Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 234
(1-357)
Ia menerangkan sejumlah perbuatan-Nya kemudian merangkumnya lewat nama-nama-Nya.
Ia menyusun dan menghaluskan makhluk dengan memperlihatkan tatanan, neraca, dan sejumlah manfaat. Setelah itu, Ia memperlihatkan nama-nama-Nya yang terdapat dalam makhluk seolah-olah makhluk merupakan untaian kata. Makna, air, dan benih dari nama tersebut merupakan penghadiran, sementara rangkumannya merupakan pengetahuan.
Ia menyebutkan seluruh bagian materi yang beradaptasi dan berubah-ubah lalu merangkumnya lewat sejumlah nama yang menyeluruh, bercahaya, dan permanen.
Ia menghamparkan makhluk yang banyak, luas, dan tersebar. Setelah itu, ia meletakkan berbagai wujud kesatuan di atasnya sebagai sisi keesaan.
Dengan memperlihatkan tujuan dari berbagai akibat, ia memperlihatkan jauhnya jarak antara sebab dan akibat yang secara lahiriah bersambung. Hal ini sebagaimana hubungan antara cakrawala dan langit dalam pandangan lahiriah. Padahal jarak antara keduanya sangat mencengangkan. Pasalnya, sebab yang paling besar sekalipun tidak memiliki kemampuan sendiri untuk memikul akibat yang paling ringan. Nah, dengan memperlihatkan jarak tersebut Alquran menerangkan tempat kemunculan nama-nama itu dan tempat terbitnya.
Ia kadang juga menyebutkan aktivitas makhluk lalu memberikan ancaman. Setelah itu, ia menghibur dengan nama-nama yang menunjukkan rahmat-Nya. Di sisi lain ia menyebutkan sejumlah maksud tertentu lalu menetapkan dengan nama-Nya sebagai prinsip umum dan petunjuk atasnya.
Ketahuilah! Kelemahan ibarat cinta. İa jalan yang mengantarkan kepada Allah; bahkan merupakan jalan yang paling dekat dan paling selamat. Kemudian para ahli suluk meniti jalan ketersembunyian di atas sepuluh kelembutan serta jalan keterlihatan di atas tujuh jiwa. Kelemahan ini diraih dari Alquran sebagai jalan yang singkat dan lurus. İa berupa empat langkah:
Langkah pertama seperti yang ditunjukkan oleh ayat, “Jangan merasa diri kalian bersih.”
Langkah kedua, seperti yang ditunjukkan oleh ayat, “Jangan seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga mereka dibuat lupa kepada diri mereka sendiri.”
Langkah ketiga seperti yang ditunjukkan oleh ayat, “Kebaikan yang menimpamu berasal dari Allah, sementara keburukan yang menimpamu berasal dari dirimu.”
Langkah keempat seperti yang ditunjukkan oleh ayat, “Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya.”
Penjelasan dari ayat-ayat di atas adalah sebagai berikut:
Sesuai dengan karakternya manusia mencintai dirinya sendiri. Bahkan, tidak ada yang ia cintai kecuali dirinya. Karena itu, manusia memuji diri dengan pujian yang hanya layak dimiliki sesembahan. Ia membela diri dengan hebat dan membersihkannya dari segala aib tanpa mau menerima segala kekurangan semampu mungkin. Sehingga seakan-akan ia mengalihkan perangkat yang tercipta untuk memuji Tuhan dan untuk menyucikan-Nya kepada dirinya sendiri. Kondisinya sama seperti orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. Karena itu, di sini ia harus dibersihkan dengan cara tidak mengaku bersih.
No Voice