Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 293
(1-357)
Ketahuilah! Kondisi saling menopang antar kaum beriman dalam melaksanakan ibadah dan dakwah dalam kelompok mereka merupakan rahasia agung dan hal yang besar. Pasalnya, dengan itu setiap individu menjadi seperti batu keras dalam bangunan yang kokoh. Ia mendapat manfaat dari saudara-saudaranya dalam hal keimanan sebanyak jutaan kali lipat dari apa yang ia dapat lewat amal yang dilakukannya sendiri. Ketika rangkaian iman menata mereka maka masing-masing menjadi saling mengisi, memiliki pembela, penyeru, pengasih, pemuji, dan pemberi rekomendasi. Terutama kepada pemimpin mereka.[1] Setiap individu merasa senang dengan kebahagiaan semua saudaranya sebagaimana ibu yang sedang lapar tetap merasa nikmat dengan kenikmatan yang dirasakan oleh anaknya, serta saudara kandung senang dengan kebahagiaan saudaranya. Sehingga manusia malang dan fana ini siap untuk mengabdi kepada Sang Pencipta seluruh alam dan menerima kebahagiaan abadi.

Lihatlah kondisi Nabi saw bagaimana beliau berdoa dengan mengucap “Wahai Yang Maha Penyayang.” Lalu engkau bisa melihat seluruh umat mengucap, “Ya Allah, limpahkan salawat dan salam kepada hamba dan kekasih-Mu, Muhammad, yang merupakan lautan cahaya-Mu, simpanan rahasia-Mu, penyebar zikir dan syukur terhadap-Mu, penunjuk keindahan kekuasaan rububiyah-Mu.” Mereka menyucikan beliau di sisi Tuhan serta mendukung syafaatnya. Dengan lisan ketidakberdayaan dan kefakiran, mereka juga meminta kekayaan-Nya dalam ketidakbutuhan-Nya yang sempurna. Mereka meminta kemurahan-Nya dalam kemuliaan-Nya yang agung. Dengan lisan pengabdian mereka menyeru rububiyah-Nya yang bersifat mutlak. Dengan kerja sama yang mulia dan maknawi ini manusia naik dari tingkat kehinaan dan ketidakberdayaan yang paling rendah menuju khilafah yang paling tinggi. İa menerima amanah serta mendapatkan kemuliaan di mana langit dan bumi ditundukkan untuknya.

Ketahuilah! Siapa yang jauh dari sesuatu, ia tidak melihat sebagaimana yang dilihat oleh pihak yang dekat meskipun yang jauh itu lebih cerdas dan memiliki penglihatan yang lebih tajam. Jika keduanya berlawanan, maka yang lebih kuat adalah yang dekat. Filsafat Eropa yang berkutat dalam materialisme betul-betul sangat jauh dan memiliki jarak yang sangat panjang dengan kedudukan Islam, iman, dan Alquran. Filosof terbesar mereka tidak bisa menyamai orang awam yang hanya memahami maksud Alquran secara umum.

Demikianlah yang kusaksikan dan begitulah kenyataannya. Jangan engkau berkata bahwa orang yang menyingkap kilat dan uap, bagaimana mungkin tidak bisa memahami rahasia kebenaran dan cahaya Alquran?! Demikianlah kenyataannya. Pasalnya, akalnya terdapat di matanya.[2] Sementara, mata tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh kalbu dan ruh. Apalagi jika jaraknya jauh. Apalagi ketika kalbunya mati akibat kelalaian yang membawanya kepada alam materi.
------------------------------------------
[1] Maksudnya Rasulullah saw.
[2] Yakni, ia hanya memahami dan membenarkan apa yang dilihat.
No Voice