Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 235
(1-357)
Kedua, lupanya diri dalam melakukan tugas dan pengabdian serta kecenderunganya yang demikian kuat dalam mendapat upah dan bagian, hanya bisa dibersihkan dengan kebalikannya. Yaitu tidak lupa pada sesuatu yang dilupa.
Ketiga, manusia melihat dirinya cacat, kurang, lemah, dan miskin. Ia melihat semua kebaikan sebagai nikmat yang berasal dari Penciptanya yang harus disyukuri bukan disombongkan. Karena itu, cara membersihkannya adalah dengan mengetahui bahwa kesempurnaan diri terwujud dalam ketidaksempurnaannya, kekuatannyanya terwujud dalam kelemahannya, serta kecukupannya terwujud dalam kekurangannya.
Keempat, pemahaman bahwa dirinya dalam pengertian formal bersifat fana, lenyap, baharu, dan tiada. Sementara, dalam pengertian harfiyah dan sebagai cermin nama Penciptanya ia menjadi saksi yang disaksikan, dan entitas yang dihadirkan. Cara penyuciannya adalah dengan kesadaran bahwa ketidaannya terdapat dalam keberadaannya, keberadaannya terdapat dalam ketiadaannya, serta wiridnya adalah “milik-Nya segala kekuasaan dan pujian.”
Dalam hal ini, penganut paham wihdatul wujud berpendapat bahwa peniadaan entitas adalah dengan menafikan wujudnya, sementara penganut wihdatusy syuhud memandang terhalangnya entitas dalam penjara kelalain mutlak.
Adapun yang kupahami dari konsep Alquran adalah: ia bersih dari peniadaan dan keterhalangan. Namun, entitas dipergunakan untuk memperlihatkan nama-nama-Nya yang mulia sebagai manifestasi dan cermin-Nya dalam pengertian harfiyah, serta ia dibebaskan dari pengabdian dalam pengertian formal dan untuk dirinya.
Kemudian manusia dalam wujudnya merupakan gabungan sejumlah wilayah yang saling bercampur dan ciptaan yang saling bertumpuk. Pasalnya, ia adalah tumbuhan, hewan, manusia, dan mukmin. Hubungan untuk proses penyucian bisa terjadi pertama-tama pada tataran iman yang keempat. Lalu, ia turun kepada sisi tumbuhan yang mempunyai sifat perlawanan cukup kuat. Hubungan pada semuanya bisa terjadi pada sehari semalam. Di antara yang dipahami secara salah oleh manusia adalah tidak adanya perbedaan antara seluruh tataran tersebut dengan berkata, “Dia menciptakan semua yang terdapat di bumi untuk kita.” Pertama-tama ia keliru dengan mengira bahwa manusia hanya terbatas pada perutnya yang berisi tumbuhan dan hewan. Lalu keliru ketika melihat bahwa tujuan segala sesuatu terbatas pada sesuatu yang kembali kepada dirinya. Ia juga keliru ketika menakar nilai sesuatu dengan ukuran sejauh mana manfaat yang bisa diambil darinya.
Ketahuilah! Ubudiyah (penghambaan) merupakan hasil dan harga dari nikmat sebelumnya; bukan pendahuluan atau sarana dari ganjaran berikutnya.
Wahai manusia, engkau telah mengambil upahmu. Pasalnya, Dia menciptamu demikian dalam bentuk yang terbaik. Kemudian Dia memperkenalkan diri kepadamu dengan mempersembahkan iman.
Ketiga, manusia melihat dirinya cacat, kurang, lemah, dan miskin. Ia melihat semua kebaikan sebagai nikmat yang berasal dari Penciptanya yang harus disyukuri bukan disombongkan. Karena itu, cara membersihkannya adalah dengan mengetahui bahwa kesempurnaan diri terwujud dalam ketidaksempurnaannya, kekuatannyanya terwujud dalam kelemahannya, serta kecukupannya terwujud dalam kekurangannya.
Keempat, pemahaman bahwa dirinya dalam pengertian formal bersifat fana, lenyap, baharu, dan tiada. Sementara, dalam pengertian harfiyah dan sebagai cermin nama Penciptanya ia menjadi saksi yang disaksikan, dan entitas yang dihadirkan. Cara penyuciannya adalah dengan kesadaran bahwa ketidaannya terdapat dalam keberadaannya, keberadaannya terdapat dalam ketiadaannya, serta wiridnya adalah “milik-Nya segala kekuasaan dan pujian.”
Dalam hal ini, penganut paham wihdatul wujud berpendapat bahwa peniadaan entitas adalah dengan menafikan wujudnya, sementara penganut wihdatusy syuhud memandang terhalangnya entitas dalam penjara kelalain mutlak.
Adapun yang kupahami dari konsep Alquran adalah: ia bersih dari peniadaan dan keterhalangan. Namun, entitas dipergunakan untuk memperlihatkan nama-nama-Nya yang mulia sebagai manifestasi dan cermin-Nya dalam pengertian harfiyah, serta ia dibebaskan dari pengabdian dalam pengertian formal dan untuk dirinya.
Kemudian manusia dalam wujudnya merupakan gabungan sejumlah wilayah yang saling bercampur dan ciptaan yang saling bertumpuk. Pasalnya, ia adalah tumbuhan, hewan, manusia, dan mukmin. Hubungan untuk proses penyucian bisa terjadi pertama-tama pada tataran iman yang keempat. Lalu, ia turun kepada sisi tumbuhan yang mempunyai sifat perlawanan cukup kuat. Hubungan pada semuanya bisa terjadi pada sehari semalam. Di antara yang dipahami secara salah oleh manusia adalah tidak adanya perbedaan antara seluruh tataran tersebut dengan berkata, “Dia menciptakan semua yang terdapat di bumi untuk kita.” Pertama-tama ia keliru dengan mengira bahwa manusia hanya terbatas pada perutnya yang berisi tumbuhan dan hewan. Lalu keliru ketika melihat bahwa tujuan segala sesuatu terbatas pada sesuatu yang kembali kepada dirinya. Ia juga keliru ketika menakar nilai sesuatu dengan ukuran sejauh mana manfaat yang bisa diambil darinya.
Ketahuilah! Ubudiyah (penghambaan) merupakan hasil dan harga dari nikmat sebelumnya; bukan pendahuluan atau sarana dari ganjaran berikutnya.
Wahai manusia, engkau telah mengambil upahmu. Pasalnya, Dia menciptamu demikian dalam bentuk yang terbaik. Kemudian Dia memperkenalkan diri kepadamu dengan mempersembahkan iman.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence