Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 204
(1-357)
Ketahuilah, alam merupakan toko dan tempat perbendaharaan ilahi. Di dalamnya terdapat semua tenunan, model, bentuk, dan kulit baik yang tebal maupun yang tipis, yang cepat pudar dan tahan lama, yang padat dan cepat larut. Sebagiannya merupakan rangkaian penciptaan dan sebagian lagi berupa lukisan manifestasi. Para filosof telah tersesat dengan memasukkan penciptaan ke dalam wujud manifestasi.

Ketahuilah sesungguhnya syirik samar yang muncul dari rasa ego[1] apabila telah menguat bisa berbalik menjadi syirik kepada sebab. Apabila telah mengakar ia berubah menjadi kekufuran. Lalu jika terus demikian akan berganti menjadi pengingkaran, naudzu billah.

Ketahuilah bahwa mencari cahaya pada kegelapan disertai kedekatan jiwa terhadapnya sangat menyakitkan, merusak kemuliaan cahaya, serta mengotorinya. Harus ada upaya untuk melepaskan diri dan berpisah dari kegelapan tersebut. Dari sana, barulah kemudian melihat cahaya.

Ketahuilah bahwa di antara hal menakjubkan, manusia tercipta untuk menjadi pembuka, penyingkap, petunjuk yang bersinar, dalil yang terang, pantulan bercahaya, bulan bersinar milik Zat Yang Mahakuasa dan azali, serta cermin manifestasi keindahan azali. Ia demikian jelas dan terang ketika memikul amanat yang enggan dipikul oleh langit, bumi, dan gunung. Sebab, di antara kandungan amanah tersebut adalah bagaimana manusia berubah menjadi ukuran standar untuk memahami sifat-sifat komprehensif Tuhan, serta merubah ego diri yang merupakan titik hitam akibat kelalaian dan syirik yang samar menjadi kunci untuk menerangi semua sifat-Nya. Lalu mengapa sebagian besar manusia justru menjadi hijab, pintu, dan penghalang?! Seharusnya ia membuka, justru malam mengunci. Yang seharusnya menyinari justru malah mendatangkan kegelapan. Yang seharusnya mengesakan justru menyekutukan. Yang seharusnya dengan teropongnya melihat kepada Allah dan menyerahkan kekuasaan kepada-Nya justru melihat kepada makhluk dengan teropong ego lalu mendistribusikan kekuasaan Allah kepada mereka. Ya, manusia sungguh sangat zalim dan bodoh.

Ketahuilah wahai diriku, apabila engkau membuat rida Pencipta dengan takwa dan amal saleh, maka Dia akan mencukupimu dengan membuat makhluk rida padamu. Jika mereka telah rida kepadamu karena Allah, maka hal itu bermanfaat. Sementara jika keridaan itu bersumber dari diri mereka hal itu tidak berguna. Pasalnya, mereka juga lemah sepertimu. Jika engkau menginginkan yang pertama, buatlah Allah rida padamu. Namun, jika yang kedua yang kau inginkan, berbuat syiriklah di mana ia sama sekali tak berguna.
--------------------------------------
[1] Yang dimaksud dengan egoismen di sini adalah sikap lupa diri dan menafsirkan segala sesuatu sesuai dengan keinginan diri sendiri. Sementara syirik terhadap sebab berarti menyerahkan segala urusan kepada sejumlah sebab. Kedua alinea berikutnya menjelaskan hal tersebut.
No Voice