Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 224
(1-357)
Sebagaimana jarak antara dua permukaan cermin lebih halus daripada kertas padahal perbedaan antara keduanya antara Timur dan Barat, lalu bagaimana kondisi kedua permukaan tadi berubah menjadi tersenyum atau bermuka masam kepadamu hanya dengan menggerakkan kedua sisinya, demikian pula dengan perbuatan manusia. Perbuatan manusia memiliki dua sisi. Dengan adanya niat untuk mencari rida Allah, amal tadi berubah dan memperlihatkan wajah ceria yang memantulkan berbagai manifestasi yang jumlahnya tak terhingga. Sebaliknya, dengan ketiadaan niat atau dengan niat untuk selain Allah, yang tampak adalah wajah hitam yang sama sekali tak berguna. Sisi hitam dan berwarna dari cermin tidak bisa menerima apa-apa. Ia hanya bisa menerima bentuknya yang kecil. Adapun sisi yang bening, karena bersambung dengan barzakh bisa menampung benda yang paling besar sekalipun. Begitulah kehidupan ini. Ia mempunyai dua sisi. Satu sisi mengarah kepada dunia di mana ia berwarna hitam, sempit, dan fana. Satu sisi lagi mengarah kepada kebanaran di mana ia bening, luas, dan kekal. Jiwa yang lalai lantaran menerima bisikan setan memakai sisi yang hitam dan membelakangi sisi yang bening dengan panjang angan-angan.
Ketahuilah! Kunci dunia berada di tangan manusia dan berada dalam dirinya. Meski pintu seluruh entitas terbuka namun keadaannya tertutup. Allah Swt. menitipkan amanat kepada manusia sebagai kunci yang dengannya ia bisa membuka seluruh pintu alam dan sandi untuk membuka perbendaharaan milik Sang Pencipta alam. Kunci tersebut adalah ego yang terdapat dalam dirimu. Hanya saja, ego tersebut juga buta, tertutup, dan terkunci, Apabila engkau membuka ego dengan mengenali esensinya maka seluruh alam menjadi terbuka.
Ya. Allah Swt telah memberikan kepada tangan manusia “ego” untuk menjadikannya sebagai satu standar perkiraan dan asumsi, bukan pengetahuan dan kenyataan, untuk memahami sifat-sifat rububiyah.
Apabila manusia mengetahui ego dirinya dengan melihatnya sebagai satu helai sensitif dalam tali wujud manusia, satu benang halus dalam pakaian esensi manusia, serta huruf alif dalam kitab seseorang, ia memiliki dua sisi: Satu sisi mengarah kepada kebaikan yang dengannya manusia sebagai penerima limpahan karunia ilahi; bukan pelaku. Sisi yang lain mengarah kepada keburukan dan ketiadaan dan dengannya ia sebagai pelaku. Esensinya bersifat ilusi, pemeliharaannya bersifat imajiner, dan eksistensinya sangat lemah tak mampu memikul apapun. Ia seperti termometer atau sejenisnya sebagai alat untuk mengetahui ukuran segala sesuatu. Ego juga merupakan ukuran untuk mengetahui sifat-sifat yang komperehensif dan mutlak milik Wajibul wujud. Manusia mengetahui esensinya seperti yang telah disebutkan. Iapun tunduk pada naungan ayat, “Sungguh beruntung orang yang telah membersihkannya,” serta menunaikan amanat dengan benar.
Apabila engkau memperhatikan ego diri dalam pengertian harfiah, ia menjadi satu wujud yang dengannya engkau bisa memahami dan melihat semua yang terdapat di alam. Pasalnya, apabila berbagai informasi langit datang, ia sampai kepadanya sebagai sesuatu yang membenarkan. Apabila dipahami, maka selesailah tugas ego berikut kekuasaan dan kepemilikannya yang diasumsikan sebelumnya. Maka, ego itupun kembali dari wujud hakiki menuju wujud ilusi. Adapun jika engkau melihat ego diri dalam pengertian sebenarnya lalu engkau meyakininya sebagai pemilik dan menghianati amanah yang ada, berarti engkau masuk ke dalam bagian firman-Nya, “Sungguh merugi orang yang mengotorinya.” Pasalnya, amanah yang takut untuk dipikul oleh langit, bumi, dan gunung adalah ego diri dilihat dari sisi ini.
Ketahuilah! Kunci dunia berada di tangan manusia dan berada dalam dirinya. Meski pintu seluruh entitas terbuka namun keadaannya tertutup. Allah Swt. menitipkan amanat kepada manusia sebagai kunci yang dengannya ia bisa membuka seluruh pintu alam dan sandi untuk membuka perbendaharaan milik Sang Pencipta alam. Kunci tersebut adalah ego yang terdapat dalam dirimu. Hanya saja, ego tersebut juga buta, tertutup, dan terkunci, Apabila engkau membuka ego dengan mengenali esensinya maka seluruh alam menjadi terbuka.
Ya. Allah Swt telah memberikan kepada tangan manusia “ego” untuk menjadikannya sebagai satu standar perkiraan dan asumsi, bukan pengetahuan dan kenyataan, untuk memahami sifat-sifat rububiyah.
Apabila manusia mengetahui ego dirinya dengan melihatnya sebagai satu helai sensitif dalam tali wujud manusia, satu benang halus dalam pakaian esensi manusia, serta huruf alif dalam kitab seseorang, ia memiliki dua sisi: Satu sisi mengarah kepada kebaikan yang dengannya manusia sebagai penerima limpahan karunia ilahi; bukan pelaku. Sisi yang lain mengarah kepada keburukan dan ketiadaan dan dengannya ia sebagai pelaku. Esensinya bersifat ilusi, pemeliharaannya bersifat imajiner, dan eksistensinya sangat lemah tak mampu memikul apapun. Ia seperti termometer atau sejenisnya sebagai alat untuk mengetahui ukuran segala sesuatu. Ego juga merupakan ukuran untuk mengetahui sifat-sifat yang komperehensif dan mutlak milik Wajibul wujud. Manusia mengetahui esensinya seperti yang telah disebutkan. Iapun tunduk pada naungan ayat, “Sungguh beruntung orang yang telah membersihkannya,” serta menunaikan amanat dengan benar.
Apabila engkau memperhatikan ego diri dalam pengertian harfiah, ia menjadi satu wujud yang dengannya engkau bisa memahami dan melihat semua yang terdapat di alam. Pasalnya, apabila berbagai informasi langit datang, ia sampai kepadanya sebagai sesuatu yang membenarkan. Apabila dipahami, maka selesailah tugas ego berikut kekuasaan dan kepemilikannya yang diasumsikan sebelumnya. Maka, ego itupun kembali dari wujud hakiki menuju wujud ilusi. Adapun jika engkau melihat ego diri dalam pengertian sebenarnya lalu engkau meyakininya sebagai pemilik dan menghianati amanah yang ada, berarti engkau masuk ke dalam bagian firman-Nya, “Sungguh merugi orang yang mengotorinya.” Pasalnya, amanah yang takut untuk dipikul oleh langit, bumi, dan gunung adalah ego diri dilihat dari sisi ini.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence