Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 225
(1-357)
Darinya lahir kemusyrikan, keburukan, dan kesesatan. Apabila ego tersembunyi dari dirimu ia akan menjadi beban berat sehingga menjadi tali yang bisa menelan wujudmu sehingga keseluruhan dirimu menjadi ego. Kemudian ia bertambah besar dengan ego kelompok dan sikap bersandar kepadanya sehingga laksana setan yang menentang perintah Tuhan. Setelah itu, ia mengukur manusia dan sebab kepada dirinya sendiri sehingga terjatuh pada syirik yang besar. Dari sisi ini, andaikan engkau membuka mata dan dan menatap seluruh cakrawala, ia tertutup bagimu lantaran matamu hanya tertuju kepada diri sendiri. Engkau melihat segala sesuatu lewat ego yang terdapat dalam dirimu. Dalam hal ini ia merupakan bentuk kemusyrikan dan pengingkaran. Andaikan cakrawala dipenuhi oleh berbagai tanda kekuasaan yang demikian terang, sementara dalam ego masih terdapat titik hitam, ia akan menutupi semua tanda kekuasaan tadi.

Terdapat sebuah persoalan penting. Yaitu bahwa ego memiliki dua sisi: satu sisi yang dituntun oleh kenabian dan satu sisi lagi dituntun oleh filsafat.

Sisi pertama bersumber dari pengabdian. Esensinya bersifat harfiyah. Wujudnya bersifat asesoris. Kepemilikannya bersifat ilusi. Hakikatnya bersifat asumsi. Sementara tugasnya adalah merubah diri menjadi standar dan ukuran untuk memahami sifat-sifat Sang Pencipta. Demikianlah para nabi melihat ego diri. Mereka menyerahkan seluruh kekuasaan yang ada kepada Allah. Mereka menetapkan tiada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dalam pemeliharaan-Nya, dan dalam uluhiyah-Nya. Di tangan-Nya tergenggam kunci perbendaharaan segala sesuatu. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dari sisi yang bening dan hidup ini, Tuhan Yang Maha Penyayang menumbuhkan pohon pengabdian. Ranting-rantingnya yang penuh berkah berbuah di taman alam dalam kondisi mudah untuk dipetik. Buah para nabi, rasul, wali, dan kaum shiddiqin yang cemerlang itu ibarat bintang dalam kegelapan.

Adapun filsafat, ia melihat ego diri dalam pengertian formal; bukan harfiyah, dan dalam wujud asli; bukan asesoris. Mereka menganggapnya sebagai pemilik hakiki. Mereka menganggapnya sebagai hakikat yang permanen. Mereka mengira tugasnya adalah kesempurnaan diri dengan mencintai dirinya sendiri.

Dari sini, berbagai bentuk syirik bermunculan. Di atas ego diri pohon zaqqum kesesatan tumbuh. Dari ranting kekuatan hewani, dengan menganggap baik kekuatan zalim di satu sisi ia membuahkan sejumlah berhala yang menyembah dan di sisi lain membuahkan sesuatu yang disembah.
No Voice