Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 267
(1-357)
Sisi yang lain mengarah kepada Pemberi nikmat. Dia menampakkan kemurahannya, memperlihatkan rahmat-Nya, menyeru kepada nikmat-Nya, serta bersaksi atas nama-Nya. Demikianlah yang tampak dari tanda-tanda manifestasi-Nya dalam pemberian nikmat-Nya. Sikap tawadhu’ baru terwujud jika melihat kepada sisi pertama. Jika tidak, ia berisi kekufuran. Sementara, mengungkap nikmat merupakan bentuk syukur maknawi yang terpuji jika mengarah kepada sisi kedua. Jika tidak, ia akan berisi sikap sombong dan lupa diri.

Wahai Yusuf [1] jika engkau memakai baju mewah yang mahal untuk saudaramu, Yusuf lalu Said berkata kepadamu, “Indah sekali!” maka, ucapkan, “Keindahan tersebut ada pada pakaian ini; bukan pada diriku.” Dengan demikian, engkau telah menunjukkan sikap tawadhu’ dalam berbicara.

Ketahuilah! Mengawasi, dengki, dan iri muncul ketika pengambilan upah, pembagi-bagian hadiah, serta perhatian terhadapnya. Adapun di saat mengabdi dan di saat beramal, hal itu tidak muncul. Namun, yang lemah mencintai yang kuat, yang lebih rendah condong kepada yang lebih tinggi. Ia memandang keunggulannya sebagai sebuah kebaikan. Dan ia senang manakala ibadahnya lebih banyak. Pasalnya, beban ibadah dan amal terasa ringan baginya. Apabila dunia merupakan negeri pengabdian dan amal untuk urusan agama dan akhirat semata, maka pengawasan dan kedengkian akan masuk di dalamnya. Apabila ia sudah masuk ke dalamnya, maka yang muncul adalah tidak adanya keikhlasan. Orang yang melakukan amal tersebut melihat kepada upah dunia pula yang berupa penghargaan orang. Orang malang ini tidak sadar bahwa keinginannya diperhatikan orang telah membuat amalnya terhapus karena tidak adanya keikhlasan dengan mengikutsertakan manusia sebagai sekutu Tuhan dalam memberikan pahala. Dengan itu, ia juga telah memperlemah kekuatannya dengan menjauhkan orang lain tidak mau menolongnya.

Ketahuilah! Karomah berbeda dengan istidraj. Karomah laksana mukjizat. Ia merupakan perbuatan Allah. Pemiliknya memahami bahwa ia berasal dari Allah; bukan berasal dari dirinya. Ia yakin bahwa Tuhan yang melindungi, mengawasi, dan memilihkan yang terbaik untuknya. Iapun bertambah yakin dan tawakkal. Kadangkala ia juga merasakan detil-detil karomah itu dengan ijin Allah. Namun kadangkala ia tidak merasakannya dan ini yang lebih utama serta lebih selamat. Misalnya Allah membuatnya bisa mengutarakan sesuatu yang terdapat di kalbu seseorang, atau ia dihadirkan untuknya di saat sadar untuk memberikan petunjuk, sementara ia tidak mengetahui apa yang Allah perbuat untuk para hamba-Nya.

[1] Dialog dengan salah seorang murid Ustadz Nursi generasi awal.
No Voice