Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 285
(1-357)
Ketiga, pandanganmu yang hanya terbatas pada manifestasi nama azh-Zhahir semata sehingga engkau menduga bahwa yang berada di luar nama tersebut tidak kembali kepada wilayah susbtansi nama-Nya. Hal itu tidak benar sebab isi dari nama-nama-Nya di samping berada di atas segalanya juga berada di tempat yang paling dalam. Dia adalah Zat Yang Maha Pertama dan Terakhir, Yang Maha Terlihat dan Maha Tersembunyi.
Keempat, tuntunan manifestasi keesaan yang merupakan manifestasi paling tinggi, paling jauh, paling tersembunyi, dan paling terhampar dalam bentangan pluralitas yang paling luas, paling banyak, dan paling halus. Pasalnya, ketika engkau melihat binatang misalnya engkau tenggelam dalam analogi diri sehingga masuk ke dalam berbagai perasaanmu. Sebagai contoh, engkau memosisikan binatang tadi sama seperti dirimu. Yakni ia bersedih ketika ditinggap sahabat dekatnya atau tanah airnya, serta risau dengan masa depan dan rezekinya. Maka engkau menjadi sakit karena perasaan kasihan terhadap deritanya yang bersifat ilusi. Padahal, kalau engkau masuk ke dalam dunianya secara benar, semua sangkaanmu tidak benar.
Di samping keliru dalam membuat analogi, engkau lebih keliru dalam analogi yang lain. Yaitu engkau melihat lebah misalnya sebagai ciptaan. Lalu secara tanpa sadar engkau menganalogikan Sang Pencipta Yang Wajib ada, Esa, dan bijaksana yang sama sekali tidak ada kesulitan, sentuhan, dan sifat memaksakan diri dalam perbuatan-Nya, dengan makhluk yang bersifat mungkin ada, papa, banyak, dan terbatas yang semua perbuatannya hanya bisa terwujud dengan sentuhan langsung, interaksi, dan kondisi sulit. Dari analogi inilah engkau mengasumsikan kedekatanmu dan kedekatan ciptaan yang berada dalam wilayah pena takdir dengan Penciptanya Yang Mahasuci dan Mulia. Memang benar, bahkan dilihat dari sisi-Nya, Allah Swt. sangat dekat tanpa ada yang lebih dekat dari-Nya. Dia lebih dekat dari semua yang dekat dan lebih dekat daripada urat nadi.
Namun dirimu dan ciptaan yang ada dilihat dari sisi kalian, sangat jauh tak terhingga. Sama seperti kaca yang menerima bayangan mentari lewat pantulannya sehingga berkilau oleh cahayanya dan tampak indah oleh pancaran tujuh warnanya. Dari kerajaan pusat kaca menuju mentari tersebut terbuka satu celah dan jalan sehingga dari lahiriah kerajaannya tampak pantulan mentari berikut semua perangkatnya di perut kaca tadi yang berada di dekat tanganmu. Namun, jika engkau mengulurkan tangan, engkau tidak akan meraih dan menyentuh apa-apa. Sehingga orang yang bodoh dan mencintai mentari, bisa jadi ingin sampai kepada mentari yang dicintainya itu pada setiap benda yang menerima kilaunya lantaran asumsi bodohnya dan penglihatan lahiriahnya.
Kadang ia juga mencari dari setiap benda yang menerima pantulan mentari berbagai sifat mentari yang ia dengar dan ia ketahui padahal semua itu hanya mungkin terdapat di alamnya. Maka, ketika sifat-sifat tersebut tidak ia temukan pada bayangannya tadi, iapun langsung mengingkari wujud mentari padanya; bahkan bisa jadi ia mengingkarinya secara total.
Keempat, tuntunan manifestasi keesaan yang merupakan manifestasi paling tinggi, paling jauh, paling tersembunyi, dan paling terhampar dalam bentangan pluralitas yang paling luas, paling banyak, dan paling halus. Pasalnya, ketika engkau melihat binatang misalnya engkau tenggelam dalam analogi diri sehingga masuk ke dalam berbagai perasaanmu. Sebagai contoh, engkau memosisikan binatang tadi sama seperti dirimu. Yakni ia bersedih ketika ditinggap sahabat dekatnya atau tanah airnya, serta risau dengan masa depan dan rezekinya. Maka engkau menjadi sakit karena perasaan kasihan terhadap deritanya yang bersifat ilusi. Padahal, kalau engkau masuk ke dalam dunianya secara benar, semua sangkaanmu tidak benar.
Di samping keliru dalam membuat analogi, engkau lebih keliru dalam analogi yang lain. Yaitu engkau melihat lebah misalnya sebagai ciptaan. Lalu secara tanpa sadar engkau menganalogikan Sang Pencipta Yang Wajib ada, Esa, dan bijaksana yang sama sekali tidak ada kesulitan, sentuhan, dan sifat memaksakan diri dalam perbuatan-Nya, dengan makhluk yang bersifat mungkin ada, papa, banyak, dan terbatas yang semua perbuatannya hanya bisa terwujud dengan sentuhan langsung, interaksi, dan kondisi sulit. Dari analogi inilah engkau mengasumsikan kedekatanmu dan kedekatan ciptaan yang berada dalam wilayah pena takdir dengan Penciptanya Yang Mahasuci dan Mulia. Memang benar, bahkan dilihat dari sisi-Nya, Allah Swt. sangat dekat tanpa ada yang lebih dekat dari-Nya. Dia lebih dekat dari semua yang dekat dan lebih dekat daripada urat nadi.
Namun dirimu dan ciptaan yang ada dilihat dari sisi kalian, sangat jauh tak terhingga. Sama seperti kaca yang menerima bayangan mentari lewat pantulannya sehingga berkilau oleh cahayanya dan tampak indah oleh pancaran tujuh warnanya. Dari kerajaan pusat kaca menuju mentari tersebut terbuka satu celah dan jalan sehingga dari lahiriah kerajaannya tampak pantulan mentari berikut semua perangkatnya di perut kaca tadi yang berada di dekat tanganmu. Namun, jika engkau mengulurkan tangan, engkau tidak akan meraih dan menyentuh apa-apa. Sehingga orang yang bodoh dan mencintai mentari, bisa jadi ingin sampai kepada mentari yang dicintainya itu pada setiap benda yang menerima kilaunya lantaran asumsi bodohnya dan penglihatan lahiriahnya.
Kadang ia juga mencari dari setiap benda yang menerima pantulan mentari berbagai sifat mentari yang ia dengar dan ia ketahui padahal semua itu hanya mungkin terdapat di alamnya. Maka, ketika sifat-sifat tersebut tidak ia temukan pada bayangannya tadi, iapun langsung mengingkari wujud mentari padanya; bahkan bisa jadi ia mengingkarinya secara total.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence