Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 268
(1-357)
Sebaliknya, istidraj, tersingkap baginya gambaran berbagai hal gaib sementara ia dalam kondisi lalai atau sedang melakukan aktivitas yang aneh. Ia bersandar kepada diri dan kemampuannya sehingga semakin ego dan lupa diri. Ia berkata, “Aku diberi ini karena pengetahuanku.[1] Ia tersingkap untukku karena jiwaku bersih dan kalbuku bersinar.”

Karena itu tidak ada kerancuan antara orang yang mendapat istidraj dan orang yang mendapat derajat kewalian pada tingkatan pertengahan.

Adapun wujud fana yang sempurna dari kalangan yang berada di tingkatan tinggi di mana berbagai hal gaib dengan ijin Allah tersingkap oleh mereka, mereka melihatnya dengan indera mereka yang merupakan milik Allah. Perbedaannya menjadi lebih jelas. Pasalnya, cahaya batin mereka yang terpancar keluar lebih jelas dalam melihat gelapnya orang yang riya yang mengajak kepada egonya.

Segala sesuatu bertasbih memuji-Nya.[2]

Ketahuilah! Tasbih dan ibadah memiliki bentuk yang tak terbatas dalam segala hal. Masing-masing tidak mesti selalu bisa merasakan semua bentuk tasbih dan ibadahnya. Pasalnya, tasbih tidak mesti disertai kehadiran hati secara sempurna. Hal itu seperti pegawai bodoh yang bekerja di sebuah kapal Pemiliknya yang telah menugaskannya untuk menekan tombol listrik pada waktu-waktu tertentu. Pegawai tersebut tidak mengetahui berbagai tujuan berharga dari pekerjaannya. Ia hanya mengetahui upah dan nikmatnya menerima ganjaran. Sehingga kadang ia mengira bahwa mengadaan pekerjaan tersebut untuk kenikmatan di atas. İa laksana hewan yang tidak mengetahui tujuan berpasangan kecuali kenikmatan memenuhi syahwat. Ketidaktahuannya ini sama sekali tidak membahayakan bagi pemerolehan keturunan yang merupakan salah satu tujuan yang diinginkan oleh Pemiliknya.

Ia juga seperti semua yang membersihkan permukaan bumi dari berbagai jenazah binatang kecil meskipun ia tidak mengetahui kecuali untuk memenuhi keinginannya. Atau seperti laba-laba yang menghias wajah angkasa, kepala tumbuhan dan bebatuan dengan untaian suteranya yang berkilau untuk berpacu dengan kutu, sementara yang ia ketahui bagaimana membuat perangkap dan memantau sesuatu yang terbang padanya untuk kemudian dikejar. İa juga seperti jam yang memberitahukan hitungan berlalunya usiamu setiap hari. Yang ia ketahui hanya gerak tutup buka yang berlangsung secara terus-menerus. Ia juga seperti lebah yang telah membuat apa yang ia buat berdasarkan manisnya wahyu yang bercampur dengan kenikmatan miliknya. Ia juga seperti induk tumbuhan, hewan, dan manusia yang bekerja untuk nikmatnya kasih sayang. Ketidaktahuannya terhadap tujuan hakiki tidak membuat mereka meninggalkan tujuan yang menghias rumah alam ini. Bahkan seolah-olah kasih sayang tersebut merupakan benih dan mistar untuk mengukur tujuan tersebut.
--------------------------------
[1] Q.S. al-Qashash: 78.
[2] Q.S. al-Isra: 44.
No Voice