Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 266
(1-357)
Mungkinkah dalam kebaikan yang paling menarik dan indah, serta keindahan yang paling mencengangkan dan sempurna terdapat keburukan yang paling menakjubkan dan kekurangan yang paling aneh?! Yaitu Zat yang mendengar bisikan kebutuhan yang paling samar yang diucapkan oleh makhluk yang paling tersembunyi tidak mendengar suara paling nyaring, munajat terindah, doa teragung terkait dengan kebutuhan yang paling utama yang naik dari bumi menuju Arasy. Tentu saja tidak benar. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Ya, muamalah ini termasuk tingkatan syafaat beliau yang paling luas dan bagian dari keberadaan beliau sebagai rahmat bagi semesta alam.

Ketahuilah! Aku sering bertemu dengan orang-orang lalai yang beralasan dengan takdir. İa bergulat dengan bagian upaya manusiawi dan penciptaan perbuatan. Di samping dengan lisan kelalaian mereka mengingkari takdir dan memberikan kendali kepada proses kebetulan, mereka menganggap diri mereka sebagai pelaku mutlak. Mereka membagi milik dan kreasi Allah kepada manusia seperti mereka dan kepada sebab. Jiwa yang kafir dan lalai secara batini merampas semuanya meski secara lahiri menetapkan. Sementara jiwa mukmin yang mengenal Allah, menetapkan bahwa segala sesuatu merupakan milik-Nya dengan penuh iman dan ketundukan. Kedua persoalan ini dalam ilmu kalam merupakan tujuan dari batas tawakkal dan iman serta tauhid dan Islam bagi kalangan arif, sekaligus merupakan garis pemisah bagi orang-orang yang lalai. Di mana kalian wahai orang-orang yang alpa yang menjadi seperti Firaun dalam ego kalian?! Bagaimana kalian bisa merealisasikan kedua hal ini. Jika engkau naik dalam hal penghambaan menuju tingkatan menafikan bagian usaha manusia dan tingkatan mengembalikan segala sesuatu kepada takdir, hal itu baik bagimu. Pasalnya dalam dirimu terdapat sedikit kondisi mabuk. Keduanya merupakan persoalan iman; bukan ilmiah semata.

Ketahuilah![1] Sikap tawadhu’ kadangkala menafikan pengungkapan nikmat. Sebab, pengungkapan nikmat bisa mengarah kepada sikap sombong dan lupa diri. Karena itu perlu kecermatan, perhatian, serta menjauhi sikap berlebihan dan mengabaikan.

Istiqomah memiliki neraca. Yaitu setiap nikmat memiliki dua sisi:

Sisi yang mengarah kepada orang yang diberi nikmat sehingga hal itu membuatnya indah, istimewa, senang, dan bangga. Akhirnya ia terjatuh dalam kondisi mabuk sehingga lupa kepada Pemiliknya. Ia merasa memiliki dan mengira bahwa kesempuranaan terletak pada kepemilikan pribadi. Iapun menjadi sombong dengan sesuatu yang tak layak.
--------------------------
[1] Persoalan ketujuh dari tulisan kedua puluh delapan menjelaskan bahasan di atas.
No Voice