Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 211
(1-357)
Ketahuilah bahwa manusia merupakan makhluk yang paling zalim. Lihatlah kezalimannya yang luar biasa. Karena sangat mencintai diri, ia tidak menghargai yang lain kecuali sesuai dengan pelayanan yang diberikan kepadanya. Manusia melihat kepada buah segala sesuatu dengan standar sejauh mana manfaat yang diberikan oleh sesuatu itu untuk dirinya. Ia mengira tujuan akhir hidup ini adalah hidup itu sendiri. Hal itu sangat keliru. Sang Pencipta memiliki sejumlah hikmah pada setiap makhluk yang kadang sulit dipahami oleh akal. Mengapa hewan yang berusia singkat ini dan binatang yang cepat mati tidak bisa menjadi prinsip, standar, sumber, landasan, dan benih bagi kehidupan barzakh dan malakut yang menakjubkan serta manifestasi, cipratan, dan buah kehendak qudrat-Nya dalam alam gaib?..[1]
Ketahuilah bahwa Allah, dengan kesempurnaan qudrat-Nya, menjadikan semua partikel alam sebagai hamba yang menjalankan syariat fitri-Nya dan perintah penciptaan-Nya. Sebagaimana Dia berkata kepada lalat, “Jadilah begini!” Dia juga berkata dengan sama mudahnya kepada seluruh hewan, “Jadilah kalian dengan semua sifat, bentuk, dan usia yang singkat ini!” Maka, merekapun terwujud sebagaimana yang diperintahkan tanpa ada kesulitan sedikitpun.
Ketahuilah bahwa kekuatan dan qudrat yang yang memegang semua benda dalam genggamannya serta mengaturnya laksana batu permata di hadapan cermin yang berada di tanganmu sangat mampu dan tidak perlu dibantu untuk mengatur sesuatu yang berada di wilayah kekuasaannya.
Ketahuilah! Sebagaimana tetesan sama dengan laut dalam keberadaan keduanya sebagai air, sama dengan sungai dalam keberadaan keduanya yang berasal dari awan, serta kilau tetesan air tersebut sama dengan mentari di langit, ikan sebesar jarum sama dengan ikan besar dalam jenisnya, demikian pula nama yang terwujud dalam sel di setiap bagian memiliki esensi yang sama dengan nama-nama-Nya yang mulia yang meliputi seluruh alam. Misalnya Dia Yang Maha Mengetahui segala sesuatu sama dengan Yang Maha Mencipta partikel tersebut, Yang Maha Membentuk lebah, Yang Maha menciptakan buah, dan Yang Mengobati penyakit. Bahkan, mustahil nama yang luas dan paling luas bukan merupakan nama untuk bagian parsial darinya.
Ketahuilah! Karena ketidakaktifan, kondisi diam, berhenti, dan tetap dalam satu keadaan yang terdapat dalam makhluk merupakan bentuk ketiadaan sementara ketiadaan merupakan sesuatu yang menyakitkan, maka keaktivan merupakan bentuk kenikmatan serta perubahan dalam berbagai hal mendatangkan banyak kebaikan, meski secara lahir tampak sebagai musibah. Kepekaan dan rasa sakit dilihat dari satu sisi adalah kebaikan dan dari sisi lain adalah keburukan.
------------------------------------
[1] Dalam edisi pertama disebutkan, “Ketahuilah bahwa sebagaimana mata menjangkau apa yang diketahui atau yang terlihat, demikian pula nafsu ammarah. Ia mengingkari sesuatu yang tidak ia lihat, meski merupakan aksioma yang sangat jelas.
Ketahuilah bahwa Allah, dengan kesempurnaan qudrat-Nya, menjadikan semua partikel alam sebagai hamba yang menjalankan syariat fitri-Nya dan perintah penciptaan-Nya. Sebagaimana Dia berkata kepada lalat, “Jadilah begini!” Dia juga berkata dengan sama mudahnya kepada seluruh hewan, “Jadilah kalian dengan semua sifat, bentuk, dan usia yang singkat ini!” Maka, merekapun terwujud sebagaimana yang diperintahkan tanpa ada kesulitan sedikitpun.
Ketahuilah bahwa kekuatan dan qudrat yang yang memegang semua benda dalam genggamannya serta mengaturnya laksana batu permata di hadapan cermin yang berada di tanganmu sangat mampu dan tidak perlu dibantu untuk mengatur sesuatu yang berada di wilayah kekuasaannya.
Ketahuilah! Sebagaimana tetesan sama dengan laut dalam keberadaan keduanya sebagai air, sama dengan sungai dalam keberadaan keduanya yang berasal dari awan, serta kilau tetesan air tersebut sama dengan mentari di langit, ikan sebesar jarum sama dengan ikan besar dalam jenisnya, demikian pula nama yang terwujud dalam sel di setiap bagian memiliki esensi yang sama dengan nama-nama-Nya yang mulia yang meliputi seluruh alam. Misalnya Dia Yang Maha Mengetahui segala sesuatu sama dengan Yang Maha Mencipta partikel tersebut, Yang Maha Membentuk lebah, Yang Maha menciptakan buah, dan Yang Mengobati penyakit. Bahkan, mustahil nama yang luas dan paling luas bukan merupakan nama untuk bagian parsial darinya.
Ketahuilah! Karena ketidakaktifan, kondisi diam, berhenti, dan tetap dalam satu keadaan yang terdapat dalam makhluk merupakan bentuk ketiadaan sementara ketiadaan merupakan sesuatu yang menyakitkan, maka keaktivan merupakan bentuk kenikmatan serta perubahan dalam berbagai hal mendatangkan banyak kebaikan, meski secara lahir tampak sebagai musibah. Kepekaan dan rasa sakit dilihat dari satu sisi adalah kebaikan dan dari sisi lain adalah keburukan.
------------------------------------
[1] Dalam edisi pertama disebutkan, “Ketahuilah bahwa sebagaimana mata menjangkau apa yang diketahui atau yang terlihat, demikian pula nafsu ammarah. Ia mengingkari sesuatu yang tidak ia lihat, meski merupakan aksioma yang sangat jelas.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence