Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 271
(1-357)
Kami bersaksi tiada Tuhan selain Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu. Milik-Mu segala kekuasaan dan pujian. Kami meminta ampun dan bertobat kepada-Mu. Kami juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Mu, nabi-Mu, kekasih-Mu, dan rasul-Mu yang Kau utus sebagai rahmat bagi semesta alam. Limpahkan salat dan salam kepada beliau, keluarga, dan sahabatnya selama-lamanya. Amin.
Penjelasan esensi ayat yang berbunyi,
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.[1]
Ketahuilah[2] wahai Said yang lupa kepada dirimu dan tugas hidupmu, yang lalai terhadap hikmah penciptaan manusia, yang tidak mengetahui apa yang diletakkan oleh Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana dalam ciptaan yang indah ini. Membangun alam ini dan memasukkan manusia ke dalamnya seperti seorang raja yang memiliki perbendaharaan berisi beragam permata. Ia memiliki kekayaan yang tersimpan, kemampuan dalam mencipta berbagai keajaiban, pengetahuan tentang ilmu-ilmu menakjubkan yang jumlahnya tak terhingga. Lalu, raja tersebut ingin memperlihatkan kekuasaan-Nya, kekayaan-Nya, ciptaan-Nya yang luar biasa, serta pengetahuan-Nya yang mencengangkan ke hadapan seluruh makhluk. Dengan kata lain, Dia ingin mempersaksikan kesempurnaan-Nya, keindahan-Nya, dan keagungan maknawiyah-Nya lewat dua sisi: pandangan-Nya dan pandangan selain-Nya.
Maka, Dia membangun istana yang besar berikut rumah dan paviliunnya. Dia hiasi bangunan tersebut dengan permata kekayaan-Nya, Dia ukir dengan hiasan kreasi-Nya yang lembut, Dia tata dengan detil-detil hikmah-Nya, Dia tandai dengan mukjizat jejak pengetahuan-Nya, Dia hamparkan padanya hidangan nikmat-Nya yang lezat, serta berbagai kesempurnaan tersembunyi lainnya. Dia mengundang rakyat-Nya untuk berjalan dan bersenang-senang. Dia menjamu mereka dengan hidangan yang tidak pernah ada seakan-akan sesuap darinya adalah contoh dari ratusan kreasi indah. Kemudian Dia tetapkan seorang guru untuk memperkenalkan simbol-simbol tulisan, isyarat ciptaan, serta berbagai petunjuk dari hiasan yang rapi dan permata yang tertata yang menunjukkan kesempurnaan Pemiliknya yang terdapat di istana. Guru tersebut juga diangkat untuk mengajarkan manusia tentang adab-adab masuk dan berinteraksi dengan Pencipta Istana. Maka ia berkata kepada mereka,
“Wahai manusia, Rajaku memperkenalkan diri kepada kalian dengan memperlihatkan semua yang terdapat di sini. Karena itu, kenalilah ia! Dia menunjukkan cinta-Nya kepada kalian dengan semua hiasan indah ini. Karena itu, tunjukkan cinta kalian kepada-Nya dengan berbuat baik. Dia memperlihatkan kasih-Nya kepada kalian dengan semua kebaikan ini, karena itu cintailah Dia. Dia memberikan rahmat-Nya kepada kalian, maka bersyukurlah kepada-Nya. Dia memperlihatkan diri kepada kalian, mara rindukanlah Dia!” Begitulah yang layak dikatakan kepada mereka yang masuk.
---------------------------------
[1] Q.S. adz-Dzâriyât: 56.
[2] Pelajaran kesepuluh dari “Pengantar Menuju Cahaya”. Ia adalah rangkuman kata kesebelas berikut benihnya.
Penjelasan esensi ayat yang berbunyi,
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.[1]
Ketahuilah[2] wahai Said yang lupa kepada dirimu dan tugas hidupmu, yang lalai terhadap hikmah penciptaan manusia, yang tidak mengetahui apa yang diletakkan oleh Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana dalam ciptaan yang indah ini. Membangun alam ini dan memasukkan manusia ke dalamnya seperti seorang raja yang memiliki perbendaharaan berisi beragam permata. Ia memiliki kekayaan yang tersimpan, kemampuan dalam mencipta berbagai keajaiban, pengetahuan tentang ilmu-ilmu menakjubkan yang jumlahnya tak terhingga. Lalu, raja tersebut ingin memperlihatkan kekuasaan-Nya, kekayaan-Nya, ciptaan-Nya yang luar biasa, serta pengetahuan-Nya yang mencengangkan ke hadapan seluruh makhluk. Dengan kata lain, Dia ingin mempersaksikan kesempurnaan-Nya, keindahan-Nya, dan keagungan maknawiyah-Nya lewat dua sisi: pandangan-Nya dan pandangan selain-Nya.
Maka, Dia membangun istana yang besar berikut rumah dan paviliunnya. Dia hiasi bangunan tersebut dengan permata kekayaan-Nya, Dia ukir dengan hiasan kreasi-Nya yang lembut, Dia tata dengan detil-detil hikmah-Nya, Dia tandai dengan mukjizat jejak pengetahuan-Nya, Dia hamparkan padanya hidangan nikmat-Nya yang lezat, serta berbagai kesempurnaan tersembunyi lainnya. Dia mengundang rakyat-Nya untuk berjalan dan bersenang-senang. Dia menjamu mereka dengan hidangan yang tidak pernah ada seakan-akan sesuap darinya adalah contoh dari ratusan kreasi indah. Kemudian Dia tetapkan seorang guru untuk memperkenalkan simbol-simbol tulisan, isyarat ciptaan, serta berbagai petunjuk dari hiasan yang rapi dan permata yang tertata yang menunjukkan kesempurnaan Pemiliknya yang terdapat di istana. Guru tersebut juga diangkat untuk mengajarkan manusia tentang adab-adab masuk dan berinteraksi dengan Pencipta Istana. Maka ia berkata kepada mereka,
“Wahai manusia, Rajaku memperkenalkan diri kepada kalian dengan memperlihatkan semua yang terdapat di sini. Karena itu, kenalilah ia! Dia menunjukkan cinta-Nya kepada kalian dengan semua hiasan indah ini. Karena itu, tunjukkan cinta kalian kepada-Nya dengan berbuat baik. Dia memperlihatkan kasih-Nya kepada kalian dengan semua kebaikan ini, karena itu cintailah Dia. Dia memberikan rahmat-Nya kepada kalian, maka bersyukurlah kepada-Nya. Dia memperlihatkan diri kepada kalian, mara rindukanlah Dia!” Begitulah yang layak dikatakan kepada mereka yang masuk.
---------------------------------
[1] Q.S. adz-Dzâriyât: 56.
[2] Pelajaran kesepuluh dari “Pengantar Menuju Cahaya”. Ia adalah rangkuman kata kesebelas berikut benihnya.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence