Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 329
(1-357)
Ketahuilah![1] Setiap orang memiliki hubungan cinta dan kasih sayang dengan para kerabatnya. Selanjutnya dengan anggota keluarganya, dengan orang-orang yang seagama, dengan orang-orang yang sekelompok, dengan sesama manusia, serta dengan sejumlah entitas. Ia bisa merasa sakit dengan musibah yang menimpa mereka dan merasa senang dengan kebahagiaan mereka meski tidak disadari. Terutama dengan orang yang ia cintai lantaran kesempurnaanya di antara para nabi, wali, dan orang-orang bertakwa. Banyak orang, terutama seorang ibu rela berkorban dan rela menaggalkan kesenangannya hanya untuk menjaga satu hubungan dan untuk seseorang di antara sekian banyak yang ia cintai. Orang lalai yang mengendalikan diri dan orang-orang yang ia cintai, di saat lalai, diuji dengan memikul sejumlah penderitaan yang tak terkira dari mereka di samping penderitaannya sendiri meski dirinya yang sedang mabuk ini tidak merasakan ketersiksaan kalbu dan jiwanya. Andaikan orang lalai ini mendapatkan kesenangan misalnya, ia laksana kunang-kunang yang terang di waktu malam di mana ia memiliki sekilas cahaya, namun tetap saja kegelapan menyelimuti seluruh sisi dan apa yang dicintainya. Namun, ketika kelalaian tadi lenyap lalu kerajaan ini dikembalikan kepada Pemiliknya hakiki, hatinya terbuka dan tembus menuju kilau mentari abadi. Ia melihat bahwa rasa cinta yang tersebar pada banyak hal yang ia cinta adalah miliki Zat Yang Mahaesa yang mencukupi dari semua, melupakan terhadap semua, di mana semuanya tidak cukup untuk menggantikan-Nya. Andaikan mukmin yang yakin ini masuk ke dalam kondisi sulit misalnya, dengan ijin Allah ia bisa mendapatkan sorga ruhani dengan tetap merasa senang lewat kesadaran bahwa semua yang ia cinta tak akan berpisah dan mendapatkan kebahagiaan abadi.
Wahai Said yang lalai, tinggalkan dirimu dan ilusi kepemilikanmu, pasti engkau menggapai keselamatan dan kebahagiaan yang didapatkan oleh semua kekasihmu ketika kau serahkan mereka kepada Pemilik mereka Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.
Ketahuilah![2] Segala sesuatu dicipta oleh-Nya. Hanya saja, kejahatan, keburukan, kekurangan, dan aib adalah akibat dari sejumlah faktor dan potensi makhluk. Sang Pencipta Yang Maha Dermawan mengabulkan semua permintaan makhluk yang terucap dengan lisan kecenderungannya. Kebaikan kembali kepada-Nya lewat dua sisi: dengan penciptaan dan tuntutan. Adapun keburukan dan kekurangan kembali kepada makluk tanpa diminta. Maka, segala puji senantiasa melekat pada-Nya. Pasalnya, permintaan dalam hal kebaikan sebagai jawaban dari-Nya dan dari nama-Nya. Semua tasbih adalah milik-Nya. Sebab, permintaan keburukan dan kejahatan berasal dari makhluk, sementara jawabannya yang berisi banyak kebaikan sebagai akibat dari wujud keburukan tadi berasal dari-Nya. “Kebaikan yang kau dapat berasal dari Allah, sementara keburukan yang kau dapat berasal dari dirimu.”[3]
-------------------------------
[1] Persoalan kedelapan dari risalah buah memuat penjelasan penting tentang hal ini.
[2] Risalah takdir (kata kedua puluh satu) memuat penjelasan yang memadai tentangnya.
[3] Q.S. an-Nisa: 79.
Wahai Said yang lalai, tinggalkan dirimu dan ilusi kepemilikanmu, pasti engkau menggapai keselamatan dan kebahagiaan yang didapatkan oleh semua kekasihmu ketika kau serahkan mereka kepada Pemilik mereka Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.
Ketahuilah![2] Segala sesuatu dicipta oleh-Nya. Hanya saja, kejahatan, keburukan, kekurangan, dan aib adalah akibat dari sejumlah faktor dan potensi makhluk. Sang Pencipta Yang Maha Dermawan mengabulkan semua permintaan makhluk yang terucap dengan lisan kecenderungannya. Kebaikan kembali kepada-Nya lewat dua sisi: dengan penciptaan dan tuntutan. Adapun keburukan dan kekurangan kembali kepada makluk tanpa diminta. Maka, segala puji senantiasa melekat pada-Nya. Pasalnya, permintaan dalam hal kebaikan sebagai jawaban dari-Nya dan dari nama-Nya. Semua tasbih adalah milik-Nya. Sebab, permintaan keburukan dan kejahatan berasal dari makhluk, sementara jawabannya yang berisi banyak kebaikan sebagai akibat dari wujud keburukan tadi berasal dari-Nya. “Kebaikan yang kau dapat berasal dari Allah, sementara keburukan yang kau dapat berasal dari dirimu.”[3]
-------------------------------
[1] Persoalan kedelapan dari risalah buah memuat penjelasan penting tentang hal ini.
[2] Risalah takdir (kata kedua puluh satu) memuat penjelasan yang memadai tentangnya.
[3] Q.S. an-Nisa: 79.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence