Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 239
(1-357)
Ketahuilah! Sebagaimana orang yang memanam benih di ladangnya dengan mengisi semua dengan benih yang ada meskipun kecil, berarti telah membuat ladang tersebut terjaga dan terlindung sehingga tidak bisa lagi ditanami oleh yang lain sehingga benih tadi ibarat pagar yang tak terlihat, demikian pula dengan semua spesies tumbuhan dan hewan yang ditanam dan terhampar di ladang bumi di mana ia bertebaran di sebagian besar permukaannya. Semua itu merupakan pagar yang mencegah adanya sekutu, penjaga yang mengusir pihak lain, serta pelindung yang menolak segala ilusi. Apalagi semuanya saling menguatkan dan mengokohkan dengan kemunculan berbagai bukti secara berantai.
Ketahuilah! Kadangkala Allah ingin agar dalam taman dan kebun-Nya yang tertata terlihat pula gambaran padang pasir yang tak tertata, bebatuan dan kelokakannya yang berantakan di mana hal itu justru untuk memperlihatkan kehalusan tatanan-Nya. Kadangkala Dia mencipta di antara tatanan kebun-Nya batu-batu goa dengan pahatan yang tidak rapi. Dalam hal ini, kesempurnaan tatanannya justru terletak pada ketidakteraturannya. Orang yang cermat memahami bahwa penataan dalam bentuk yang tidak teratur tersebut memang disengaja oleh Sang Panata Yang Mahabijak.
Demikian pula berbagai bentuk padang pasir yang tak beraturan, gunung, dan bukit yang bebatuannya sangat berantakan sebagaimana terlihat di antara makhluk-makhluknya yang teratur rapi. Semua itu membuat pikiran yang bodoh berpandangan kalau ia tercipta secara kebetulan. Padahal, ia tertata lewat bentuknya yang tidak teratur dan tampak berantakan karena sengaja dibuat demikian oleh Sang Pencipta Yang Mahabijak dan Maha Mengetahui dengan bukti bahwa ia dikelilingi oleh semua hal yang teratur rapi sama seperti untaian mutiara yang tertata di sekitar permata yang bertebaran untuk memperlihatkan keteraturan ciptaan.
Juga, sebagaimana untuk memperlihatkan kegelapan yang pekat kepada makhluk-Nya yang bersinar. Lihatlah pepohonan berduri, tumbuhan yang disiapkan dengan sejumlah durinya untuk mengusik pihak yang memakannya. Dari sana engkau bisa melihat keteraturan menakjubkan dalam ketidakteraturannya, serta kelembutan yang luar biasa dalam kekasarannya. Di antara tanda bahwa sesuatu yang tidak teratur itu sengaja diatur oleh Sang Pencipta Yang Mahabijak adalah ketidaksamaan antara bentuk yang satu dengan lainnya sehingga seolah-olah masing-masing merupakan spesies sendiri yang khusus terdapat pada individu tersebut padahal jenisnya sama dan melewati sebab-sebab keselarasan. Ketidakselarasan dan ketidaksamaan tersebut menjadi bukti bahwa ia tidak terwujud secara kebetulan.
Ketahuilah! Di antara karakteristik integralitas fitrah manusia dan di antara keistimewaannya dibandingkan hewan yang lain adalah pemahamannya terhadap penghormatan makhluk kepada Sang Pemberi kehidupan. Dengan kata lain, sebagaimana ia memahami ucapan diri sendiri, dengan pendengaran iman ia juga memahami semua ucapan makhluk hidup, bahkan benda mati yang bertasbih. Masing-masing mereka secara lahiri hanya memahami ucapannya sendiri layaknya pembicara tuli. Adapun manusia, ia bisa berbicara dan mendengar. İa mendengar dalam luasnya penglihatan. Yakni, pada saat bersamaan ia bisa mendengar berbagai dalil nama-Nya yang mulia yang diucapkan oleh sejumlah entitas. Nilai dari masing-masingnya seukuran dirinya. Sementara, nilai manusia mukmin seukuran keseluruhan. Ia entitas yang menyerupai spesies bahkan menyerupai sejumlah spesies. Wallahu a’lam.
No Voice