Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 201
(1-357)
Wahai diriku yang malang, mengapa engkau mengira dirimu berada di luar perintah Allah sehingga berusaha memperhatikan dan menghormati setiap makhluk atau menzalimi semua dengan menganggapnya tidak penting. Ini adalah beban berat yang tak mampu dipikul. Karena itu, engkau harus meninggalkan kemusyrikan yang asing bagi fitrah dan masuk ke dalam wilayah kerajaan Allah agar bisa lapang bersama saudara yang lain. Bahkan agar engkau menjadi saudara tua yang dihormati.

Tidakkah engkau melihat bahwa orang sepertimu sama seperti orang yang berada dalam sebuah kapal yang dipenuhi harta milik raja dan diserahi tugas untuk mengurus setir kapal. Lalu, orang bodoh itu meletakkan setir yang terkait dengan kapal di atas punggungnya bersama hartanya dengan penuh perhatian. Jika ia memiliki sedikit akal saja tentu akan berpikir, “Aku juga berada dalam kapal. Maka, sebaiknya kuletakkan hartaku dan harta pemiliknya di dalam kapal ini.” Demikian pula pikullah rambu-rambu Islam di atas kapal otak alam Islam agar engkau bisa mengambil manfaat sementara engkau berada dalam keadaan tenang dan lapang.

Ketahuilah! Zat yang menciptamu tidak jauh darimu dan mampu menciptakan alam berikut segala isinya. Sebab apa yang berada padanya berada dalam dirimu. Bahkan, Penciptamu sudah pasti merupakan Pencipta segala sesuatu karena tidak mungkin Pencipta semangka bukan Pencipta bijinya yang merupakan prototipe miniatur yang terangkum darinya.

Ketahuilah, engkau terikat dengan sesuatu. Engkau terikat dengan badan dan dengan umur. Kehidupanmu terbatas sejalan dengan keberadaanmu yang dibatasi sesuai dengan kemampuan yang juga terbatas. Karena itu, engkau tidak boleh mempergunakan usia yang pendek, sedikit, dan fana ini untuk sesuatu yang fana sehingga menjadi fana. Namun, engkau harus mempergunakannya untuk sesuatu yang abadi agar menjadi abadi.

Sebab, pemanfaatan usia di dunia ini menjadikan seratus tahun seperti seratus biji kurma yang habis karena dimakan dengan kondisinya yang kering, tidak bermanfaat, serta tidak ditanam lagi. Namun, jika engkau mengarahkannya kepada akhirat, lalu menyirami dengan air syariat, ia akan menjadi seratus pohon kurma yang tinggi. Orang yang menukar seratus kurma yang kokoh dengan seratus biji kurma yang kering, layak untuk menjadi kayu bakar neraka.

Ketahuilah! Pusat ilusi, syubhat, dan kesesatan adalah ketika seseorang memaksakan diri untuk berada di luar wilayah manifestasi takdir dan sifat-sifat ilahi. Kemudian ia memaksa jiwanya yang keluar dari fitrah untuk berada di satu tempat yang terkait dengan ketentuan Allah dan memperlihatkan salah satu nama ilahi sehingga fana di dalamnya.
No Voice