Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 202
(1-357)
Setelah itu, dengan celupan keterasingan tadi, ia juga mengeluarkannya dari kerajaan Allah seraya mempergunakan kekuasaannya lewat sejumlah takwil yang dengannya ia menjadi guru bagi para setan. Kondisinya yang bersumber dari syirik samarnya memantul kepada sesuatu yang terperlihara tadi. Nafsu ammarah bagaikan burung unta yang melihat apa yang di atasnya memiliki sisi.[1] Sama seperti ahli debat yang berkata kepada dua orang yang saling bermusuhan, “Wahai fulan dalil musuhmu telah menyanggahmu.” Lalu kepada yang satunya lagi ia berkata, “Wahai fulan, dalil orang ini telah membatalkan dalilmu.” Sehingga kalian berdua sama-sama salah.[2]

Ketahuilah bahwa jiwa manusia terus berusaha untuk tidak mengaitkan dunia dengan akhirat seolah-olah ia adalah ujungnya. Padahal tidak demikian. Dengan meyakini keberadaan akhirat engkau akan selamat dari kengerian fananya dunia dan pedih akibat perpisahan. Karena lalai dan ragu, engkau ingin melepaskan diri dari tugas beramal untuk akhirat serta melihat kepada generasi terdahulu yang sudah mati seperti orang hidup yang pergi menghilang sehingga tidak mengambil pelajaran dari kematian tadi. Tuntutan duniawinya seringkali menyebar ke negeri akhirat agar tetap terpelihara dengan sebuah tipu daya. Tuntutan tersebut memiliki dua sisi: sisi yang mengarah kepada dunia yang fana; tetapi bagaikan debu yang beterbangan, serta sisi yang mengarah kepada akhirat yang pilarnya bersambung kepada negerinya sehingga kekal. Ilmu misalnya. Ia memiliki sisi yang gelap dan sisi yang terang. Nafsu setani memperlihatkan sisi yang terang namun membuatmu ditelan oleh yang gelap.[3] Jiwa manusia seperti burung unta, sementara setan seperti tukang debat, dan hawa nafsu seperti kalangan bektasi.[4]

Ketahuilah tanpa ragu sedikitpun aku meyakini bahwa dalam penciptaan segala sesuatu andaikan faktor positif tidak ada berarti yang ada adalah faktor negatif. Pasalnya, semua penciptaan yang demikian rapi tidak menerima adanya keterpisahan. Entah Allah yang menciptakan segala sesuatu, atau Dia tidak menciptakan sesuatu. Padahal, ilusi yang mampu membayangkan ketiadaan sebab dalam segala sesuatu jauh lebih tak bernilai daripada jaring laba-laba. Menerima dalam hal tertentu melahirkan kesimpulan untuk menerima dalam segala sesuatu.
--------------------------------
[1] Engkau mengira dalam urusan yang kau yakini terdapat sisi yang mendukung dan menguatkannya.
[2] Dalil yang satu dipatahkan oleh yang lain sehingga keduanya tidak lagi memiliki dalil.
[3] Yakni, ia memperlihatkan sisi terang darinya bahwa ia akan memberikan manfaat yang akan terlihat di akhirat meski tidak tampak di dunia. Hal itu agar engkau ditelan oleh sisi yang gelap darinya.
[4] Perumpamaan yang diberikan di sini dibangun di atas pilar-pilar sebagai berikut: jiwa meneggenangi kepalanya dalam kelalaian seperti burung unta agar tidak terkena ajal. Lalu tukang debat mengingkari segala sesuatu seperti setan. Sementara bektasi, seperti hawa nafsu yang merubah makna sesuatu dengan berkata misalnya bahwa salat tidaklah wajib. Pasalnya Allah befirman, “Janganlah kalian mendekati salat,” tanpa meneruskan kepada kalimat berikutnya, “sementara kalian dalam keadaan mabuk.”
No Voice