Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 289
(1-357)
Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya.[1]
Ketahuilah! Lafal Allah secara pasti menunjukkan sejumlah makna nama-mana-Nya dan seluruh sifat-Nya yang sempurna. Hal ini berbeda dengan simbol-simbol lain yang hanya menunjukkan zat yang disebut. Pasalnya, sifat seluruh zat tidak mesti melekat pada dirinya. Karena itu, nama zat tidak menunjukkan sifatnya, entah secara identifikasi, implisit, ataupun sebagai sebuah keharusan. Adapun zat Allah Yang Mahasuci, karena terdapat keterkaitan yang jelas antara Dia dan sifat berikut nama-Nya serta karena adanya korelasi dengan uluhiyah, maka nama Allah menunjukkan semua sifat-Nya sebagai sebuah keniscayaan. Demikian pula dengan kata “ilah” dalam redaksi lâ ilâha illallâh.
Jika hal ini telah dipahami, ketahuilah bahwa lâ ilâha illallâh berisi tauhid serta hukum-hukum tauhid sebanyak nama-nama-Nya. Satu kalimat ini mencakup ribuan kalimat. Setiap kalimat sebagaimana kalimat tersebut yang tersusun dari penafian dan penetapan. Karena penafian mengarah pada setiap bagian secara keseluruhan, maka dalam penetapan terdapat penegasan terhadap semua yang dinafikan dari selain-Nya lewat sebuah kaidah yang permanen. Seolah-olah ia berbunyi, “Tiada Pencipta, tiada Pemberi rezeki, tiada Yang Berdiri sendiri, tiada Pemilik, tiada Pembentuk, tiada Zat Yang Memaksa, kecuali Allah.” Demikian seterusnya. Kalimat ini bisa disebutkan oleh pezikir yang sedang menaiki sejumlah kedudukan sesuai dengan tingkatan dan kondisinya. Pengulangan ibarat penegasan dan penguatan.
Ketahuilah! Jika engkau mengetahui bahwa semua berasal dari Allah Swt. engkau harus rela dengan semua yang mendatangkan suka cita atau musibah. Jika tidak, berarti engkau lalai. Di sini sebab-sebab lahiri ditegakkan dan penglihatan ditutupi oleh kelalaian. Bagi setiap orang apa yang bertentangan dengan kecenderungan, hawa nafsu, dan seleranya lebih banyak daripada apa yang sesuai dengannya. Pasalnya, alam tidak dibangun di atas konstruksi kecenderungan pemilik angan-angan. Tetapi, angin bertiup tidak seperti yang diinginkan oleh kapal. Andaikan manusia yang memiliki hawa nafsu tidak melihat sebab-sebab ini serta tidak lalai terhadap Zat yang memunculkan sebab tentu keberatan batilnya, kebenciannya, dan murkanya tertuju kepada Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana dan Penguasa Yang Maha Pemurah. Jika orang yang lalai melempar panah keberatannya, ia akan menimpa takdir, setan, atau memantul kepada kepala dan dirinya sendiri.
-------------------------
[1] Q.S. al-Hajj: 73.
Ketahuilah! Lafal Allah secara pasti menunjukkan sejumlah makna nama-mana-Nya dan seluruh sifat-Nya yang sempurna. Hal ini berbeda dengan simbol-simbol lain yang hanya menunjukkan zat yang disebut. Pasalnya, sifat seluruh zat tidak mesti melekat pada dirinya. Karena itu, nama zat tidak menunjukkan sifatnya, entah secara identifikasi, implisit, ataupun sebagai sebuah keharusan. Adapun zat Allah Yang Mahasuci, karena terdapat keterkaitan yang jelas antara Dia dan sifat berikut nama-Nya serta karena adanya korelasi dengan uluhiyah, maka nama Allah menunjukkan semua sifat-Nya sebagai sebuah keniscayaan. Demikian pula dengan kata “ilah” dalam redaksi lâ ilâha illallâh.
Jika hal ini telah dipahami, ketahuilah bahwa lâ ilâha illallâh berisi tauhid serta hukum-hukum tauhid sebanyak nama-nama-Nya. Satu kalimat ini mencakup ribuan kalimat. Setiap kalimat sebagaimana kalimat tersebut yang tersusun dari penafian dan penetapan. Karena penafian mengarah pada setiap bagian secara keseluruhan, maka dalam penetapan terdapat penegasan terhadap semua yang dinafikan dari selain-Nya lewat sebuah kaidah yang permanen. Seolah-olah ia berbunyi, “Tiada Pencipta, tiada Pemberi rezeki, tiada Yang Berdiri sendiri, tiada Pemilik, tiada Pembentuk, tiada Zat Yang Memaksa, kecuali Allah.” Demikian seterusnya. Kalimat ini bisa disebutkan oleh pezikir yang sedang menaiki sejumlah kedudukan sesuai dengan tingkatan dan kondisinya. Pengulangan ibarat penegasan dan penguatan.
Ketahuilah! Jika engkau mengetahui bahwa semua berasal dari Allah Swt. engkau harus rela dengan semua yang mendatangkan suka cita atau musibah. Jika tidak, berarti engkau lalai. Di sini sebab-sebab lahiri ditegakkan dan penglihatan ditutupi oleh kelalaian. Bagi setiap orang apa yang bertentangan dengan kecenderungan, hawa nafsu, dan seleranya lebih banyak daripada apa yang sesuai dengannya. Pasalnya, alam tidak dibangun di atas konstruksi kecenderungan pemilik angan-angan. Tetapi, angin bertiup tidak seperti yang diinginkan oleh kapal. Andaikan manusia yang memiliki hawa nafsu tidak melihat sebab-sebab ini serta tidak lalai terhadap Zat yang memunculkan sebab tentu keberatan batilnya, kebenciannya, dan murkanya tertuju kepada Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana dan Penguasa Yang Maha Pemurah. Jika orang yang lalai melempar panah keberatannya, ia akan menimpa takdir, setan, atau memantul kepada kepala dan dirinya sendiri.
-------------------------
[1] Q.S. al-Hajj: 73.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence