Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 269
(1-357)
Cukuplah bagi yang bertasbih dan beribadah pengetahuan mereka tentang bagaimana cara beramal dan bekerja. Hal ini sebagaimana yang Allah tegaskan, “Masing-masing mengetahui cara salat dan tasbihnya.”[1] Mereka tidak harus mengetahui keberadaan amal mereka sebagai tasbih yang khusus atau kesadaran mereka tentang sifat ibadah tertentu. Cukup bagi mereka perasaan semua saudara mereka yang merenungkan berbagai bentuk ibadah dan tasbih yang terdapat dalam aktivitas mereka. Bahkan cukup mereka kalau hal itu diketahui oleh Tuhan. Karena tidak ada ujian dalam pemberian beban, maka niat tidak menjadi sebuah keharusan. Mereka tidak harus menyadari apa yang sedang mereka perbuat. Yang jelas semua ciptaan pada dasarnya merupakan untaian tasbih yang memberikan begitu banyak makna. Lalu untaian kata itu bertasbih dengan lisannya sebagaimana zatnya. Pada untaian kata tersebut terdapat makhluk lain yang bertasbih. Di dalam makhluk ini juga terdapat makhluk kecil yang bertasbih. Lalu ada makhluk yang lebih kecil lagi yang bertasbih. Demikian seterusnya seperti yang diinginkan oleh Zat Yang Mahasuci dan Mulia, tiada Tuhan selain Dia.
Ketahuilah! Berbagai nikmat, keindahan, dan perangkat halus yang diutus kepadamu dan menghiasimu dari kepala hingga kaki, semuanya melewati “timbangan” yang berasal dari hijab yang berbeda-beda. Ia muncul lewat tatanan yang berasal dari sejumlah balutan. Ia mengarah kepadamu lewat keteraturan yang berasal dari balik kelompok yang berbeda-beda.
Ketahuilah! Dalam jiwa terdapat hal halus laksana dirham dari kepingan tipis. Kukira ia adalah teropong keabadian. Pasalnya, ketika disentuh oleh sesuatu pasti ia diberi hukum keabadian. Apabila ia dipergunakan oleh hawa nafsu dan selera rendahan, ia menjadi perangkat untuk mengambil bebatuan dan pilar-pilar akhirat ke dunia. Maka, ia membangun istana di atasnya sehingga lalu memakan buah akhirat yang tidak matang di dunia yang fana ini.
Ketahuilah! Nafsu atau jiwa manusia adalah sesuatu yang menakjubkan. İa merupakan perbendaharaan yang tidak terhitung dan timbangan yang tak terhingga untuk menjangkau manifestasi kekayaan nama-nama-Nya manakala ia dalam kondisi bersih. Namun, ia menjadi goa sarang ular dan kalajengking serta berbagai serangga ketika berada dalam kondisi kotor dan melampaui batas. Yang paling utama adalah tetap ada; bukan lenyap. Keberadaannya bersama proses penyucian sebagaimana dijalani oleh para sahabat adalah lebih sesuai daripada kematiannya seperti yang dijalani oleh sebagian besar wali.
Ya, dalam bakteri jiwa terdapat rasa lapar yang sangat, kebutuhan yang besar, dan cita rasa yang menakjubkan. Apabila karakteristiknya berubah rasa tamaknya yang tercela berbalik menjadi kerinduan yang tak pernah kenyang. Lupa dirinya yang buruk berubah menjadi sarana selamat dari berbagai bentuk kemusyrikan. Cinta yang amat sangat terhadap diri berubah menjadi cinta kepada Tuhan. Demikian seterusnya sehingga semua keburukannya berubah menjadi kebaikan.
-------------------------
[1] Q.S. an-Nur: 41.
Ketahuilah! Berbagai nikmat, keindahan, dan perangkat halus yang diutus kepadamu dan menghiasimu dari kepala hingga kaki, semuanya melewati “timbangan” yang berasal dari hijab yang berbeda-beda. Ia muncul lewat tatanan yang berasal dari sejumlah balutan. Ia mengarah kepadamu lewat keteraturan yang berasal dari balik kelompok yang berbeda-beda.
Ketahuilah! Dalam jiwa terdapat hal halus laksana dirham dari kepingan tipis. Kukira ia adalah teropong keabadian. Pasalnya, ketika disentuh oleh sesuatu pasti ia diberi hukum keabadian. Apabila ia dipergunakan oleh hawa nafsu dan selera rendahan, ia menjadi perangkat untuk mengambil bebatuan dan pilar-pilar akhirat ke dunia. Maka, ia membangun istana di atasnya sehingga lalu memakan buah akhirat yang tidak matang di dunia yang fana ini.
Ketahuilah! Nafsu atau jiwa manusia adalah sesuatu yang menakjubkan. İa merupakan perbendaharaan yang tidak terhitung dan timbangan yang tak terhingga untuk menjangkau manifestasi kekayaan nama-nama-Nya manakala ia dalam kondisi bersih. Namun, ia menjadi goa sarang ular dan kalajengking serta berbagai serangga ketika berada dalam kondisi kotor dan melampaui batas. Yang paling utama adalah tetap ada; bukan lenyap. Keberadaannya bersama proses penyucian sebagaimana dijalani oleh para sahabat adalah lebih sesuai daripada kematiannya seperti yang dijalani oleh sebagian besar wali.
Ya, dalam bakteri jiwa terdapat rasa lapar yang sangat, kebutuhan yang besar, dan cita rasa yang menakjubkan. Apabila karakteristiknya berubah rasa tamaknya yang tercela berbalik menjadi kerinduan yang tak pernah kenyang. Lupa dirinya yang buruk berubah menjadi sarana selamat dari berbagai bentuk kemusyrikan. Cinta yang amat sangat terhadap diri berubah menjadi cinta kepada Tuhan. Demikian seterusnya sehingga semua keburukannya berubah menjadi kebaikan.
-------------------------
[1] Q.S. an-Nur: 41.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence