Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 232
(1-357)
Adapun dalil tentang penulisan sesudah keberadaannya sebagai berikut. Di antara bagian alam adalah semua buah yang merupakan lipatan lembaran kerja pohon dan buah. Ia memperlihatkan kepada semua mengenai apa yang terjadi di pongkol asalnya ketika ditanam di tanah dan dibangkitkan di musim semi. Di antara bagian manusia adalah kekuatan ingatannya yang berada di satu tempat yang sangat kecil. İa laksana landasan yang disalin oleh tangan Tuhan lewat pena ketentuan dari lembaran amal. Kemudian ia diberikan kepada manusia untuk diingat-ingat saat melakukan muhasabah serta agar ia menjadi yakin bahwa di balik kehancuran, kelenyapan, dan kefanaan ini terdapat cermin untuk hidup abadi yang di dalamnya Tuhan menuliskan identitas makhluk serta lembar catatan yang di dalamnya Zat Yang Maha Mengetahui menuliskan substansi semua yang fana.
Ketahuilah! Sebagaimana jam tidak tetap; tetapi bergerak dan seluruh perangkatnya bergetar, demikian pula dengan dunia yang merupakan jam besar. İa juga bergetar dan bergerak. Dengan memasukkan zaman ke dalamnya, dunia menjadi malam dan siang laksana dua mil yang menunjuk kepada detiknya. Sementara, tahun merupakan jarum yang menunjuk kepada hitungan menit. Lalu, masa adalah jarum yang menunjuk kepada hitungan jam. Selanjutnya dengan memasukkan tempat ke dalam dunia, udara dan angkasa dengan berbagai perubahannya yang demikian cepat laksana detik. Bumi dengan pergantian wajahnya dalam bentuk tumbuhan dan hewan, kematian dan kehidupan laksana menit. Sementara getaran perutnya dan letusan gunungnya ibarat jam. Kemudian langit dengan berbagai perubahannya dengan gerakan benda-bendanya, kemunculan meteornya, gerhananya, dan awannya laksana hitungan hari.
Dunia yang dibangun di atas tujuh pilar ini—meski menggambarkan sifat-sifat nama-Nya dan penulisan pena qudrat dan qadar—ia bersifat fana, akan hancur, goyah, dan pergi seperti air yang mengalir. Hanya saja, ia tampak tetap akibat sikap lalai dan keruh akibat alam materi sehingga menjadi hijab yang melupakan dari akhirat.
Filsafat yang sakit dan peradaban yang bodoh membuatnya semakin statis dan keruh lewat berbagai telaah filsafat dan kajian sekuler. Adapun Alquran meniup dunia bagaikan kapas yang tertiup lewat ayat-ayatnya. Ia membuatnya menjadi halus lewat berbagai penjelasannya. Ia juga membuatnya cair lewat sinarnya. Ia juga menghancurkan asumsi keabadiannya lewat kabar tentang kematiannya. Ia melenyapkan kelalaian yang muncul dengan hentakannya. Hakikat dunia yang goyah dan berguncang menuturkan ayat berikut lewat kondisinya,
Apabila Alquran dibacakan, perhatikanlah ia dan dengarkanlah baik-baik semoga kalian mendapat rahmat.[1]
--------------------------
[1] Q.S. al-A’râf: 204.
Ketahuilah! Sebagaimana jam tidak tetap; tetapi bergerak dan seluruh perangkatnya bergetar, demikian pula dengan dunia yang merupakan jam besar. İa juga bergetar dan bergerak. Dengan memasukkan zaman ke dalamnya, dunia menjadi malam dan siang laksana dua mil yang menunjuk kepada detiknya. Sementara, tahun merupakan jarum yang menunjuk kepada hitungan menit. Lalu, masa adalah jarum yang menunjuk kepada hitungan jam. Selanjutnya dengan memasukkan tempat ke dalam dunia, udara dan angkasa dengan berbagai perubahannya yang demikian cepat laksana detik. Bumi dengan pergantian wajahnya dalam bentuk tumbuhan dan hewan, kematian dan kehidupan laksana menit. Sementara getaran perutnya dan letusan gunungnya ibarat jam. Kemudian langit dengan berbagai perubahannya dengan gerakan benda-bendanya, kemunculan meteornya, gerhananya, dan awannya laksana hitungan hari.
Dunia yang dibangun di atas tujuh pilar ini—meski menggambarkan sifat-sifat nama-Nya dan penulisan pena qudrat dan qadar—ia bersifat fana, akan hancur, goyah, dan pergi seperti air yang mengalir. Hanya saja, ia tampak tetap akibat sikap lalai dan keruh akibat alam materi sehingga menjadi hijab yang melupakan dari akhirat.
Filsafat yang sakit dan peradaban yang bodoh membuatnya semakin statis dan keruh lewat berbagai telaah filsafat dan kajian sekuler. Adapun Alquran meniup dunia bagaikan kapas yang tertiup lewat ayat-ayatnya. Ia membuatnya menjadi halus lewat berbagai penjelasannya. Ia juga membuatnya cair lewat sinarnya. Ia juga menghancurkan asumsi keabadiannya lewat kabar tentang kematiannya. Ia melenyapkan kelalaian yang muncul dengan hentakannya. Hakikat dunia yang goyah dan berguncang menuturkan ayat berikut lewat kondisinya,
Apabila Alquran dibacakan, perhatikanlah ia dan dengarkanlah baik-baik semoga kalian mendapat rahmat.[1]
--------------------------
[1] Q.S. al-A’râf: 204.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence