Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 205
(1-357)
Tidakkah engkau melihat orang yang pergi ke tempat raja untuk satu kepentingan. Jika ia sudah membuat raja rida, maka urusannya selesai tanpa ada beban baginya disertai simpati rakyat kepadanya. Namun, jika ia mencarinya pada orang yang berada di bawah kekuasaannya kepentingan tadi menjadi sulit terpenuhi. Bahkan sulit baginya untuk membuat semua orang rida dan bisa memenuhi kepentingannya. Kalaupun mereka telah sepakat untuk bisa memenuhi kepentingannya, dibutuhkan ijin dari raja. Sementara, ijinnya bergantung kepada bagaimana orang tadi bisa membuat raja rida kepadanya. Hal itu jika berupa kemurahan. Namun jika berupa istidraj, lain lagi urusannya.

Ketahuilah bahwa sebegaimana Zat yang Wajib ada tidak menyerupai makhluk yang mungkin ada baik dari sisi zat dan substansi-Nya, Dia juga tidak serupa dengan makhluk dalam hal perbuatan-Nya.

Misalnya, tidak ada perbedaan bagi-Nya antara yang dekat dan jauh, yang sedikit dan yang banyak, yang kecil dan yang besar, individu dan spesies, serta bagian dan keseluruhan. Demikian pula tidak ada beban, kesulitan, dan sentuhan langsung dalam perbuatan-Nya; berbeda dengan makhluk. Karena itu akal manusia sulit memahami esensi perbuatan-Nya sehingga mengira perbuatan tersebut tidak terwujud.[1]
…..[2]
Ketahuilah bahwa sebagaimana taring singa menunjukkan sifatnya yang memangsa serta kelembutan semangka menunjukkan bahwa ia ada untuk dimakan, demikian pula dengan potensi manusia. Ia menunjukkan bahwa tugas fitrinya adalah beribadah. Ketinggian rohani dan kerinduannya ke alam abadi menunjukkan bahwa manusia dicipta pertama kali di alam yang lebih halus daripada alam ini. Lalu ia dikirim ke sini untuk bersiap-siap dan kembali kepadanya. Keadaannya sebagai buah pohon penciptaan menunjukkan bahwa dari manusia ada yang merupakan benih asal Sang Pencipta menumbuhkan pohon penciptaan. Benih tersebut tidak lain bersumber dari sosok yang seluruh insan kamil bahkan setengah manusia sepakat kalau ia merupakan makhluk terbaik. Ia adalah cahaya junjungan seluruh manusia, sang pembuka dan penutup, Muhammad saw.
----------------------------------------
[1] Ia mengingkari Pelakunya.
[2] Dalam edisi pertama disebutkan, “Ketahuilah bahwa perasaan adalah kalbu yang berdusta kepada jiwa. Ia dibangun dari reruntuhan kalbu setelah rusak oleh kelalaian dan mati oleh hawa nafsu. Letak dari perasaan adalah antara dua sisi di bawah dada sedikit di atas lambung.
No Voice