Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 292
(1-357)
Ya, kesesuaian maksiat dengan siksa yang didapat sangat kuat sehingga kaum Muktazilah tersesat di dalamnya dengan menisbatkan keburukan kepada selain-Nya serta mewajibkan pemberian ganjaran kepada-Nya. Wajibnya keburukan mendapat siksa sama sekali tidak bertentangan dengan kesempurnaan rahmat-Nya. Sebab, bahaya parsial ini berhubungan dengan pipa rangkaian tatanan yang komprehensif yang seperti tangkai di mana ia membuahkan banyak kebaikan. Sementara, membiarkan kebaikan yang banyak ini untuk menahan datangnya bahaya parsial dan keburukan yang sedikit merupakan satu bentuk bahaya yang menyeluruh dan keburukan yang banyak. Ia bertentangan dengan hikmah keadilan Zat Yang Mahaadil, Maha Bijaksana, dan Maha Pemurah.

Wahai manusia yang zalim dan bodoh. Jauhilah keburukan sebisa mungkin. Jika tidak, engkau layak mendapatkan balasan atas sikapmu yang meninggalkan kebaikan berikut balasan atas tindakanmu melenyapkan buah dari seluruh sebab yang sebelumnya telah datang kepadamu dalam rangkaian pilar-pilar keberadaan buah tadi. Pasalnya, keburukan merupakan ketiadaan. Dengan ketiadaan bagian lain dari sebab, maka buah atau akibatnya juga tidak ada. Karena itu, ia akan kembali kepada bagian yang lain lagi. Setiap bahaya merupakan bentuk ketiadaan akibat atau buah. Hanya saja, buah wujud tidak kembali kepadanya kecuali sesuai dengan porsinya. Keberadaan bagian tadi bukan sebab dari wujud keseluruhan. Dari sini kesempurnaan ampunan dan karunia Allah demikian jelas. Dia memberikan balasan atas keburukan sesuai dengannya, namun memberikan balasan kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya. Padahal yang semestinya terjadi adalah sebaliknya.[1] Demikianlah, kezaliman manusia tampak berlawanan dengan realitas yang ada.

Ketahuilah! Manusia diuji dengan sifat lupa. Dan lupa yang paling buruk adalah lupa kepada dirinya sendiri. Lupa terhadap diri jika terkait dengan mumalah, ibadah, usaha, dan tafakkur merupakan sebuah kesesatan meski dalam hasil dan buahnya berupa kesempurnaan. Kaum yang sesat dan kaum yang mendapat petunjuk saling berlawanan dalam hal lupa dan ingat. Orang yang sesat lupa kepada dirinya saat melihat amal dan mengaplikasikan rambu-rambu tugas. Ia mengarahkan pandangannya ke cakrawala untuk menyenangkan ego dan lupa dirinya. Akan tetapi, ia menjadi ingat kepada dirinya dalam segala hal yang terkait dengan tujuan. Sampai-sampai tidak ada tujuan baginya kecuali yang kembali kepadanya. Tujuan dalam pandangannya adalah mencintai diri.

Adapun yang menyucikan diri ia akan ingat pada dirinya sebelum yang lain di saat berusaha, bergerak, dan bertafakkur. Seolah-olah dirinya merupakan titik permulaan bagi setiap amal dan tafakkur. Namun, pada hasil, keuntungan, dan tujuan ia lupa kepada dirinya seolah-olah dirinya lenyap dan masuk ke dalam ketiadaan. Ia hamba yang mengabdi kepada Tuannya dengan kenikmatan ikhlas dalam suatu tugas yang kembali pada setiap sisi kepada Majikan. Ia merasa tidak berhak mendapatkan balasan. Sementara, apa yang diberikan oleh Tuhan kepadanya dilihat sebagai anugerah-Nya semata.

[1] Karena kebaikan merupakan sesuatu yang positif dan eksis, maka ia tidak plural dan tidak diwujudkan oleh hamba. Karena itu, seharusnya kebaikan ditulis satu, berbeda dengan keburukan yang begitu banyak dan melampaui batas. Semestinya ia ditulis seribu keburukan. Engkau bisa melihat risalah “Hikmah Isti’adzah” dalam Lama’at ketigabelas. Di dalamnya terdapat penjelasan yang luas.
No Voice