Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 207
(1-357)
Kekuasaan-Nya tidak terbagi, terpilah, dan terpisah. Sebab, andaikan makhluk juga mencipta tentu dalam perbuatannya itu terdapat distribusi, dalam kekuatannya terdapat keterpisahan, dan dalam pilihannya terdapat keterpilahan. Padahal ketiga hal di atas yang terkait dengan lebah misalnya tak mungkin terwujud tanpa mencakup yang lain. Lebah menyingkap kekuasaan Penciptanya lewat satu sisi yang tidak sulit bagi kekuasaan tersebut untuk menciptakan sejumlah alam. Lalu, bagaimana mungkin kekuasaan itu terbatas di dalamnya tanpa mencakup yang lainnya. Karena itu, Sang pencipta, Zat wajibul wujud, adalah esa di mana kekuasaan-Nya tak terkira, tak terhingga, tak terbagi. Kekuasaan-Nya berjalan sesuai timbangan ketentuan-Nya dan tertulis sesuai garis pehitungan-Nya.
Ketahuilah bahwa keberadaan nyamuk, laba-laba, dan kutu jauh lebih cerdas, lebih sejalan dengan fitrah, dan lebih sempurna penciptaannya daripada gajah, kerbau, dan unta meski usia mereka singkat dan kurang bermanfaat; berbeda dengan yang satunya. Semua itu merupakan petunjuk yang jelas dan bukti yang terang bahwa tidak ada kesulitan bagi Sang pencipta dalam menciptakan sesuatu. Dia hanya cukup berkata, “Kun!” maka jadilah. Tidak ada yang mengendalikan-Nya. Dia berbuat apa yang Dia kehendaki. Tiada Tuhan selain Dia.
Ketahuilah bahwa sebagaimana butiran mentari adalah satu bagian ia juga bersifat parsial. Pasalnya, ia hanyalah bayangan mentari, bukan mentari yang sebenarnya. Jadi, ia bukan mentari dan bukan pula yang lainnya. Keikutsertaan sejumlah entitas dalam menerima bayangan mentari tidak mengurangi bagian dari butiran tersebut sama sekali, entah ada atau tiada. Butiran tadi bisa berkata, “Mentari tersebut seutuhnya adalah milikku, berada dalam diriku, dan mengarah kepadaku.”
Ketahuilah bahwa apa yang tampak kecil dan jauh dari wilayah nama yang lahiri, agung, dan luas, berdekatan dan terkait dengan wilayah nama batini entah relatif atau hakiki. “Allah yang menjangkau mereka semua.”[1] Yaitu lewat nama-nama-Nya.[2] Manusia dengan akalnya yang parsial, terbatas, terikat, dan fana, melihat keagungan Allah dan bagaimana Dia memutar planet di sekitar mentari. Dari sana manusia tidak percaya kalau Dia sibuk menciptakan lalat misalnya lantaran menganalogikan Tuhan dengan makhluk yang miskin dengan analogi setani. Dari analogi tersebut muncullah kezaliman besar terhadap sejumlah makhluk kecil sekaligus sikap merendahkan mereka. Pasalnya, tidak ada sesuatupun kecuali bertasbih menyucikan Penciptanya. Ia tidak memiliki Tuhan selain Zat yang menjadikan dunia sebagai rumahnya, di mana mentari menjadi lenteranya, serta bintang menjadi lilinnya. Seolah-olah yang berada di dunia hanya makhluk hidup saja. Yang besar tidak boleh sombong kepada yang kecil. Sebab wujud ibarat kebenaran. Tidak ada perbedaan antara yang sedikit dan yang banyak, betapa yang sedikit sangat banyak, sementara yang banyak sangat sedikit.
---------------------------
[1] Q.S. al-Burûj: 20.
[2] Ia menjangkau dengan pengetahuan-Nya, kehendak-Nya, kekuasaan-Nya, dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Tidak ada sesuatupun yang berada di luar jangkauan-Nya.
Ketahuilah bahwa keberadaan nyamuk, laba-laba, dan kutu jauh lebih cerdas, lebih sejalan dengan fitrah, dan lebih sempurna penciptaannya daripada gajah, kerbau, dan unta meski usia mereka singkat dan kurang bermanfaat; berbeda dengan yang satunya. Semua itu merupakan petunjuk yang jelas dan bukti yang terang bahwa tidak ada kesulitan bagi Sang pencipta dalam menciptakan sesuatu. Dia hanya cukup berkata, “Kun!” maka jadilah. Tidak ada yang mengendalikan-Nya. Dia berbuat apa yang Dia kehendaki. Tiada Tuhan selain Dia.
Ketahuilah bahwa sebagaimana butiran mentari adalah satu bagian ia juga bersifat parsial. Pasalnya, ia hanyalah bayangan mentari, bukan mentari yang sebenarnya. Jadi, ia bukan mentari dan bukan pula yang lainnya. Keikutsertaan sejumlah entitas dalam menerima bayangan mentari tidak mengurangi bagian dari butiran tersebut sama sekali, entah ada atau tiada. Butiran tadi bisa berkata, “Mentari tersebut seutuhnya adalah milikku, berada dalam diriku, dan mengarah kepadaku.”
Ketahuilah bahwa apa yang tampak kecil dan jauh dari wilayah nama yang lahiri, agung, dan luas, berdekatan dan terkait dengan wilayah nama batini entah relatif atau hakiki. “Allah yang menjangkau mereka semua.”[1] Yaitu lewat nama-nama-Nya.[2] Manusia dengan akalnya yang parsial, terbatas, terikat, dan fana, melihat keagungan Allah dan bagaimana Dia memutar planet di sekitar mentari. Dari sana manusia tidak percaya kalau Dia sibuk menciptakan lalat misalnya lantaran menganalogikan Tuhan dengan makhluk yang miskin dengan analogi setani. Dari analogi tersebut muncullah kezaliman besar terhadap sejumlah makhluk kecil sekaligus sikap merendahkan mereka. Pasalnya, tidak ada sesuatupun kecuali bertasbih menyucikan Penciptanya. Ia tidak memiliki Tuhan selain Zat yang menjadikan dunia sebagai rumahnya, di mana mentari menjadi lenteranya, serta bintang menjadi lilinnya. Seolah-olah yang berada di dunia hanya makhluk hidup saja. Yang besar tidak boleh sombong kepada yang kecil. Sebab wujud ibarat kebenaran. Tidak ada perbedaan antara yang sedikit dan yang banyak, betapa yang sedikit sangat banyak, sementara yang banyak sangat sedikit.
---------------------------
[1] Q.S. al-Burûj: 20.
[2] Ia menjangkau dengan pengetahuan-Nya, kehendak-Nya, kekuasaan-Nya, dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Tidak ada sesuatupun yang berada di luar jangkauan-Nya.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence