Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 284
(1-357)
Wahai yang lalai, bukankah sejumlah catatan kaki dan buku tipis yang terdapat di beberapa huruf besar membacakan untukmu bahwa engkau salah satu makhluk yang terukur secara rapi. Karena itu, sadarlah dan tegakkan timbangan tersebut dengan adil. Sayangnya engkau justru bermain-main seperti orang gila sehingga bersikap bodoh dan mengurangi timbangan yang ada.
Ketiga, pandangan tersebut mengajarimu untuk bertawakkal dan bersandar karena Zat yang kau harap dan selalu kau cemaskan begitu dekat denganmu di saat engkau sangat jauh dari-Nya. Dia berbuat kepada dirimu dan apa-apa yang berada di sekitarmu dengan qudrat-Nya yang bagi-Nya sama saja antara yang paling kecil dan paling besar, antara yang paling sedikit dan paling banyak, antara yang paling dekat dan paling jauh. Tidak ada kesulitan sedikitpun serta tidak ada sentuhan secara langsung dalam berbagai perbuatan-Nya. Tidakkah engkau membaca hakikat berikut: “Jangan cemas, jangan bersedih, dan jangan merasa sendiri. Pasalnya, di manapun berada di sana terdapat kekuasaan-Nya. Ke mana saja engkau menghadap, di sana ada diri-Nya. Engkau berada dalam wilayah-Nya meski berada di perut bumi. Engkau berada dalam pengawasan-Nya meski berada dalam rongga ketiadaan. Tangan-tangan-Nya yang kasih, pemurah, dan bijaksana terus menyertaimu lewat perintah-perintah-Nya dalam setiap kondisi dan keadaan. Engkau tidak keluar dari satu tangan kecuali berada dalam jangkauan tangan yang lain secara teratur. Dalam perjalananmu engkau tidak pernah menemui sesuatu yang bersifat kebetulan. Engkau tidak teraniaya oleh ketiadaan serta oleh kefanaan. Betapa banyak ketiadaan yang ternyata di baliknya, di bawahnya, atau di dalamnya terdapat simpanan kekayaan rahmat yang kekal dari sesuatu yang fana di alam ini.
Keempat, dengan melihat kutu yang kecil engkau bisa memahami jelasnya petunjuk kemakhlukan secara sempurna serta proses penciptaan yang utuh dalam segala sesuatu milik Sang Pencipta Yang Esa. Ia membuat petunjuk tadi demikian jelas meskipun kecil dan tampak dengan jelas meskipun samar. Sebab, sesuatu yang diliputi tidak mungkin keluar dari wilayah kekuasaan Pencipta Yang Maha Meliputi. Penciptanya tentu saja merupakan penciptanya. Hanya saja, kreasi tadi tertutup oleh materi dan keberlimpahannya; berbeda dengan makhluk yang besar.
Ketahuilah wahai yang lalai, sebagian besar bisikan yang muncul bersumber dari empat hal:
Pertama, sikap lupa diri sampai pada tingkat di mana satu helai ego berubah menjadi tali yang keras. Sebab, karena lupa kepada Allah akibat hawa nafsu, maka ia juga membuatmu lupa diri. Rasa ego semakin menguat dan terkelupas dari kulitnya lantaran semakin besar.
Kedua, mengukur makhluk dengan dirimu. Misalnya, apabila engkau melihat seekor hewan, maka jika pada dasarnya ia merupakan hewan yang terpelihara, terjaga, dan mendapat anugerah, kau asumsikan ia sebagai manusia yang berpikir, sedih, dan memiliki lintasan bercabang. Maka, engkau menyangka tarian kegembiraannya sebagai goncangan kesedihan.
No Voice