Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 243
(1-357)
Ketahuilah! Karena keterbatasan pemahaman, apa yang berasal dari sumber hikmah dan kebenaran seringkali dianggap berasal dari imajinasi berlebihan dan dugaan semata.

Misalnya, disebutkan dalam riwayat, “Andaikan dunia di sisi Allah setara dengan sayap nyamuk, tentu orang kafir tidak akan bisa meminumnya meski hanya seteguk.”[1] Maksud dari hadits adalah bahwa dunia lahiri yang terbayang dalam cermin kehidupanmu yang fana dan panjangnya usiamu yang bersifat sementara tidak sampai seukuran sayap nyamuk dari alam keabadaian. Sebagaimana benih yang kekal lewat proses tumbuh kembang mengalahkan tumpukan jerami yang cepat hilang karena berserakan. Setiap orang dari dunia yang merupakan wujud manifestasi nama-nama-Nya yang mulia dan ladang akhirat ini memiliki dunianya sendiri. Jika melihat kepada dunianya secara harfiyah lalu dipergunakan untuk sesuatu yang abadi, maka dunia tadi memiliki nilai yang besar. Namun jika tidak, karena ia fana ia tidak bisa menyamai nilai satu atom yang kekal. Hal ini bisa diqiyaskan kepada sejumlah riwayat yang berisi ganjaran beberapa zikir yang tidak bisa diukur dengan akal.

Ketahuilah di antara bukti bahwa hukum kehidupan adalah tolong-menolong bukan perseteruan seperti dugaan para filosof sesat dan menyesatkan adalah tidak adanya perlawanan dari tanah yang keras dan batu yang padat bagi kemunculan urat batang tumbuhan yang halus dan lembut. Bahkan kalbu batu yang keras menjadi lembut oleh sentuhan telunjuk tunas-tunas tumbuhan dan tanah membuka dadanya bagi kemunculan batang tumbuhan.

Ya, kerjasama antar entitas berikut mentari dan bulannya untuk kepentingan hewan, cepatnya tumbuhan dalam memberikan rezeki hewan, serta perlombaan antara bahan-bahan nutrisi untuk memberikan rezeki kepada buah, terhiasinya buah untuk menarik perhatian makhluk, kerja sama antar partikel dalam rangka memberikan nutrisi sel tubuh, semua itu merupakan bukti kuat bahwa hukum dasarnya adalah kerja sama. Sementara, perseteruan hanyalah hukum parsial di antara satu kelompok hewan yang zalim.

Ketahuilah! Di antara petunjuk tauhid yang paling jelas adalah kemudahan yang mutlak dan terlihat jelas. Sementara, dalam persekutuan, segala sesuatu, terutama makhluk hidup menuntut seluruh yang dibutuhkan untuk semua. Maka, beban yang terdapat pada setiap individu adalah beban bagi semua yang terdapat di alam karena setiap individu menuntut semua beban keseluruhan secara kuantitatif.

Ketahuilah wahai nafsu ammarah! Engkau tetap dicurigai terkait dengan keinginanmu yang paling baik. Pasalnya, kadangkala engkau merindukan urusan akhirat, namun dalam pengertian harfiyah. Yakni, agar dunia tidak mencekikmu lewat kefanaannya, kerinduan terhadap akhirat muncul guna menghibur pedihnya fana. Maka, sungguh celaka perhatianmu yang demikian rendah itu. Bagaimana engkau merubah penguasa abadi sebagai pelayan bagi sesuatu yang hina dina dan sementara?! Engkau membuat pondokan untuk tempat tinggal sejumlah hewan dalam satu malam dengan pilar-pilar yang dilapisi permata yang kau ambil dari balik istana raja yang abadi.[2] Engkau menghancurkan istana tersebut dan memakan buah sorga abadi sebelum matang di kebun palsu ini.
-------------------------------
[1] H.R. at-Tirmidzi 2422. Tuhfatul Ahwadzi. Menurut Tirmidzi, hadits tersebut dari sisi ini shahih gharib.
[2] Artinya, bagaimana engkau meremehkan akhirat, dengan menjadikannya sebagai pelayan dunia?! Engkau membangun bangunan sementara bagi tempat singgah sejumlah binatang –syahwat—dengan sejumlah pilar berlapis emas milik raja di akhirat yang kau curi.
No Voice