Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 208
(1-357)
Ketahuilah bahwa segala sesuatu mulai dari mentari segala mentari hingga buah pohon, jika dicermati tampak bahwa ia telah dipilih dan dipilah dari sekian hal yang tak terhingga. Maka, apapun adanya ia melihat kepada sesuatu yang tak terhingga. Karena itu, yang mengurus dalam dirinya hanyalah Zat yang manifestasi sifat-Nya tak terhingga. Perhatikan baik-baik!

Ketahuilah bahwa sebagian besar manusia tidak menafikan adanya tujuan khusus dan perhatian pribadi dalam pemberian nikmat. Pasalnya, nikmat Allah tidak seperti harta wakaf atau aliran air sungai[1] sehingga pemberian tadi tampak bersifat mutlak dan sehingga seseorang tidak merasa butuh untuk berterima kasih. Tidak demikian. Adanya penentuan dan kekhususan bukan seperti wadah dan cetakan yang terwujud di awal sehingga penentuan itulah yang melahirkan sisi pemberian nikmat kepada sesuatu yang sudah ditentukan. Pasalnya, Zat Pemberi karunia hakiki menciptakan untuk setiap individu wadah yang sesuai dengannya. Kemudian Dia mengisinya dengan makanan nikmat-Nya. Dia melakukan keduanya secara baik dengan tujuan khusus untuk seseorang lewat nama dan gambarannya. Karena itu, sebagaimana wajib bersyukur atas nikmat yang bersifat mutlak, maka wajib pula bersyukur atas nikmat khusus yang diberikan-Nya.

Ketahuilah bahwa sebagian besar manusia mengurangi hak dari kitab besar yang terlihat, “yakni alam” dan kitab mulia yang terdengar “yakni Alquran”. Pasalnya, filosof mereka tidak memberikan kepada Tuhan Yang Wajibul wujud kecuali bagian yang sedikit dan kulit yang tipis. Kemudian sisanya dibagi kepada berbagai sebab imajinatif; bahkan kepada sesuatu yang mustahil, dan nama-nama yang tak memiliki esensi.

Mereka mendapat laknat Allah. Bagaimana mereka sampai berpaling?[2]

Adapun ahli tauhid ia berpandangan bahwa semua merupakan milik-Nya, dari-Nya, kembali kepada-Nya, dan hanya terwujud dengan-Nya. Lalu terkait dengan Alquran, sastrawan mereka tidak memberikan kepada Pemilik arasy dari istana indah itu,[3] dari pilar-pilarnya yang kokoh, rambu-rambu-Nya yang kuat, dan batu-batunya yang berhias emas, pepohonannya yang berkembang, kecuali hanya beberapa baris untaian dan sebagian makna. Setelah itu, sisa dari bintang langit itu dibagi kepada penduduk bumi dengan satu tipu daya disertai berbagai pemikiran. Sungguh sangat bodoh kalau akalnya membayangkan bahwa tangan manusia bisa mengganti bintang tersebut lalu berbuat sesukanya. Namun, mukmin yang cermat berpandangan bahwa kandungan Alquran dari pilar pertama sampai kepada akhir baris untaiannya berasal dari-Nya dan milik-Nya.

Alquran dibungkus dengan berbagai gaya bahasa yang memantulkan ribuan tingkatan kedudukan dan perasaan pendengar. Alquran juga melewati tujuh puluh ribu hijab dan masuk ke dalam relung-relung kalbu dan jiwa. Ia berjalan sambil menyebarkan limpahan karunianya dan memberikan ketenangan lewat ungkapannya kepada berbagai tingkatan manusia. Semua tingkatan bisa memahami dan mengetahuinya. Setiap generasi mengakui kesempurnaanya dan menerimanya. Setiap masa menjadikannya sebagai guru. Setiap zaman menghormatinya sampai pada tingkatan di mana masing-masing membayangkan kalau ia diturunkan secara khusus untuknya. Kitab suci tersebut bukan sesuatu yang bersifat superfisial. Namun, ia adalah lautan cemerlang, mentari anugerah, serta kitab yang mendalam dan cermat.
----------------------------------
[1] Maksudnya tidak diperuntukkan untuk semua.
[2] Q.S. at-Taubah: 30.
[3] Maksudnya Alquran al-karim.
No Voice