Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 237
(1-357)
Ketahuilah! Sebagaimana raja memiliki sejumlah tanda kekuasaan yang beragam di berbagai wilayah, lapisan rakyat, tingkatan kekuasaan, dan tugas-tugas kepemimpinannya laksana entitas yang hadir, disaksikan, dan menatap pada semua wilayah dan di balik seluruh hijab lewat wakil dan hukum pemerintahannya. Demikian pula dengan Allah. Dia memiliki perumpamaan yang paling mulia. Zat Pemilik nama-nama mulia tersebut memiliki manifestasi pada setiap alam dengan tanda salah satu nama-Nya yang mulia yang nama tersebut disertai oleh seluruh nama lainnya. Demikian pula, Dia mengatur pada setiap tingkatan baik secara keseluruhan maupun bagian dengan manifestasi khusus dalam rububiyah yang khusus-Nya lewat berbagai wujud nama tertentu. Dengan kata lain, Dia tampak padanya dengan karakteristik yang seolah-olah khusus untuknya meski bersifat umum dan meliputi semua.
Dalam sejumlah tingkatan rububiyah-Nya Allah memiliki berbagai sifat yang berhadapan, pada setiap taman uluhiyah-Nya Dia memiliki nama-nama yang yang saling berpantulan, pada cermin kemurahan-Nya Dia memiliki tampilan yang berbeda, pada aktivitas qudrat-Nya Dia memiliki tanda yang beraneka ragam, pada diversifikasi ciptaan-Nya Dia memiliki rububiyah yang saling mengitari wujud keesaan di atas bagian-bagian wilayah ketuggalan-Nya sebagaimana hakikat agung dan luas ini ditunjukkan dalam al-Jawsyan al-Kabir. Munajat ini meliputi sembilan puluh sembilan untaian dan sebuah kerangka. Masing-masing berisi dua belas permata tauhid baik secara eksplisit maupun implisit. Pasalnya, jika satu nama diseru dengan satu gambaran mutlak dalam kedudukan tertentu, hal itu menunjukkan sifat tersebut hanya terbatas padanya. Misalnya, “Wahai Yang Mahakekal”. Artinya, wahai yang tidak ada yang abadi di alam ini kecuali Dia. Allah Swt. memiliki sejumlah hijab cahaya hingga berjumlah tujuh puluh ribu seperti disebutkan dalam riwayat. Karena adanya sejumlah celah dalam hijab tersebut, kemiripan dalam hal sifat, bayangan dalam hal nama, ketercampuran dalam wujud tampilan, keterpaduan dalam tanda, kesamaan dalam penampakan, kerjasama dalam pengenalan, kolaborasi dalam hal rububiyah, manifestasi keesaan dalam cakupan ketunggalan-Nya, maka bagi yang mengenal-Nya dalam satu nama yang disebutkan sudah pasti tidak akan mengingkari-Nya dalam keseluruhan. Sebaliknya, dapat dipahami secara otomatis bahwa Dia adalah Dia.
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk terbaik.
Ketahuilah di antara keajaiban integralitas fitrah manusia adalah Tuhan Yang Maha Bijaksana memasukkan ke dalam lautan kecil tersebut neraca yang tak terhingga banyaknya untuk mengukur simpanan rahmat-Nya yang tak terbatas. Dia juga memasukkan ke dalamnya perkakas dengan perangkat maknawinya yang tak terhitung guna memahami perbendaharaan nama-Nya yang tak terkira.
Lihatlah kesepuluh inderamu bagaimana ia mencakup beragam alam audio ,visual, rasa, dan lainnya. Dia juga memberikan padanya bagian-bagian sifat dan kondisi yang berupa kehendak, pengetahuan, pendengaran, dan yang lain guna memahami sifat-sifat-Nya yang komprehensif dan demikian luas. Dia membalut egonya dengan sejumlah balutan sebanyak alam dan ragamnya agar ia bisa mengenal kondisinya dengan perangkat halus tersebut.
Dalam sejumlah tingkatan rububiyah-Nya Allah memiliki berbagai sifat yang berhadapan, pada setiap taman uluhiyah-Nya Dia memiliki nama-nama yang yang saling berpantulan, pada cermin kemurahan-Nya Dia memiliki tampilan yang berbeda, pada aktivitas qudrat-Nya Dia memiliki tanda yang beraneka ragam, pada diversifikasi ciptaan-Nya Dia memiliki rububiyah yang saling mengitari wujud keesaan di atas bagian-bagian wilayah ketuggalan-Nya sebagaimana hakikat agung dan luas ini ditunjukkan dalam al-Jawsyan al-Kabir. Munajat ini meliputi sembilan puluh sembilan untaian dan sebuah kerangka. Masing-masing berisi dua belas permata tauhid baik secara eksplisit maupun implisit. Pasalnya, jika satu nama diseru dengan satu gambaran mutlak dalam kedudukan tertentu, hal itu menunjukkan sifat tersebut hanya terbatas padanya. Misalnya, “Wahai Yang Mahakekal”. Artinya, wahai yang tidak ada yang abadi di alam ini kecuali Dia. Allah Swt. memiliki sejumlah hijab cahaya hingga berjumlah tujuh puluh ribu seperti disebutkan dalam riwayat. Karena adanya sejumlah celah dalam hijab tersebut, kemiripan dalam hal sifat, bayangan dalam hal nama, ketercampuran dalam wujud tampilan, keterpaduan dalam tanda, kesamaan dalam penampakan, kerjasama dalam pengenalan, kolaborasi dalam hal rububiyah, manifestasi keesaan dalam cakupan ketunggalan-Nya, maka bagi yang mengenal-Nya dalam satu nama yang disebutkan sudah pasti tidak akan mengingkari-Nya dalam keseluruhan. Sebaliknya, dapat dipahami secara otomatis bahwa Dia adalah Dia.
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk terbaik.
Ketahuilah di antara keajaiban integralitas fitrah manusia adalah Tuhan Yang Maha Bijaksana memasukkan ke dalam lautan kecil tersebut neraca yang tak terhingga banyaknya untuk mengukur simpanan rahmat-Nya yang tak terbatas. Dia juga memasukkan ke dalamnya perkakas dengan perangkat maknawinya yang tak terhitung guna memahami perbendaharaan nama-Nya yang tak terkira.
Lihatlah kesepuluh inderamu bagaimana ia mencakup beragam alam audio ,visual, rasa, dan lainnya. Dia juga memberikan padanya bagian-bagian sifat dan kondisi yang berupa kehendak, pengetahuan, pendengaran, dan yang lain guna memahami sifat-sifat-Nya yang komprehensif dan demikian luas. Dia membalut egonya dengan sejumlah balutan sebanyak alam dan ragamnya agar ia bisa mengenal kondisinya dengan perangkat halus tersebut.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence