Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 291
(1-357)
Lalu sebagaimana diketahui bersama, makna simbolik tidak boleh diposisikan sebagai sesuatu yang dituju entah dalam bentuk pembenaran atau pengingkaran kecuali lewat pandangan sekunder. Karena itu, pikiran orang yang melihatnya tidak masuk ke dalam detil-detilnya kecuali jika dilihat sebagai tujuan. Dalam kondisi demikian, simbol tadi berubah menjadi substansi; berbeda dengan makna hakiki.[1]
Dari sini engkau melihat buku-buku filsafat yang membahas alam tampak sangat kuat dan kokoh, padahal sebenarnya ia lebih lemah daripada rumah laba-laba jika diukur dengan Penciptanya. Ucapan para ahli kalam misalnya tidak melihat berbagai persoalan filsafat dan ilmu alam kecuali dengan makna simbolik hanya sekedar untuk menunjukkan dalil. Sehingga cukup bagi mereka mentari sebagai lentera, bumi sebagai hamparan, malam sebagai baju, siang sebagai kehidupan, bulan sebagai cahaya, dan gunung sebagai pasak yang mengatur aliran udara, menyimpan air dan mineral, melindungi bumi agar tidak bergerak, dan meredakan murka bumi yang bergoncang lewat tarikan nafasnya.
Sebaliknya, filosof baru merasa cukup ketika mentari menjadi pusat tata surya dan api yang besar sampai pada tingkatan di mana planet-planet beterbangan bersama bumi kita di sekitarnya sebagaimana anai-anai yang bertebaran. Demikianlah, andaikan pandangan ahli kalam tidak sesuai dengan kenyataan selama sesuai dengan perasaan umum dan apa yang dikenal bersama, hal itu tidak mendatangkan kerugian serta tidak layak didustakan.[2] Karena itu, pandangan mereka sederhana, berada dalam tingkatan terendah dalam berbagai persoalan filsafat, sementara lebih kuat daripada besi dalam prinsip persoalan ilahiyah.
Dari sini pula kemenangan pada sebagian besarnya di awal-awal terwujud pada kaum yang sesat dalam hal yang terkait dengan dunia dan lahiriah kehidupan ini. Pasalnya, dengan seluruh kelompok mereka yang jatuh ke tingkatan diri serta mengarah kepada dunia, mereka berkata, “Ia tidak lain hanya kehidupan dunia kita.”[3] Namun pada akhirnya ia berpihak kepada orang-orang bertakwa yang diseru, “Kehidupan yang terakhir (akhirat) lebih baik bagimu daripada yang pertama (dunia).”[4] “Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Sementara, negeri akhirat lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Apakah kalian tidak berpikir.”[5] “Negeri akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya kalau kalian mengetahui.”[6] Karena itu, cukuplah Allah bagi kami. Dia Sebaik-baik tempat bersandar. Dia Sebaik-baik Pelindung dan Penolong.
Ketahuilah! Maaf Allah merupakan anugerah, sementara siksa-Nya merupakan keadilan. Hal ini sama seperti orang yang makan racun. Ia sangat wajar untuk menderita sakit sesuai dengan garis ketentuan Allah yang berlaku. Jika tidak sakit, maka itu merupakan anugerah dan kemurahan-Nya sebab berarti berada di luar kebiasaan yang ada.
--------------------------
[1] Yakni, menjadi objek pembenaran dan pengingkaran.
[2] Pasalnya mereka menyebutkan pandangan yang ada hanya sekedar untuk menunjukkan dalil.
[3] Q.S. al-An’am: 29.
[4] Q.S. adh-Dhuha: 4.
[5] Q.S. Q.S. al-An’am: 32.
[6] Q.S. al-Ankabut: 64.
Dari sini engkau melihat buku-buku filsafat yang membahas alam tampak sangat kuat dan kokoh, padahal sebenarnya ia lebih lemah daripada rumah laba-laba jika diukur dengan Penciptanya. Ucapan para ahli kalam misalnya tidak melihat berbagai persoalan filsafat dan ilmu alam kecuali dengan makna simbolik hanya sekedar untuk menunjukkan dalil. Sehingga cukup bagi mereka mentari sebagai lentera, bumi sebagai hamparan, malam sebagai baju, siang sebagai kehidupan, bulan sebagai cahaya, dan gunung sebagai pasak yang mengatur aliran udara, menyimpan air dan mineral, melindungi bumi agar tidak bergerak, dan meredakan murka bumi yang bergoncang lewat tarikan nafasnya.
Sebaliknya, filosof baru merasa cukup ketika mentari menjadi pusat tata surya dan api yang besar sampai pada tingkatan di mana planet-planet beterbangan bersama bumi kita di sekitarnya sebagaimana anai-anai yang bertebaran. Demikianlah, andaikan pandangan ahli kalam tidak sesuai dengan kenyataan selama sesuai dengan perasaan umum dan apa yang dikenal bersama, hal itu tidak mendatangkan kerugian serta tidak layak didustakan.[2] Karena itu, pandangan mereka sederhana, berada dalam tingkatan terendah dalam berbagai persoalan filsafat, sementara lebih kuat daripada besi dalam prinsip persoalan ilahiyah.
Dari sini pula kemenangan pada sebagian besarnya di awal-awal terwujud pada kaum yang sesat dalam hal yang terkait dengan dunia dan lahiriah kehidupan ini. Pasalnya, dengan seluruh kelompok mereka yang jatuh ke tingkatan diri serta mengarah kepada dunia, mereka berkata, “Ia tidak lain hanya kehidupan dunia kita.”[3] Namun pada akhirnya ia berpihak kepada orang-orang bertakwa yang diseru, “Kehidupan yang terakhir (akhirat) lebih baik bagimu daripada yang pertama (dunia).”[4] “Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Sementara, negeri akhirat lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Apakah kalian tidak berpikir.”[5] “Negeri akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya kalau kalian mengetahui.”[6] Karena itu, cukuplah Allah bagi kami. Dia Sebaik-baik tempat bersandar. Dia Sebaik-baik Pelindung dan Penolong.
Ketahuilah! Maaf Allah merupakan anugerah, sementara siksa-Nya merupakan keadilan. Hal ini sama seperti orang yang makan racun. Ia sangat wajar untuk menderita sakit sesuai dengan garis ketentuan Allah yang berlaku. Jika tidak sakit, maka itu merupakan anugerah dan kemurahan-Nya sebab berarti berada di luar kebiasaan yang ada.
--------------------------
[1] Yakni, menjadi objek pembenaran dan pengingkaran.
[2] Pasalnya mereka menyebutkan pandangan yang ada hanya sekedar untuk menunjukkan dalil.
[3] Q.S. al-An’am: 29.
[4] Q.S. adh-Dhuha: 4.
[5] Q.S. Q.S. al-An’am: 32.
[6] Q.S. al-Ankabut: 64.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence