Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 242
(1-357)
Hal itu juga berlaku pada berbagai persoalan besar yang penting. Pandangan keduanya terhadap entitas tidak seperti pandangan disiplin ilmu filsafat dan olah akal manusia. Namun, ia seperti orang yang memperkenalkan kepadamu sebuah kreasi agar mengenal Penciptanya. Ciptaan berada dalam genggaman-Nya. Ia perlihatkan padamu bagian dalamnya, lembarannya, balutannya, serta tujuan perangkatnya menurut Penciptanya. İa juga mengajarimu sebuah kitab berikut makna dan petunjuknya. Sementara, perumpamaan manusia dan filsafatnya sama seperti orang yang memperkenalkan kepadamu sebuah ciptaan yang jauh jangkauan dan pemahamanmu. Pandanganmu hanya bisa sampai ke kulit luarnya tanpa pernah tembus ke dalamnya. Ia diktekan kepadamu berbagai persoalan superfisial laksana bisikan yang sama sekali tidak mengenyangkan dan memuaskan. Ia seperti orang asing yang gagap yang sama sekali tidak bisa berbahasa Arab namun memiliki pengetahuan tentang korelasi lukisan dan gambar. Ia mengajarimu buku batu-batuan yang disepuh emas lewat penjelasan mengenai kesesuaian lukisan huruf, cara menggambarkannya, serta posisi satu dengan yang lain. Demikianlah di antara bentuk keburukan yang lemah dan formalistik.

Jika demikian adanya, jangan jadikan standar ilmu manusia sebagai ukuran bagi hakikat keduanya.[1] Jangan mengukur keduanya dengan ukurannya. Sebab, gunung yang kokoh tidak bisa ditimbang dengan timbangan permata yang langka. Jangan berusaha memberikan legitimasi terhadap keduanya dengannya lewat cara menjadikan hukum buminya sebagai pembenar bagi rambu-rambu langit. Urgensi sesuatu sesuai dengan kadar nilainya.

Ketahuilah![2] Wahai yang mendapat ujian terus-menerus, jangan kau cerai beraikan pasukan dan kekuatan kesabaranmu dalam menghadapi apa yang telah lalu hingga hari ini, bahkan hingga saat ini. Pasalnya, hari-hari yang pedih dan telah pergi itu menyusul barisan pasukanmu di mana ia berubah menjadi kenikmatan maknawi dan pahala ukhrawi. Demikian pula jangan kau cerai beraikan kesabaranmu dalam menghadapi masa mendatang, bahkan kondisimu sekarang. Pasalnya, ia masih tidak ada dan berada dalam genggaman kehendak-Nya. Kumpulkan semua kekuatan kesabaranmu dan pasukannya pada hari ini dan pada saat sekarang ini dengan memperkuat kekuatan maknawiyahmu sehingga bisa menyusul pasukan bencana dan musuh menuju pasukanmu dengan cara merubahnya menjadi sesuatu yang dicinta. Hal ini tentu harus disertai dengan sikap tawakkal kepada Sang Pemilik Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Bijaksana dalam menghadapi apa yang akan datang. Jika hal itu kau lakukan kesabaranmu yang paling lemah sekalipun mampu menghadapi musibah yang paling besar.
---------------------------------------------
[1] Yakni bagi hakikat Alquran dan penerimanya, Muhammad saw. Penjelasan tentang persoalan ini terdapat dalam kalimat kedua belas
[2] Penjelasan tentang persoalan ini terdapat dalam kalimat kedua puluh satu.
No Voice