehingga ia jauh dari bentuk puisi. Penutur di balik ayat mencari sifat dan perbuatannya. Sementara, dalam syair yang dibahas adalah orang lain. Alquran secara umum membahas sesuatu yang biasa dengan pembahasan yang luar biasa. Sementara, syarir membahas tentang sesuatu yang luar biasa dengan cara yang biasa.
Ketahuilah bahwa cermin keesaan Sang Pencipta dan lembaran buktinya sangat banyak, beragam, saling menguatkan, dan tak terhingga. Cahaya yang diperoleh seseorang dalam melihat sesuatu pertanda bahwa cahaya tersebut juga diterima oleh semua. Terbukanya sesuatu yang memungkinkan untuk masuk merupakan pertanda bahwa ia bisa terbuka untuk semua. Namun, tidak sebaliknya. Tertutupnya sesuatu; terutama hal yang paling rendah, tidak berarti tertutup bagi semua. Hanya saja, karena bisikan setan, nafsu ammarah mengingkari prinsip dasar yang benar dan sebaliknya membenarkan yang dusta.
-------------------------------
[1] Q.S. ar-Rûm: 22.
[2] Q.S. Ali Imran: 190.
[3] Q.S. an-Naba: 7.
[4] Q.S. al-Mulk: 8.
No Voice