Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 272
(1-357)
Manusiapun masuk dan terbagi menjadi dua kelompok: satu kelompok melihat kepada apa yang terdapat pada istana seraya berkata, “Sungguh menakjubkan.” Mereka melihat sang guru seraya berujar, “Assalamu alaik! Istana semacam ini memang membutuhkan orang sepertimu. Ajarkan kepada kami apa yang diajarkan oleh Majikanmu. Maka, ia berbicara dan mereka memperhatikan serta mengambil pelajaran darinya. Mereka juga melakukan apa yang disenangi oleh raja. Kemudian raja mengajak mereka untuk menuju istana khusus yang sulit untuk digambarkan. Dia memuliakan mereka dengan sesuatu yang layak bagi orang seperti mereka di istana tersebut. Sementara kelompok lain hanya memperhatikan berbagai makanan yang ada. Mereka seperti orang yang buta dan tuli. Mereka makan layaknya binatang lalu tidur, dan minum dari minuman yang tidak layak diminum. Akhirnya mereka mabuk dan mengganggu yang lain. Melihat hal tersebut pasukan raja menangkap mereka dan melemparkan mereka ke dalam penjara yang layak atas mereka.
Engkau mengetahui bahwa ketika raja membangun istana tersebut untuk tujuan tadi, sementara untuk mencapai tujuan itu terkait dengan keberadaan guru dan bagaimana manusia memperhatikannya, maka layak kalau dikatakan bahwa andaikan guru tersebut tidak ada tentu sang raja tidak akan membangun istana. Jika manusia tidak memperhatikan pengajaran guru istana itu akan rusak dan berganti.
Apabila engkau memahami rahasia perumpanaan di atas, perhatikan gambaran sebenarnya. İstana yang dimaksud adalah alam yang atapnya disinari dengan sejumlah lentera cemerlang, lalu lantainya dihiasi dengan bunga-bunga yang indah. Adapun raja adalah Penguasa azali dan abadi yang, “Langit yang tujuh serta bumi, berikut semua isinya bertasbih kepada-Nya. Segala sesuatu bertasbih memujin-Nya.”[1] “Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Serta, (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang di mana masing-masing tunduk kepada perintah-Nya.”[2]
Selanjutnya rumah-rumah yang dimaksud adalah sejumlah alam yang indah di mana masing-masing sesuai dengan kondisinya. Ciptaan yang menakjubkan mengacu kepada mukjizat qudrat-Nya. Lalu maksud dari makanan adalah buah rahmat-Nya yang luar biasa. Dapur dan perapiannya berupa bumi dan permukaannya. Sementara, kekayaan yang tersembunyi dan permatanya berupa nama-nama Allah berikut manifestasinya. Ukiran dan simbolnya berupa tatanannya yang berupa simbol berikut petunjuk yang mengarah kepada nama Pembuatnya. Kemudian guru, kolega, dan muridnya, adalah junjungan kita, Nabi Muhammad saw berikut para nabi, dan wali. Orang-orang dekat raja adalah para malaikat. Sementara, para musafir yang diundang untuk berjalan-jalan dan mendapat jamuan adalah manusia berikut hewannya. Kedua kelompok tadi adalah kaum beriman dan penggenggam Alquran yang menjelaskan kepada pengikutnya pengertian dari ayat-ayat kitab alam. Adapun kelompok lainnya berupa kaum kafir dan tiran yang mengikuti hawa nafsu dan setan. Mereka tuli, bisu, dan buta. Mereka seperti binatang, bahkan lebih sesat. Yang mereka kenal hanyalah kehidupan dunia.
------------------------
[1] Q.S. al-Isra: 44.
[2] Q.S. al-A’râf: 54.
Engkau mengetahui bahwa ketika raja membangun istana tersebut untuk tujuan tadi, sementara untuk mencapai tujuan itu terkait dengan keberadaan guru dan bagaimana manusia memperhatikannya, maka layak kalau dikatakan bahwa andaikan guru tersebut tidak ada tentu sang raja tidak akan membangun istana. Jika manusia tidak memperhatikan pengajaran guru istana itu akan rusak dan berganti.
Apabila engkau memahami rahasia perumpanaan di atas, perhatikan gambaran sebenarnya. İstana yang dimaksud adalah alam yang atapnya disinari dengan sejumlah lentera cemerlang, lalu lantainya dihiasi dengan bunga-bunga yang indah. Adapun raja adalah Penguasa azali dan abadi yang, “Langit yang tujuh serta bumi, berikut semua isinya bertasbih kepada-Nya. Segala sesuatu bertasbih memujin-Nya.”[1] “Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Serta, (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang di mana masing-masing tunduk kepada perintah-Nya.”[2]
Selanjutnya rumah-rumah yang dimaksud adalah sejumlah alam yang indah di mana masing-masing sesuai dengan kondisinya. Ciptaan yang menakjubkan mengacu kepada mukjizat qudrat-Nya. Lalu maksud dari makanan adalah buah rahmat-Nya yang luar biasa. Dapur dan perapiannya berupa bumi dan permukaannya. Sementara, kekayaan yang tersembunyi dan permatanya berupa nama-nama Allah berikut manifestasinya. Ukiran dan simbolnya berupa tatanannya yang berupa simbol berikut petunjuk yang mengarah kepada nama Pembuatnya. Kemudian guru, kolega, dan muridnya, adalah junjungan kita, Nabi Muhammad saw berikut para nabi, dan wali. Orang-orang dekat raja adalah para malaikat. Sementara, para musafir yang diundang untuk berjalan-jalan dan mendapat jamuan adalah manusia berikut hewannya. Kedua kelompok tadi adalah kaum beriman dan penggenggam Alquran yang menjelaskan kepada pengikutnya pengertian dari ayat-ayat kitab alam. Adapun kelompok lainnya berupa kaum kafir dan tiran yang mengikuti hawa nafsu dan setan. Mereka tuli, bisu, dan buta. Mereka seperti binatang, bahkan lebih sesat. Yang mereka kenal hanyalah kehidupan dunia.
------------------------
[1] Q.S. al-Isra: 44.
[2] Q.S. al-A’râf: 54.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence