Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 203
(1-357)
Demikian pula Sang Pencipta bisa esa dan bisa pula tak terhingga. Dalam hal ini tidak ada posisi tengah-tengah. Pasalnya, andaikan Sang Pencipta tidak esa, berarti banyak di mana jumlahnya tak terhingga. Pada kondisi kedua terdapat begitu banyak kemustahilan yang melahirkan ketiadaan konstruksi, hilangnya keesaan secara mutlak, dan ketiadaan wujud.

Ketahuilah! Adalah sangat mustahil apabila sesuatu yang menerangi tapi dirinya sendiri tidak terang, yang mengadakan tetapi tidak ada, dan yang mewajibkan keberadaan sesuatu tidak wajib ada. Demikian pula sangat mustahil apabila Zat yang memberikan ilmu tidak berilmu, yang memberikan perasaan tidak memiliki perasaan, yang memberikan pilihan tidak memiliki pilihan, yang melimpahkan kehendak tidak berkehendak, serta yang mencipta kesempurnaan tidak sempurna. Mungkinkah Zat yang melukis mata, membentuk penglihatan, dan menerangi pandangan tidak melihat?! Justru sejumlah kesempurnaan yang terdapat dalam ciptaan adalah berasal dari limpahan kesempurnaan Sang Pencipta. Orang stress yang tidak mengenal burung kecuali nyamuk, apabila melihat elang ia anggap bukan burung sebab tidak memiliki sesuatu yang dimiliki nyamuk.

Ketahuilah hal tersulit yang dituntut oleh jiwa manusia adalah keabadian dan kekekalan. Sehingga kalau ia tidak tertipu oleh hayalan tentang kekekalan ia tidak akan bisa menikmati apapun. Wahai yang menginginkan kekekalan, teruslah berzikir mengingat Zat Yang Mahakekal agar engkau kekal. Jadilah lentera bagi cahaya-Nya agar tidak padam, cangkang untuk mutiaranya agar bersih, serta wadah untuk hembusan zikir-Nya agar hidup. Berpeganglah kepada tali cahaya yang merupakan kilau salah satu nama ilahi agar tidak terjatuh ke dalam cakrawala ketiadaan. Buah yang lalai apabila tidak mengarah kepada sesuatu yang menopangnya, serta tertarik kepada gemerlap asing dan tertawaan mereka, maka ia akan terputus dan jatuh terbalik.

Wahai diri, bersandarlah kepada landasan yang meluruskanmu. Pasalnya, dari seribu untuk-Nya sembilan ratus sembilan puluh sembilan, sementara untukmu hanya satu. Karena itu, lemparkanlah yang satu itu pula dalam kapal yang berisi harta-Nya lalu beristirahatlah!

Ketahuilah apabila engkau tidak bisa berbuat untuk dirimu dan tanganmu tidak bisa menggapai dirimu, maka manusia, serta sebab-sebab yang jauh tentu lebih tidak mampu untuk sampai ke dalam dirimu. Karena itu, cobalah apakah dirimu mampu membuat lisan yang merupakan pohon kata, telaga rasa, serta pusat komunikasi. Jika tidak mampu, maka yang lain juga tidak mampu. Maka, janganlah engkau menyekutukan Allah. “Sesungguhnya perbuatan syirik adalah kezaliman yang besar.”[1]
-------------------------------
[1] Q.S. Luqmân: 13.
No Voice