Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 297
(1-357)
Ketahuilah bahwa perhatian, bantuan, dan perbuatan para wali lewat sejumlah limpahan karunia-Nya merupakan sejenis doa entah terwujud dengan keadaan mereka atau perbuatan. Yang memberikan petunjuk adalah Allah. Dialah yang menolong dan membantu. Ada sesuatu yang tampak kepadaku, hanya saja kurang begitu jelas. Yaitu bahwa dalam diri manusia terdapat perangkat halus dan kondisi yang apabila manusia berdoa dengan lisannya—meski ia fasik—pasti akan diterima. Ya, itulah perangkat halus yang apabila bersumpah atas nama Allah, pasti akan dibenarkan.
Ketahuilah wahai yang meyakini masa lalu dan meragukan masa depan. Bawalah dirimu kepada dua masa sebelumnya. Posisikan dirimu sebagai kakekmu yang berada di pertengahan pohon nasabmu. Lalu lihatlah nenek moyangmu yang merupakan entitas masa lalu. Setelah itu perhatikan anak-anakmu yang datang secara berurutan darimu menuju kepadamu di mana mereka merupakan entitas yang bersifat mungkin di masa sesudahnya. Apakah engkau melihat perbedaan antara dua sisi tersebut? Tentu saja tidak. Entah dilihat dari sisi keteraturannya, ataupun dilihat dari sisi yang dianggap sebagai kebetulan. Namun, sebagaimana yang pertama tercipta dengan pengetahuan dan kecermatan yang dilihat oleh Penciptanya demikian pula dengan yang kedua. Ia juga akan dibuat demikian dalam kondisi terlihat oleh Penciptanya sebelum keberadaannya. Karena itu, proses menghidupkan kembali nenek moyangmu tidak lebih aneh daripada menghadirkan anak-anakmu. Bahkan, hal itu lebih mudah darinya. Allah befirman, “Proses menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.”[1] Analogikanlah hal parsial tersebut dengan semua yang bersifat komprehensif agar engkau bisa melihat berbagai kejadian masa lalu sebagai mukjizat yang menjadi petunjuk bahwa Penciptanya Mahakuasa atas segala hal yang bersifat mungkin ada di masa mendatang, sekaligus Maha Mengetahui detil-detilnya, serta Maha Mencakup dan Melihatnya.
Ya. Sebagaimana berbagai entitas yang tampak dan benda-benda tinggi yang terdapat dalam kebun alam ini merupakan mukjizat yang bersaksi dan menyeru bahwa Penciptanya Mahakuasa atasa segala sesuatu dan Maha Mengetahui segala sesuatu, demikian pula dengan tumbuhan yang berwarna-warni yang mekar dan bertebaran serta hewan yang beragam dan tersebar di taman bumi. Semuanya merupakan kreasi luar biasa yang menegaskan bahwa Penciptanya Mahakuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Bagi kekuasaan-Nya sama saja antara partikel dan mentari, antara menebarkan buah pohon dan membangkitkan anak-anak manusia. Ya, menumbuhkan bunga di pohon yang tersebar di rantingnya yang halus tidak lebih mudah daripada membangkitkan manusia di atas tulang-belulang mereka yang hancur dan berserakan.
Ketahuilah bahwa betapa banyak nikmat seperti tetes perasan yang terwujud dengan sangat rapi yang berasal dari seluruh alam laksana buah pohon. Jika ia merupakan hasil perasan hakikat padahal jaraknya sangat jauh, maka Pemberi anugerah tidak lain adalah Zat yang di tengan-Nya tergenggam seluruh alam di mana Dia memeras sesuai kehendak-Nya seperti yang terlihat. Pemberi anugerah tidak lain adalah Zat yang perbendaharaan-Nya antara kaf dan nun. Tidak ada satu nikmatpun kecuali berasal dari Zat yang menjadikan kun sebagai sumber wujud alam. Anugerah dan puji syukur hanyalah milik-Nya.
-----------------------------
[1] Q.S. ar-Rum: 27.
Ketahuilah wahai yang meyakini masa lalu dan meragukan masa depan. Bawalah dirimu kepada dua masa sebelumnya. Posisikan dirimu sebagai kakekmu yang berada di pertengahan pohon nasabmu. Lalu lihatlah nenek moyangmu yang merupakan entitas masa lalu. Setelah itu perhatikan anak-anakmu yang datang secara berurutan darimu menuju kepadamu di mana mereka merupakan entitas yang bersifat mungkin di masa sesudahnya. Apakah engkau melihat perbedaan antara dua sisi tersebut? Tentu saja tidak. Entah dilihat dari sisi keteraturannya, ataupun dilihat dari sisi yang dianggap sebagai kebetulan. Namun, sebagaimana yang pertama tercipta dengan pengetahuan dan kecermatan yang dilihat oleh Penciptanya demikian pula dengan yang kedua. Ia juga akan dibuat demikian dalam kondisi terlihat oleh Penciptanya sebelum keberadaannya. Karena itu, proses menghidupkan kembali nenek moyangmu tidak lebih aneh daripada menghadirkan anak-anakmu. Bahkan, hal itu lebih mudah darinya. Allah befirman, “Proses menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.”[1] Analogikanlah hal parsial tersebut dengan semua yang bersifat komprehensif agar engkau bisa melihat berbagai kejadian masa lalu sebagai mukjizat yang menjadi petunjuk bahwa Penciptanya Mahakuasa atas segala hal yang bersifat mungkin ada di masa mendatang, sekaligus Maha Mengetahui detil-detilnya, serta Maha Mencakup dan Melihatnya.
Ya. Sebagaimana berbagai entitas yang tampak dan benda-benda tinggi yang terdapat dalam kebun alam ini merupakan mukjizat yang bersaksi dan menyeru bahwa Penciptanya Mahakuasa atasa segala sesuatu dan Maha Mengetahui segala sesuatu, demikian pula dengan tumbuhan yang berwarna-warni yang mekar dan bertebaran serta hewan yang beragam dan tersebar di taman bumi. Semuanya merupakan kreasi luar biasa yang menegaskan bahwa Penciptanya Mahakuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Bagi kekuasaan-Nya sama saja antara partikel dan mentari, antara menebarkan buah pohon dan membangkitkan anak-anak manusia. Ya, menumbuhkan bunga di pohon yang tersebar di rantingnya yang halus tidak lebih mudah daripada membangkitkan manusia di atas tulang-belulang mereka yang hancur dan berserakan.
Ketahuilah bahwa betapa banyak nikmat seperti tetes perasan yang terwujud dengan sangat rapi yang berasal dari seluruh alam laksana buah pohon. Jika ia merupakan hasil perasan hakikat padahal jaraknya sangat jauh, maka Pemberi anugerah tidak lain adalah Zat yang di tengan-Nya tergenggam seluruh alam di mana Dia memeras sesuai kehendak-Nya seperti yang terlihat. Pemberi anugerah tidak lain adalah Zat yang perbendaharaan-Nya antara kaf dan nun. Tidak ada satu nikmatpun kecuali berasal dari Zat yang menjadikan kun sebagai sumber wujud alam. Anugerah dan puji syukur hanyalah milik-Nya.
-----------------------------
[1] Q.S. ar-Rum: 27.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence