Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 231
(1-357)
Wahai kalangan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah! Kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.[1]
Ayat di atas dimaksudkan untuk menunjukkan dan memperlihatkan jin dan manusia di hadapan luasnya kekuasaan Tuhan. Seolah-olah Dia berkata, “Wahai manusia yang hina, kecil, dan lemah! Bagaimana engkau menentang kekuasaan yang dipatuhi oleh semua mentari, bulan, bintang, dan malaikat yang melempar setan dengan peluru seolah-olah mereka adalah gunung atau lebih besar darinya. Mengapa engkau berani membangkang dalam kerajaan-Nya. Di antara pasukannya ada yang mampu melempar wajah musuh dengan bintang di bumi kalian yang besar sebagaimana engkau melempar peluru.”
Ketujuh, bintang laksana malaikat dan ikan. Ia memiliki anggota yang sangat kecil dan sangat besar. Semua yang bersinar di langit adalah bintang. Darinya ada yang berfungsi untuk memperindah langit seperti permata, buah, dan ikan.[2] Adapula yang ditujukan untuk melempar setan laksana meriam yang dilempar untuk mengusir musuh. Atau, ada yang ditujukan untuk menunjukkan perjalanan hukum kompetisi dan pertarungan di wilayah yang paling luas. Allahlah Pemilih argumen yang kuat dan hikmah yang jelas.
Ketahuilah! Ayat-ayat yang menegaskan penulisan sesuatu entah sebelum dan sesudah keberadaannya sangat banyak. Misalnya yang berbunyi,
“Tidak ada yang basah dan tidak ada yang kering kecuali semua tercatat dalam kitab lauhil mahfudz.”[3]
Hal tersebut diperkuat oleh tatanan tulisan kitab alam dan timbangan ayat-ayatnya. Terutama, ayat yang menunjukkan keteraturan, keseimbangan, pembentukan, dekorasi, dan keistimewaan.
Dalil adanya penulisan sebelum keberadaannya adalah semua landasan dan benih, serta semua ketentuan dan bentuknya. Pasalnya, benih merupakan kotak halus tempat menyimpan indeks ketentuan Tuhan. Qudrat-Nya membangun dan mempergunakan partikel sebagai landasan aristekturnya. Lalu takdir Tuhan merupakan tulisan qadar yang tertata rapi serta cetakan ilmiyah yang terukur. Partikel yang tuli dan buta itu bergerak dalam perkembangan segala sesuatu kemudian berhenti dalam batas-batas tertentu di mana ia berhenti ibarat makhluk yang mendengar dan melihat di habitat hasil dan buah.
----------------------------------
[1] Q.S. ar-Rahman: 33.
[2] Maksudnya, jumlah bintang yang demikian banyak menghias langit dan bersinar seperti permata. Hal itu seperti buah menghiasi kebun yang rimbun dan ikan yang menghiasi lautan.
[3] Q.S. al-An’âm: 59.
Ayat di atas dimaksudkan untuk menunjukkan dan memperlihatkan jin dan manusia di hadapan luasnya kekuasaan Tuhan. Seolah-olah Dia berkata, “Wahai manusia yang hina, kecil, dan lemah! Bagaimana engkau menentang kekuasaan yang dipatuhi oleh semua mentari, bulan, bintang, dan malaikat yang melempar setan dengan peluru seolah-olah mereka adalah gunung atau lebih besar darinya. Mengapa engkau berani membangkang dalam kerajaan-Nya. Di antara pasukannya ada yang mampu melempar wajah musuh dengan bintang di bumi kalian yang besar sebagaimana engkau melempar peluru.”
Ketujuh, bintang laksana malaikat dan ikan. Ia memiliki anggota yang sangat kecil dan sangat besar. Semua yang bersinar di langit adalah bintang. Darinya ada yang berfungsi untuk memperindah langit seperti permata, buah, dan ikan.[2] Adapula yang ditujukan untuk melempar setan laksana meriam yang dilempar untuk mengusir musuh. Atau, ada yang ditujukan untuk menunjukkan perjalanan hukum kompetisi dan pertarungan di wilayah yang paling luas. Allahlah Pemilih argumen yang kuat dan hikmah yang jelas.
Ketahuilah! Ayat-ayat yang menegaskan penulisan sesuatu entah sebelum dan sesudah keberadaannya sangat banyak. Misalnya yang berbunyi,
“Tidak ada yang basah dan tidak ada yang kering kecuali semua tercatat dalam kitab lauhil mahfudz.”[3]
Hal tersebut diperkuat oleh tatanan tulisan kitab alam dan timbangan ayat-ayatnya. Terutama, ayat yang menunjukkan keteraturan, keseimbangan, pembentukan, dekorasi, dan keistimewaan.
Dalil adanya penulisan sebelum keberadaannya adalah semua landasan dan benih, serta semua ketentuan dan bentuknya. Pasalnya, benih merupakan kotak halus tempat menyimpan indeks ketentuan Tuhan. Qudrat-Nya membangun dan mempergunakan partikel sebagai landasan aristekturnya. Lalu takdir Tuhan merupakan tulisan qadar yang tertata rapi serta cetakan ilmiyah yang terukur. Partikel yang tuli dan buta itu bergerak dalam perkembangan segala sesuatu kemudian berhenti dalam batas-batas tertentu di mana ia berhenti ibarat makhluk yang mendengar dan melihat di habitat hasil dan buah.
----------------------------------
[1] Q.S. ar-Rahman: 33.
[2] Maksudnya, jumlah bintang yang demikian banyak menghias langit dan bersinar seperti permata. Hal itu seperti buah menghiasi kebun yang rimbun dan ikan yang menghiasi lautan.
[3] Q.S. al-An’âm: 59.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence