Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 294
(1-357)
Allah menutup kalbu, pendengaran, dan penglihatan mereka.[1]
Ketahuilah! Di antara sikap kufur nikmat dan di antara bentuk pengingkaran terhadap nikmat yang paling hebat adalah tidak bersyukur terhadap apa yang diberikan kepadanya dan kepada yang lain seperti pendengaran dan penglihatan, atau yang permanen seperti cahaya dan api, atau yang bersifat komprehensif seperti udara dan air. Ia hanya bersyukur terhadap nikmat yang khusus diberikan kepadanya atau yang bersifat langka karena jarang dibutuhkan. Padahal, yang mencakup semua, yang bersifat permanen dan terus-menerus itulah nikmat yang paling besar dan paling sempurna. Yang bersifat umum menunjukkan urgensinya yang sempurna, sementara yang bersifat permanen menunjukkan nilainya yang berharga.
Ketahuilah! Di antara tanda bahwa “Dia menghitung segala sesuatu satu persatu”[2] adalah adanya kesamaan, keseimbangan, dan keteraturan antara segala hal yang berdekatan, berhadapan, dan serupa seperti jari-jari tangan, biji yang terdapat di bulir, benih yang terdapat di buah, serta dedaunan yang terdapat di bunga. Mahasuci Zat Yang menghitung segala sesuatu satu persatu serta pengetahuan-Nya mencakup segala hal.
Ketahuilah bahwa proses fertilisasi dan kelahiran yang disertai pemeliharan penuh kasih sayang merupakan dua tugas umum yang berlaku sampai kepada sesuatu yang paling kecil. Keduanya mendapatkan ganjaran tunai berupa kenikmatan yang terdapat di dalamnya. Kemurahan Zat yang berbuat baik dan mulia yang bersifat umum serta kerinduan segala hal yang berpasangan untuk menunaikan dua tugas tadi menunjukkan bahwa tumbuhan, pohon, tambang, bahkan benda-benda mati juga memiliki bagian nikmat tersebut sesuai dengan kondisinya. Adanya perhatian untuk memberikan balasan, serta keberadaan kasih sayang, keadilan, rahasia ‘rahmat-Ku meliputi segala sesuatu”,[3] serta banyaknya riwayat yang mendukung adanya pemberian ganjaran dan hukuman pada masa kebangkitan menunjukkan kekalnya ruh hewan berikut ganjaran atas tugas yang mereka kerjakan dengan penuh ketaatan dan ketundukan.[4]
------------------------------
[1] Q.S. an-Nahl: 108.
[2] Q.S. al-Jin: 28.
[3] Q.S. al-A’raf: 156.
[4] Abu Hurayrah ra. Meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Semua hak akan dikembalikan kepada pemiliknya pada hari kiamat sehingga kambing yang tak bertanduk akan mendapat kesempatan menuntut balas dari kambing yang bertanduk.” (HR Muslim no. 2582 dan at-Tirmidzi 2535 dalam Tuhfatul Ahwadzi.
Ketahuilah! Di antara sikap kufur nikmat dan di antara bentuk pengingkaran terhadap nikmat yang paling hebat adalah tidak bersyukur terhadap apa yang diberikan kepadanya dan kepada yang lain seperti pendengaran dan penglihatan, atau yang permanen seperti cahaya dan api, atau yang bersifat komprehensif seperti udara dan air. Ia hanya bersyukur terhadap nikmat yang khusus diberikan kepadanya atau yang bersifat langka karena jarang dibutuhkan. Padahal, yang mencakup semua, yang bersifat permanen dan terus-menerus itulah nikmat yang paling besar dan paling sempurna. Yang bersifat umum menunjukkan urgensinya yang sempurna, sementara yang bersifat permanen menunjukkan nilainya yang berharga.
Ketahuilah! Di antara tanda bahwa “Dia menghitung segala sesuatu satu persatu”[2] adalah adanya kesamaan, keseimbangan, dan keteraturan antara segala hal yang berdekatan, berhadapan, dan serupa seperti jari-jari tangan, biji yang terdapat di bulir, benih yang terdapat di buah, serta dedaunan yang terdapat di bunga. Mahasuci Zat Yang menghitung segala sesuatu satu persatu serta pengetahuan-Nya mencakup segala hal.
Ketahuilah bahwa proses fertilisasi dan kelahiran yang disertai pemeliharan penuh kasih sayang merupakan dua tugas umum yang berlaku sampai kepada sesuatu yang paling kecil. Keduanya mendapatkan ganjaran tunai berupa kenikmatan yang terdapat di dalamnya. Kemurahan Zat yang berbuat baik dan mulia yang bersifat umum serta kerinduan segala hal yang berpasangan untuk menunaikan dua tugas tadi menunjukkan bahwa tumbuhan, pohon, tambang, bahkan benda-benda mati juga memiliki bagian nikmat tersebut sesuai dengan kondisinya. Adanya perhatian untuk memberikan balasan, serta keberadaan kasih sayang, keadilan, rahasia ‘rahmat-Ku meliputi segala sesuatu”,[3] serta banyaknya riwayat yang mendukung adanya pemberian ganjaran dan hukuman pada masa kebangkitan menunjukkan kekalnya ruh hewan berikut ganjaran atas tugas yang mereka kerjakan dengan penuh ketaatan dan ketundukan.[4]
------------------------------
[1] Q.S. an-Nahl: 108.
[2] Q.S. al-Jin: 28.
[3] Q.S. al-A’raf: 156.
[4] Abu Hurayrah ra. Meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Semua hak akan dikembalikan kepada pemiliknya pada hari kiamat sehingga kambing yang tak bertanduk akan mendapat kesempatan menuntut balas dari kambing yang bertanduk.” (HR Muslim no. 2582 dan at-Tirmidzi 2535 dalam Tuhfatul Ahwadzi.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence