Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 298
(1-357)
Ketahuilah di antara limpahan Alquran yang masuk ke dalam kalbu setelah banyak mengingatnya adalah proses menghidupkan bumi dan bagaimana perhatian manusia ditarik kepada tanah. Bumi adalah jantung alam, sementara tanah adalah jantung bumi. Jalan terdekat menuju tujuan adalah dengan pergi ke dalam tanah lewat pintu tawadhuk, lenyap, dan fana. Bahkan, ia lebih dekat daripada kepada Sang Pencipta daripada langit yang paling tinggi. Pasalnya, di alam ini tidak terdapat sesuatu yang bisa menyamai tanah dalam memantulkan rububiyah-Nya, efektivitas qudrat-Nya, penampakan penciptaan-Nya, serta keberadaannya sebagai manifestasi nama Zat Yang Mahahidup dan berdiri sendiri.

Demikianlah. Sebagaimana arasy rahmat-Nya berada di atas air, maka arasy kehidupan dan proses menghidupkan berada di atas tanah. Tanah merupakan cermin yang paling integral dan sempurna. Pasalnya, cermin makhluk semakin tipis dan bening maka semakin bisa memperlihatkan gambar makhluk dengan lebih jelas, lebih tampak, dan lebih sempurna. Hal ini berbeda dengan cermin Allah yang bercahaya, di mana semakin tebal maka manifestasi nama-nama Allah padanya semakin terlihat sempurna. Tidakkah engkau melihat udara. Yang ia ambil dari limpahan mentari hanya cahaya yang lemah. Air meski memperlihatkan mentari lewat sinarnya, namun ia tidak mengurai warna-warninya. Sementara, tanah lewat berbagai bunganya memperlihatkan kepadamu hamparan tujuh warna berikut susunannya yang bercampur dalam cahayanya. Padahal, mentari tersebut merupakan tetesan yang berkilau dan tebal jika diukur dengan cahaya mentari azali. Hiasan yang terdapat pada tanah dan keindahannya pada musim semi berikut bunga-bunga halus yang jumlahnya tak terhingga dan aneka hewan indah yang menyerukan kesempurnaan rububiya-Nya tampak dengan jelas. Engkau bisa melihat kepada yang satu ini yang dalam bahasa Turki disebut dengan Harjai Mankasyah.[1] Lihatlah bagaimana tangan Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana dalam menggoreskan warna-warni dan hiasannya. Ia hadir menatap kepadamu dengan wajah tersenyum, tidak cemberut, dalam dua puluh rupa.

Mahasuci Zat yang berkenalan dengan kita lewat kreasi-Nya yang halus dan indah. Dia memperkenalkan seluruh makhluk dalam kekuasaan-Nya lewat berbagai sentuhan-Nya yang menakjubkan terhadap tanah. Di antara yang menjelaskan hal ini adalah hadits yang berbunyi, “Jarak terdekat seorang hamba dengan Tuhan adalah ketika bersujud.”[2]

Jika demikian kondisinya, jangan merasa asing dengan tanah serta jangan takut terhadap kubur dan tinggal di dalamnya.
----------------------------
[1] Sejenis bunga Aster yang rindang.
[2] Lanjutan haditsnya berbunyi, “Karena itu, perbanyaklah berdoa!” (HR Muslim no. 482, Abu Daud no. 875, an-Nasai 2/226, dari Abu Hurayrah).
No Voice