Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 226
(1-357)
Dari ranting kekuatan amarah, ia membuahkan sejumlah Namrud dan Firaun. Dari kekuatan rasional ia membuahkan kalangan materialis dan atheis, serta para filosof yang memberikan satu bagian kepada Tuhan, lalu membagi seluruh kekuasaan-Nya kepada yang lain. Ego diri ibarat hembusan udara dan uap. Namun, lantaran pandangan mereka yang buruk ia menjadi cair, lalu dengan kebiasaan yang ada ia menjadi keras, dengan kelalaian ia menjadi beku, dengan pengingkaran, ia menjadi keruh, dan selanjutnya membesar hingga menelan pemiliknya. Lalu ia mengukur manusia dan sebab kepada dirinya sehingga menjadi sosok yang menentang perintah Tuhannya. Dari sini sejumlah filosof meyakini pengaruh sebab-akibat, penciptaan oleh alam materi, proses kebetulan, pengingkaran kiamat. Mereka dilaknat oleh Allah. Bagaimana mereka bisa berpaling?![1] Setan menyambar mereka dengan paruh ego dan cakarnya.
Ego di alam kecil seperti materi di alam besar. Keduanya termasuk toghut.
Siapa yang kufur kepada toghut dan beriman kepada Allah berarti telah berpegang dengan tali buhul yang kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.[2]
Ketahuilah! Kehidupan amal saleh adalah dengan niat, sementara kerusakannya adalah dengan penglihatan, sikap riya, dan pamer. Urat kepekaan bisa terputus oleh niat dan perasaan sekunder.[3] Apabila niat merupakan kehidupan amal, maka niat di sisi lain juga merupakan kematian kondisi fitri.
Misalnya, niat untuk rendah hati akan merusaknya,[4] niat takabbur melenyapkannya, niat gembira menerbangkannya, dan niat duka merendahkannya.
Ketahuilah! Semua yang terdapat dalam pohon merupakan hukum kesempurnaan. Ia harus tumbuh di atas benih yang berada di perut buah pohon tersebut. Jika tidak didahului oleh yang lain sebagai pohon alam, ia harus memiliki benih telanjang yang tidak terwujud lewat buah. Lalu, haknya untuk mendapat perhatian azali adalah dengan mengenakan salah satu buah pohon yang menjadi dasar ia tumbuh berkembang. Karena itu, buah yang berisi benih sudah pasti lebih agung, lebih mulia, lebih halus, dan lebih tinggi. Nah, alam ini merupakan pohon, elemen-elemennya merupakan ranting, tumbuhan merupakan daunnya, hewan adalah bunganya, sementara manusia itulah buahnya.
-----------------------------------
[1] Q.S. at-Taubah: 30.
[2] Q.S. al-Baqarah: 256.
[3] Dasar kepekaan yang merasakan keberadaan diri adalah naluri fitri yang bisa putus oleh perasaan kedua dan niat.
[4] Maksudnya, niat untuk rendah hati dengan cara dibuat-buat dan dengan perasaan sekunder merusak rendah hati alamiah. Demikian pula dengan niat untuk takabbur dengan perasaan sekunder menghilangkan kemuliaan dan harga diri yang bersifat fitri.
Ego di alam kecil seperti materi di alam besar. Keduanya termasuk toghut.
Siapa yang kufur kepada toghut dan beriman kepada Allah berarti telah berpegang dengan tali buhul yang kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.[2]
Ketahuilah! Kehidupan amal saleh adalah dengan niat, sementara kerusakannya adalah dengan penglihatan, sikap riya, dan pamer. Urat kepekaan bisa terputus oleh niat dan perasaan sekunder.[3] Apabila niat merupakan kehidupan amal, maka niat di sisi lain juga merupakan kematian kondisi fitri.
Misalnya, niat untuk rendah hati akan merusaknya,[4] niat takabbur melenyapkannya, niat gembira menerbangkannya, dan niat duka merendahkannya.
Ketahuilah! Semua yang terdapat dalam pohon merupakan hukum kesempurnaan. Ia harus tumbuh di atas benih yang berada di perut buah pohon tersebut. Jika tidak didahului oleh yang lain sebagai pohon alam, ia harus memiliki benih telanjang yang tidak terwujud lewat buah. Lalu, haknya untuk mendapat perhatian azali adalah dengan mengenakan salah satu buah pohon yang menjadi dasar ia tumbuh berkembang. Karena itu, buah yang berisi benih sudah pasti lebih agung, lebih mulia, lebih halus, dan lebih tinggi. Nah, alam ini merupakan pohon, elemen-elemennya merupakan ranting, tumbuhan merupakan daunnya, hewan adalah bunganya, sementara manusia itulah buahnya.
-----------------------------------
[1] Q.S. at-Taubah: 30.
[2] Q.S. al-Baqarah: 256.
[3] Dasar kepekaan yang merasakan keberadaan diri adalah naluri fitri yang bisa putus oleh perasaan kedua dan niat.
[4] Maksudnya, niat untuk rendah hati dengan cara dibuat-buat dan dengan perasaan sekunder merusak rendah hati alamiah. Demikian pula dengan niat untuk takabbur dengan perasaan sekunder menghilangkan kemuliaan dan harga diri yang bersifat fitri.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence