Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 288
(1-357)
Kemudian lihatlah ke kiri untuk melihat tatanan yang berlaku umum di mana ia memerintahkan keadilan pada segala sesuatu. Engkau juga bisa melihat neraca sempurna yang mencegah adanya penyimpangan dalam segala hal. Di sana terdapat sesuatu seperti kilat yang menerbangkan semua ilusi, sementara di sini terdapat sesuatu seperti guntur yang melenyapkan mimpi dan angan-angan.
Kemudian lihatlah dirimu agar bisa melihat bagaimana diri dan tubuhmu merupakan ciptaan-Nya, mulai dari kepala hingga kaki, dari sel terkecil hingga keseluruhan tubuhmu yang juga merupakan sel besar. Setelah itu lihatlah pada kalbumu di atasmu agar dengan imanmu engkau bisa melihat cahaya segala cahaya, Zat yang telah mencipta cahaya, menerangi cahaya, membentuk cahaya, serta memasukkan cahaya manifestasi-Nya dalam segala sesuatu.
Ketahuilah! Penggunnaan bentuk superlatif pada sejumlah nama, sifat, dan perbuatan Allah seperti “Yang Maha Penyayang dari seluruh yang penyayang, Pencipta terbaik, Allah Mahabesar,” tidak menafikan kemurnian tauhid. Pasalnya, maksud dari itu adalah melebihkan Zat yang memiliki sifat hakiki dan dzati atas makhluk yang memiliki sifat ilusi dan lahiri. Ia juga tidak menafikan kemuliaan Zat Yang Mahaesa dan Maha Memaksa. Pasalnya, ia tidak dimaksudkan untuk membandingkan sifat-Nya dan perbuatannya dengan sifat dan perbuatan makhluk sebab semua kesmepurnaan yang terdapat dalam ciptaan hanyalah bayangan dan pantulan saja jika dibandingkan dengan kesempurnaan-Nya. Karena itu, ia tidak layak dibandingkan dengan-Nya.
Namun maksud dari pemakaian bentuk superlatif adalah membandingkan antara jejak khusus-Nya dan objek khusus berikut keterpengaruhan objek oleh pengaruh-Nya yang hakiki sesuai dengan potensinya. Serta antara pengaruh sarana lahiri pada sesuatu yang khusus tersebut dan keterpengaruhannya darinya. Ini seperti ucapan kepada prajurit yang hanya menghormati kopralnya, “Wahai fulan, raja lebih agung dan lebih kasih daripada kopralmu.” Ucapan ini tidak dimaksudkan untuk memberikan perbandingan antara kopral dan raja. Ia hanyalah gurauan; bukan sesuatu yang serius. Namun, maksudnya adalah perbandingan sesuai dengan pandangan prajurit tadi dengan melihat tingkat keterikatannya dengan raja secara hakiki dan dengan kopral sebagai lanjutan dengan ijin raja.
Adapun kondisi-Nya yang lebih kasih dari semua yang memiliki sifat kasih, lebih pemurah daripada semua pemurah, lebih mulia daripada semua yang mulia, serta sejenisnya, maka semua itu dimaksudkan bahwa andaikan semua kasih dan kemurahan menyatu pada diri seseorang, hal itu takkan bisa menyamai lautan rahmat-Nya yang tak terhingga.
Ia menunjukkan makna “lebih dari yang lain” dari empat sisi: (1) al-mufadhadhal (Allah) bersifat hakiki; (2) esa; (3) dalam keesaan; (4) dengan keesaan. Sebaliknya, al-mufadhdhal alayh (makhluk) bersifat majazi, banyak, bersama seluruh yang di tangan mereka, tidak sampai senilai satu bagian dari limpahan Zat Yang Mahaesa. Allah befirman,
Kemudian lihatlah dirimu agar bisa melihat bagaimana diri dan tubuhmu merupakan ciptaan-Nya, mulai dari kepala hingga kaki, dari sel terkecil hingga keseluruhan tubuhmu yang juga merupakan sel besar. Setelah itu lihatlah pada kalbumu di atasmu agar dengan imanmu engkau bisa melihat cahaya segala cahaya, Zat yang telah mencipta cahaya, menerangi cahaya, membentuk cahaya, serta memasukkan cahaya manifestasi-Nya dalam segala sesuatu.
Ketahuilah! Penggunnaan bentuk superlatif pada sejumlah nama, sifat, dan perbuatan Allah seperti “Yang Maha Penyayang dari seluruh yang penyayang, Pencipta terbaik, Allah Mahabesar,” tidak menafikan kemurnian tauhid. Pasalnya, maksud dari itu adalah melebihkan Zat yang memiliki sifat hakiki dan dzati atas makhluk yang memiliki sifat ilusi dan lahiri. Ia juga tidak menafikan kemuliaan Zat Yang Mahaesa dan Maha Memaksa. Pasalnya, ia tidak dimaksudkan untuk membandingkan sifat-Nya dan perbuatannya dengan sifat dan perbuatan makhluk sebab semua kesmepurnaan yang terdapat dalam ciptaan hanyalah bayangan dan pantulan saja jika dibandingkan dengan kesempurnaan-Nya. Karena itu, ia tidak layak dibandingkan dengan-Nya.
Namun maksud dari pemakaian bentuk superlatif adalah membandingkan antara jejak khusus-Nya dan objek khusus berikut keterpengaruhan objek oleh pengaruh-Nya yang hakiki sesuai dengan potensinya. Serta antara pengaruh sarana lahiri pada sesuatu yang khusus tersebut dan keterpengaruhannya darinya. Ini seperti ucapan kepada prajurit yang hanya menghormati kopralnya, “Wahai fulan, raja lebih agung dan lebih kasih daripada kopralmu.” Ucapan ini tidak dimaksudkan untuk memberikan perbandingan antara kopral dan raja. Ia hanyalah gurauan; bukan sesuatu yang serius. Namun, maksudnya adalah perbandingan sesuai dengan pandangan prajurit tadi dengan melihat tingkat keterikatannya dengan raja secara hakiki dan dengan kopral sebagai lanjutan dengan ijin raja.
Adapun kondisi-Nya yang lebih kasih dari semua yang memiliki sifat kasih, lebih pemurah daripada semua pemurah, lebih mulia daripada semua yang mulia, serta sejenisnya, maka semua itu dimaksudkan bahwa andaikan semua kasih dan kemurahan menyatu pada diri seseorang, hal itu takkan bisa menyamai lautan rahmat-Nya yang tak terhingga.
Ia menunjukkan makna “lebih dari yang lain” dari empat sisi: (1) al-mufadhadhal (Allah) bersifat hakiki; (2) esa; (3) dalam keesaan; (4) dengan keesaan. Sebaliknya, al-mufadhdhal alayh (makhluk) bersifat majazi, banyak, bersama seluruh yang di tangan mereka, tidak sampai senilai satu bagian dari limpahan Zat Yang Mahaesa. Allah befirman,
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence